
riko menatap dalam wajah dwi yang menurutnya begitu sangat menggemaskan ketika dwi terlihat kebingungan.
"ayo kak, kita masuk..." ajak ica seraya menarik tangan kakaknya.
ica tampak gembira menikmati setiap wahana permainan yang ada disana.
"apa kamu senang?" tanya riko kepada ica.
ica mengangguk dengan senyum yang berseri-seri.
"kalau kamu mau, besok kita bisa kesini lagi." ucap riko.
"sungguh kak?" ica tampak antusias.
"tentu saja." jawab riko.
"tidak bisa ca. besok kakak sibuk." ucap dwi.
"sibuk apa? biasanya kakak tidak ngapa-ngapain selain berantem sama kak azka." ucap ica. seketika riko langsung tersenyum menyeringai lalu membuang pandangannya.
"em, ca sini ikut kakak." dwi menarik ica agar menjauh dari riko. "ca, kamu tidak boleh bicara seperti itu di depan kak riko."
"memangnya kenapa kak?"
"walau bagaimanapun kak azka itu suami kakak, dan dia itu kakak iparmu. kamu tidak boleh menjelekkannya di depan kak riko."
"ica tidak menjelekan kak azka. kak dwi dan kak azka memang sering berantem kan kalau lagi di rumah." ucap ica dengan polosnya.
"tetap saja, kamu tidak boleh mengatakan itu di depan kak riko."
"memangnya kenapa kak?" ica mengulang pertanyaannya.
"pokoknya kamu jangan bahas soal pertengkaran kak azka dan kakak di depan kak riko. mengerti?"
kali ini ica mengangguk.
"kakak ingin ke toilet dulu. kakak titip tas kakak ya? ingat jangan kemana-mana sampai kakak kembali." pinta dwi seraya menyerahkan tasnya kepada adiknya.
setelah dwi pergi, riko pun menghampiri ica. "kakak mu mau kemana?" tanyanya.
__ADS_1
"kak dwi ingin ke toilet." jawabnya.
"ica mau main apa lagi sekarang?" tanya riko seraya membungkukkan badannya menatap ica.
"ica belum naik komedi putar." jawabnya.
riko pun memangku tubuh kecil ica dan memainkannya. "sini tasnya? biar kak riko yang pegang." pinta riko.
"kak riko tidak ikut naik?" tanya ica.
"tidak. kakak akan menunggumu di kursi sana." ucap riko seraya menunjuk. "pegangan yang erat ya? jangan sampai jatuh." ucapnya kemudian meninggalkan ica tak jauh dari tempatnya.
riko duduk di kursi. dia menoleh kearah tas yang ada di tangannya. karena penasaran diapun membukanya.
"surat lamaran? apa dwi sedang mencari pekerjaan?" batinnya. tiba-tiba handphone dwi berdering, seketika riko langsung memicingkan senyumannya lalu mengangkatnya.
"*jam berapa sekarang? kenapa kamu belum pulang juga?" tanya azka dari balik sambungan telepon.
"stt... jangan berisik! dwi sedang tidur." ucap riko bernada pelan*.
deg. azka terkejut saat mengetahui kalau saat ini dwi sedang bersama laki-laki lain. terlebih laki-laki itu sendiri yang mengangkat telepon darinya.
"aku adalah orang yang tidak penting untuk kamu ketahui! tapi aku adalah orang yang berarti di kehidupan dwi." ucap riko memanas-manasi azka.
"sialan! cepat berikan handphone itu pada dwi." sentak azka.
"apa kamu pikir aku bodoh? kamu bisa mengganggu momen kebersamaanku bersama istrimu, jika aku memberikan handphone ini padanya. selama ini kamu terus menikmati kebersamaan dengan dwi. tapi malam ini, dwi akan menjadi milikku." ucap riko lalu mematikan sambungan teleponnya*.
seketika azka teringat kalau itu suara riko. dia pun melacak keberadaan dwi dan segera menyusulnya.
"dasar bodoh." umpat riko. diapun menghapus riwayat panggilan azka dari handphone dwi dan mematikan handphone nya. tidak ingin dwi mencurigainya, dia pun memberikan kembali tas dwi kepada ica.
"ca, kita pulang yuk?" ajak dwi yang tiba-tiba kembali.
ica turun lalu menghampiri kakaknya.
"kenapa terburu-buru?" tanya riko.
"ini sudah larut, ica harus segera tidur." ucap dwi berpura-pura.
__ADS_1
"tapi kak, ica belum mengantuk." jawab ica.
"apa kamu dengar? sepertinya ica belum ingin pulang." ucap riko.
"ca, kita harus pulang sekarang. kalau tidak, kak azka pasti akan mencemaskan kita." ucap dwi.
ica pun akhirnya menuruti ucapan kakaknya. dwi menuntun tangan ica berjalan keluar area pasar malam.
"apa kamu yakin kalau azka mencemaskanmu?" pertanyaan riko menghentikan langkah kakinya. "dari tadi aku tidak melihatmu mengangkat telepon darinya? apa dia tidak menghubungimu?" tanyanya tengah berbohong. karena jelas-jelas tadi dia sendiri yang menerima telepon dari azka.
"mungkin azka lagi sibuk." ucap dwi seraya membelakangi riko tanpa menoleh kearahnya.
"sibuk? sesibuk apa suamimu itu? sehingga dia tidak punya waktu untuk memperdulikanmu."
"dasar bodoh! dari tadi aku terus memikirkannya, tapi apa dia pernah memikirkan aku juga? bahkan dia tidak peduli meskipun aku belum pulang walau sudah larut malam." pikir dwi dalam hatinya.
dwi berbalik arah memutar balik badannya. "ica, kalau kamu masih ingin bermain, bermainlah. kakak tidak akan memaksamu untuk segera pulang." ucap dwi tiba-tiba.
"bagus. kamu sudah termakan jebakanku." batin riko tersenyum menatap dwi.
saat ica ingin berlari menuju wahana permainan, tiba-tiba riko menghadangnya. "tunggu ca. sebaiknya kita pulang." ujar riko. "walaupun aku bukan siapa-siapa kalian, tapi aku peduli kepada kalian." lanjutnya seraya menoleh kearah dwi dan ica secara bergantian.
"tapi kak, ica masih ingin bermain disini." ucap ica.
"kakak sudah berjanji. kapanpun kamu mau, kakak pasti akan membawamu ke tempat ini lagi." ucap riko.
ica langsung memeluk erat tubuh riko, karena saking senangnya. riko pun membalas pelukannya. dwi tampak memperhatikan keduanya, bagaimana bisa ica semudah itu bisa akrab dengan riko. namun melihat kegembiraan di wajah adik bontotnya itu, membuat dwi bisa sedikit melupakan sakit hatinya terhadap azka.
"sekarang kita pulang ya? kalian harus beristirahat di rumah." ucap riko yang di balas oleh anggukkan keduanya.
sesampainya di apartemen, dwi tidak menemukan keberadaan azka. "selarut ini, dia masih belum pulang juga." batinnya. dia pun membersihkan badannya terlebih dulu sebelum tidur. dwi tidak tahu kalau azka sedang mencarinya.
sekitar pukul 23:45 azka kembali ke apartemen, dia sedikit lega saat melihat keberadaan dwi yang sudah tampak tertidur pulas. banyak pertanyaan yang mengiang-ngiang di pikirannya. namun dia tidak ingin mengganggu tidur dwi dengan cara membangunkannya.
keesokan paginya. dwi membuka mata lalu beranjak dari tempat tidur. saat dia berjalan menuju pintu kamar mandi, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka dan tampak azka sedang mengusap-usap kepalanya dengan handuk kecil berusaha untuk mengeringkannya.
glek. dwi menelan ludahnya secara kasar. meskipun ini bukan kali pertama baginya melihat tubuh sixpack azka, bahkan dia sudah sering melihatnya. namun pemandangan itu terasa indah baginya dan enggan untuk memalingkan penglihatannya.
"apa kamu sudah bangun?" tanya azka berbasa-basi.
__ADS_1
"apa kamu tidak melihatnya." jawab dwi sedikit ketus tanpa menoleh kearahnya. dia pun segera masuk ke kamar mandi.