
Beberapa bulan kemudian kehamilan Dwi semakin membesar, sehingga dia pun memutuskan untuk risign dari perusahaan dimana tempatnya bekerja. Setiap bulan Azka rutin mengantarnya untuk cek kehamilan ke Dokter kandungan, dan kabar itu pun terdengar ketelinga Viona, sehingga dia bertekad untuk kembali memisahkan kedekatan antara Dwi dan Azka.
Pagi itu, tepatnya pukul 09:10. Disaat keadaan rumah Nek Eva sedang sepi, Viona datang menghampiri Dwi yang sedang duduk santai didepan rumahnya.
"Viona! ngapain kamu kesini?" Tanya Dwi yang menohok melihat kedatangannya.
Viona mengamati bentuk tubuh Dwi dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. "Sudah cukup lama kita tidak bertemu, bagaimana kabarmu?" Tanyanya berbasa-basi.
"Pergilah! kehadiran mu disini hanya mengganggu pemandangan ku." Decak Dwi begitu sinis.
"Ck." Umpat Viona. "Aku dengar hubungan mu dengan Azka sudah mulai membaik?" Tanyanya.
"Bukan urusan mu!" Ketus Dwi seraya membuang muka.
"Tentu saja sekarang itu sudah menjadi urusan ku! karena anak yang kamu kandung itu mempunyai Ayah yang sama, dengan anak yang sekarang aku kandung." Ucapnya berbohong.
"Apa?" Dwi terkejut.
"Kenapa? Apa kamu terkejut?" Tanya Viona tersenyum licik. "Asal kamu tahu, setelah kamu memutuskan untuk pergi meninggalkan Azka, dia datang kepelukan ku dan mencurahkan semua has-rat terpendam nya padaku." Lanjutnya.
"Ck. Itu tidak mungkin!" Sinis Dwi. Dia pun mengamati bentuk tubuh Viona yang memang berubah, seperti seseorang yang sedang mengandung. "Tapi biar pun kamu hamil, aku yakin anak itu bukanlah anak Azka! karena perempuan jalaang sepertimu bisa tidur dengan siapa saja." Desah Dwi seraya menatap penampilan Viona dengan cara merendahkan.
__ADS_1
"Sialan!" Umpat Viona. "Kalau kamu memang tidak percaya! aku punya buktinya, kalau aku memang benar-benar sedang mengandung anak Azka." Viona pun menyerahkan beberapa Poto saat dirinya sedang tidur satu ranjang dengan Azka.
Dwi melihat-lihat semua poto yang ditunjukkan Viona kepadanya, kemudian dia menyunggingkan senyumannya. "Apa kamu pikir aku akan percaya setelah aku melihat Poto ini? aku tahu betul kalau kamu itu perempuan licik!" Ujar Dwi seraya menatap wajah Viona dengan penuh kebencian.
"Ku pikir hanya keluarga mu saja yang bodoh, karena mau menerima lagi seorang laki-laki penghianat seperti Azka! tapi ternyata kamu memang jauh lebih bodoh dari keluarga kamu karena-..."
"Cukup!" Sentak Dwi memotong pembicaraannya. "Jangan pernah mengatai keluarga ku bodoh! karena disini yang benar-benar bodoh itu kamu." Dwi menunjuk wajah Viona. "Kamu menjadi seorang perempuan yang tidak tahu malu dan rendahan hanya karena seorang laki-laki." Bentak Dwi.
"Cikh. Setidaknya aku tidak munafik sepertimu." Viona pun mendorong tubuh Dwi, sehingga membuatnya nyaris jatuh. Untung tiba-tiba Sindi datang dan menahannya.
"Kamu gak apa-apa?" Tanya Sindi terlihat mencemaskannya, yang di balas gelengan kepala oleh Dwi. Sindi pun memintanya untuk duduk dikursi depan rumahnya.
Sindi mendekati Viona, lalu mendorong pundaknya. "Berani-beraninya kamu berbuat kasar kepada sepupu ku! dasar pelakor." Sentak Sindi.
"Jangan ikut campur! ini bukan urusan mu." Ujar Viona.
"Tentu saja ini urusan ku juga! kamu gak dengar apa yang tadi telah aku katakan? kalau Dwi itu sepupu ku. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitinya." Tegas Sindi.
"Sebaiknya aku pulang saja! perempuan ini kelihatan lebih bar-bar dari pada Dwi." Batin Viona. Dia pun segera meninggalkan tempat itu.
Dwi dan Sindi menatap kepergian Viona dengan sinisnya, hingga bayangannya pun menghilang dari pandangan mereka. Sindi pun duduk disamping Dwi, dan mencari tahu apa yang terjadi. Lantas Dwi pun memberitahunya.
__ADS_1
"Menurutku, sebaiknya kamu jangan percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan oleh Viona. Karena bisa saja ini hanya akal-akalan dia untuk merusak hubungan kedekatan kamu dengan Azka." Pinta Sindi kepada Dwi.
Dwi tertegun mendengar ucapan Sindi. Meskipun antara dirinya dan Azka belum ada status yang pasti tentang bagaimana kelanjutan hubungan mereka! namun tidak bisa dipungkiri, kalau selama beberapa bulan terakhir Dwi merasa nyaman saat Azka perhatian kepada dirinya dan janin yang ada didalam perutnya.
"Wi, sebaiknya kita masuk kedalam." Ajak Sindi, seraya memapah Dwi menggiringnya masuk kerumah.
"Kamu gak kerja?" Tanya Dwi, setelah Sindi mendudukkannya di atas tempat tidur.
"Sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku kasih tahu sama kamu." Ujar Sindi lalu membaringkan tubuhnya ditempat tidur.
"Apa?" Tanya Dwi.
"Sebenarnya aku sudah diangkat menjadi sekretaris Pak Farhan." Jawab Sindi berterus terang.
"Kok bisa? bukannya kamu sendiri yang bilang, kalau Pak Farhan itu laki-laki mata keranjang." Tanya Dwi yang heran dengan keputusan yang diambil oleh Sindi. Padahal sebelumnya Sindi bertekad untuk menolak tawaran dari Pak Farhan tersebut. "Kamu gak kasih tubuh kamu sama Pak Farhan kan?" Tanyanya lagi menelisik.
"Ya enggak lah! kamu pikir aku gila apa?!" Sinis Sindi yang tidak terima dengan tuduhan Dwi terhadapnya. "Aku kan sudah bilang sama kamu! cukup si brengsek Riko saja yang berhasil menyentuh tubuh ku, dengan semua rayuan busuk dan tipu dayanya." Jelasnya.
"Sudah berapa lama kamu menjadi sekretarisnya?" Tanya Dwi.
"Baru juga kemarin." Sahutnya. Sindi menoleh kearah jarum jam yang ada ditangannya. "Sudah siang! aku harus segera kekantor." Lanjutnya. Sindi menoleh kepada Dwi, dan mengingatkannya untuk tidak terlalu memikirkan ucapan Viona. Semenjak mengenal dekat Edwin, pandangan Sindi terhadap Azka kini berubah. Sindi yang awalnya menentang Keras agar Dwi tidak memberi kesempatan kedua untuk Azka, kini malah seperti men-suport hubungan keduanya.
__ADS_1