Duda Tampan Haus Belaian

Duda Tampan Haus Belaian
DTHB 79


__ADS_3

Di dalam kamar. Viona bergulat dengan hati dan pikirannya ketika mendengar pengakuan Edwin, yang mengatakan ingin menikahi Sindi. "Edwin itu hanya mencintai aku! dia tidak mungkin dengan mudahnya berpaling hati pada wanita lain, apalagi pada wanita seperti Sindi. Itu tidak mungkin." Gumamnya seraya menggigit ujung ibu jarinya.


Tak lama kemudian Viona pun memutuskan untuk pergi kerumah Edwin, dan berniat untuk bermalam disana.


Saat pintu rumahnya diketuk, dengan cepat Edwin bergegas membuka pintu. "Bu Viona!" Tutur Edwin ketika dia telah membuka pintunya.


Viona langsung menyelonong masuk. "Malam ini aku ingin tidur disini!" Ujarnya seraya berjalan menuju kamar Edwin, yang diikutinya.


"Tengah malam begini, ngapain Bu Viona datang kesini? apa Bu Viona ada masalah?" Tanya Edwin, menatap wajah Viona penuh dengan keingin tahuan.


"Aku tidak bisa tidur." Ujarnya, kemudian menatap lekat wajah Edwin.


"Kenapa?" Tanya Edwin dengan nada yang sangat lembut.


"Apa kamu serius ingin menikahi Sindi, walaupun status kalian masih berteman?" Tanyanya. "Kamu itu belum tahu karakternya Sindi gimana, bisa saja dia itu bukan wanita baik-baik."

__ADS_1


"Aku percaya kalau dia itu gadis yang baik, dan aku juga merasa nyaman ketika bersamanya." Jawab Edwin.


"Kamu jahat Win! kamu berniat untuk menikahi wanita lain, padahal kamu sudah menodaiku, bahkan sekarang aku sedang mengandung anak kamu." Lirih Viona.


"Bukan aku yang jahat. Tapi kamu!" Sahut Edwin, seraya menatap nanar wajah Viona. "Kamu tahu betul, dulu perasaan aku ke-kamu itu seperti apa! tapi kamu malah terus-menerus mengharapkan cinta Azka, yang sama sekali tidak pernah mencintaimu. Dan parahnya lagi, kamu membuat skenario seakan-akan anak yang ada didalam kandungan kamu itu anak Azka, dan secara tidak langsung kamu telah berusaha memisahkan aku dengan darah dagingku sendiri."


"Jadi karena itu kamu ingin menikahi perempuan itu? meskipun kamu tidak mencintainya." Desah Viona.


"Siapa bilang aku tidak mencintainya? dari pertama kali aku mengenalnya aku sudah jatuh hati padanya." Ujar Edwin. "Cuma waktu itu perasaan aku terhadap mu jauh lebih besar dari pada Sindi." Jelas Edwin.


"Untuk apa Bu Viona menanyakan itu? karena pada kenyataannya Bu Viona juga tidak akan pernah bisa membalas perasaanku." Jawab Edwin, seraya menyingkirkan tangan Viona dari wajahnya.


"Meskipun begitu, tapi aku tidak rela kamu menikah dengan wanita lain, karena aku masih sangat membutuhkan kamu. Jika kamu sudah menikah, nantinya pasti akan ada batasan diantara kita berdua."


"Apa Bu Viona tidak sadar dengan apa yang Bu Viona katakan barusan? secara tidak langsung kamu mengatakan kalau kamu tidak ingin melihat aku bahagia. Jahat sekali anda!" Ujar Edwin.

__ADS_1


"Bukan gitu maksudku Win, tolong jangan salah paham."


"Mulai saat ini aku minta, tolong berjaga jarak denganku." Pinta Edwin. "Malam ini kamu boleh menginap disini, biar aku tidur dihotel." Lanjutnya.


Viona menohok mendengar ucapan dari Edwin, dan saat Edwin melangkahkan kakinya untuk pergi, dengan cepat Viona menahan lalu memeluknya. "Maafkan aku Edwin! aku hanya tidak mau kamu menikah dengan wanita manapun, termasuk Sindi." Viona semakin erat memeluknya.


"Berarti kamu memang egois! kamu ingin hidup bahagia dengan Mas Azka, tapi tidak mau melihatku bahagia dengan Sindi." Edwin menaikan nada bicaranya.


"Bukan gitu maksud aku Win!"


"Lalu apa?" Sentak Edwin. Dia sudah tidak bisa bicara secara baik-baik lagi, karena ucapan Viona sudah benar-benar melukai perasaannya.


"Bisakah kamu menikahi Sindi setelah Azka menikahi aku? biar aku tidak terlalu merasakan kehilanganmu Win?" Lirihnya. "Sambil menunggu, kamu bisa meyakinkan hati! apakah kamu memang benar-benar mencintai Sindi, atau dia hanya sekedar pelarian mu saja." Lanjutnya.


"Aku sudah cukup lama mengenalnya! dan soal perasaan, aku tidak pernah main-main." Sahut Edwin.

__ADS_1


__ADS_2