Duda Tampan Haus Belaian

Duda Tampan Haus Belaian
ruang meeting


__ADS_3

ceklek. dwi menyalakan sakelar lampu ruangan utama yang tampak gelap. tiba-tiba pandangannya terkunci kepada azka yang sedang duduk santai di sofa seraya menatap tajam kearah nya.


"dari mana saja kamu?" tanya azka dengan tatapan dinginnya.


"aku habis main." jawab dwi.


"main? apa kamu itu seorang anak kecil?" cetus azka. "jawab dengan benar, kamu habis dari mana?" tanyanya.


"dari club."


"untuk apa?" tanya azka.


"untuk menghibur diri lakh, apa lagi?"


"terus, apa sekarang kamu sudah merasa senang?" tanya azka dengan raut wajah yang datar.


merasa di interogasi dwi pun mulai marah. "kamu kenapa sikh? jangan menanyakan hal-hal yang gak bermutu seperti itu, aku tidak suka." bentaknya.


"gak bermutu kamu bilang? baik, aku akan menanyakan hal yang akan membuatmu senang." ucap azka. " berapa laki-laki yang tidur denganmu malam ini? dan berapa uang yang kamu dapatkan setelah kamu bisa memenuhi has*rat mereka?" tanyanya.


dwi tampak mengepalkan tangannya saat mendengar pertanyaan itu dari azka. rasanya dia ingin sekali mencabik-cabik mulut sampah azka. namun dia berusaha untuk menahannya.


azka menoleh kearah tangan yang di kepalkan dwi, dia tahu kalau dwi sedang menahan amarahnya.


"mengapa diam saja? apa kamu sedang menghitung berapa jumlah uang yang sudah kamu dapatkan malam ini?" azka terus memancingnya.


takut tak bisa mengendalikan amarahnya, dwi pun bergegas ke kamarnya. namun ternyata azka mengejarnya.


"pergilah! jangan menggangguku, aku lelah dan ingin beristirahat." ucap dwi.


"aku tidak akan pergi sebelum kamu menjawab semua pertanyaanku." tolak azka.


dwi menatap tajam kepada azka. " aku yakin, sepertinya malam itu memang tidak terjadi apa-apa antara aku dengan dia. kalau memang waktu itu aku sudah melakukan hubungan in*tim dengannya, seharusnya dia tahu, kalau aku wanita baik-baik, tidak seperti apa yang dia tuduhkan." batinnya.


"jangan menatapku seperti itu." tutur azka.


dwi tak menghiraukan ucapan azka, dia mengambil pakaian ganti, lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. tak lama kemudian dia keluar dari kamar mandi dengan mengenakan baju kimono yang sedikit transparan. lalu diapun mengeringkan rambutnya yang masih basah. azka terpaku melihat kecantikan dwi yang terlihat natural tanpa sentuhan make-up sedikitpun.


"kenapa masih disini?" tanya dwi.


"apa kamu sungguh-sungguh tidak ingin menjawab pertanyaanku?"


dwi tampak mendengus kesal seraya menatap tajam wajah azka. "sini ikut aku..." dwi menarik pergelangan tangan azka dan membawanya masuk kedalam kamar mandi.

__ADS_1


"kenapa kamu membawaku kesini?" tanyanya. "aku tahu, pasti kamu merasa kurang puas dengan mereka." ucap azka seraya mengangkat kedua alisnya.


seketika dwi langsung menyalakan shower lalu menyiram wajah azka.


"hai, apa yang kamu lakukan?" teriak azka dia pun merebutnya dari dwi.


"balikin sini? aku akan mencuci otak kotor mu itu sebersih mungkin." paparnya.


"apa kamu sudah gila?" azka kembali merebut shower itu dari tangan dwi. namun lagi-lagi dwi merebutnya kembali. hingga pakaian yang dikenakan mereka kini basah kuyup.


"sudah stop!" teriak azka lalu membasuh wajahnya. dwi akhirnya menghentikannya.


"aku tidak terima kamu terus menuduhku seperti itu!" sentak dwi. "aku akan membatalkan kontrak perjanjian kita, dan aku akan menggugat ceraimu." tegas dwi.


dwi pun hendak keluar dari kamar mandi namun karena kurang berhati-hati akhirnya dia pun terpeleset. refleks azka langsung menahan pinggang dwi agar tidak terjatuh.


"apa kamu baik-baik saja?" tanya azka seraya menatapnya.


"singkirkan tanganmu dari tubuhku." sentak dwi.


"tidak tahu terima kasih." gumam azka, dia pun langsung melepaskan dwi sehingga kini diapun terjatuh.


"aaa..." pekiknya seraya memegangi pinggulnya. "dasar brengsek!"


"akh sialan! punggungku terasa remuk." tuturnya seraya berusaha untuk bangkit. saat ingin keluar tiba-tiba azka menghalangi jalannya.


"menyingkir, jangan halangi jalanku." pinta dwi.


"kamu tidak bisa membatalkan kontrak perjanjian kita secara sepihak."


"memangnya kenapa? bukan hanya kamu saja yang muak denganku. aku juga merasa muak kepadamu." cibir dwi.


"kalau kamu membatalkan kontrak kita. maka orangtua ku akan kembali menjodohkan ku dengan wanita lain."


"itu urusanmu bukan urusanku." tegasnya. "minggir." dwi mendorong kuat tubuh azka, dia pun merebahkan tubuhnya di ranjang.


***


sekitar pukul 08:56 dwi keluar dari kamar. dia pergi ke dapur untuk mengambil air putih, lalu kemudian duduk di meja makan. seketika pandangannya terkunci kepada pintu kamar azka.


"apa dia sudah berangkat kerja?" batinnya pun bertanya. dwi berdiri dari duduknya lalu mendekati kamar azka. saat dia memegang gagang pintu dan hendak membukanya, ternyata kamar itu di kunci.


"sialan! pintunya di kunci." gerutu dwi. "tapi aku penasaran sama isi kamarnya." gumamnya.

__ADS_1


drrtttt...


tiba-tiba handphone nya bergetar pertanda ada pesan yang masuk. dwi segera membaca isi nya.


"**file ku ketinggalan di meja ruang tengah, apa kamu bisa membawakan nya untuk ku?" isi pesan dari azka.


dwi pun membalasnya. "maaf aku sedang sibuk**."


tak lama kemudian ponselnya berdering. dwi menoleh nama si pemanggil (si brengsek) dia pun mengabaikannya. nomer itu menghubungi nomer dwi hingga berkali-kali. dwi akhirnya mengangkatnya.


"*ada apa?" tanya dwi setelah dia mengangkatnya.


"file ku ketinggalan di meja. dan aku tidak punya waktu untuk kembali ke apartemen." jelas azka lewat sambungan telepon.


"sudah ku bilang, kalau aku sedang sibuk."


"jangan banyak alasan! aku tahu, kamu lagi duduk santai."


"ekh..." dwi langsung celingukan, karena heran kenapa azka bisa mengetahuinya.


"cepat antar file nya sekarang, kalau tidak aku akan memotong uang bulanan mu." pungkas azka lalu menutup teleponnya.


"kamu tidak bisa..." dwi menggantung ucapannya saat sadar kalau azka telah memutus sambungan teleponnya. "aishh sialan! bisa nya cuma ngancam." umpatnya*.


***


"mbak aku mau ketemu sama azka." ucap dwi to the point pada resepsionis.


"maaf bu, tapi pak azka nya sedang melakukan meeting dan tidak bisa di ganggu."


"aku ini istrinya, masa tidak di ijinkan untuk bertemu dengannya? lagi pula aku datang kesini atas perintahnya." jelas dwi.


"tetep saja bu. kami tidak bisa mengijinkan ibu, tanpa perintah dari pak azka langsung."


dwi merasa sedikit geram dengan sikap resepsionis itu, karena tidak mengijinkannya untuk masuk.


"bu dwi." sapa edwin. "kenapa ibu ada disini?" tanyanya.


"aku ingin memberikan file azka yang ketinggalan di apartemen."


"kalau gitu ibu ikut saja denganku." ucap edwin.


dwi mengekori edwin dan masuk kedalam ruang meeting nya. dia menjadi pusat perhatian karena memakai kemeja putih yang sedikit terbuka, serta memakai rok mini dengan belahan yang begitu menggoda.

__ADS_1


__ADS_2