
"azka kamu sudah datang." sapa viona yang sudah sedari tadi menunggu kedatangannya.
"viona, kamu ngapain disini?" tanya azka, dia pun sekilas menoleh kearah pakaiannya yang tampak sedikit terbuka di belahan dadanya. azka pun melemparkan pandangannya kearah lain.
"hari ini aku ulang tahun, kamu mau kan temani aku jalan-jalan keluar?" tanyanya antusias.
"sorry viona, hari ini aku lagi sibuk." jawab azka, menolaknya dengan halus.
"bentar saja aku mohon?" rengeknya.
"tapi vi-..." belum selesai azka bicara viona sudah keburu menarik tangan lalu menggandengnya.
di parkiran viona melempar konci mobilnya kepada azka, refleks azka langsung menangkapnya.
"kamu yang bawa mobil." ucap viona. mau tidak mau azka pun hanya bisa mengikuti kemauannya, karena merasa tidak enak dengan pak bagas, owner hotel tempatnya bekerja jika menolak keinginan putri semata wayangnya.
di dalam mall viona terus menggandeng tangan azka dan enggan melepaskannya meskipun azka beberapa kali memintanya.
"azka baju ini sepertinya cocok untukmu." ujar viona seraya menempelkan baju itu di tubuh azka, namun azka menepisnya.
"bukannya tadi kamu bilang ingin membeli gaun?" tanya azka.
"gak apa-apa, sekalian aku ingin membelikan baju ini juga untukmu."
"tidak perlu! aku tidak membutuhkannya, lebih baik segera selesaikan belanjamu, biar kita bisa segera ke hotel.
"baiklah." viona tersenyum masam.
"mas tolong bungkus pakaian ini." ucap viona.
"baik mbak." ucap mas-mas kasir.
saat viona ingin memberikan kartu rekeningnya, dengan cepat azka mendahuluinya. "pake rekening saya saja mas." ucap azka.
seketika viona tersenyum, dia tidak menyangka kalau azka akan membelikannya.
"anggap saja itu sebagai hadiah ulang tahun mu." ucap azka setelah membayarnya.
saat akan keluar mall viona melihat dwi dan ica baru saja turun dari taxi dan hendak masuk kedalam mall. viona tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia pun berpura-pura terjatuh sehingga azka menangkap tubuhnya.
"apa kamu tidak apa-apa?" tanya azka menatap dalam kepadanya.
"kaki ku terkilir, dan rasanya sakit sekali." rengeknya tengah berbohong.
"oh jadi ini yang kamu lakukan di belakangku?" ucap dwi, dia pun meminta ica untuk masuk kedalam mall terlebih dulu.
__ADS_1
"dwi, kamu salah paham. ini tidak seperti apa yang kamu bayangkan." ucap azka.
"aku menyesal karena sudah percaya sama kamu." sentak dwi kepada azka.
"kakinya viona terkilir, dan aku berniat untuk menolongnya. tidak lebih." azka berusaha meyakinkan dwi agar mau mempercayainya.
dwi menoleh dan menatap sinis kepada viona. "oh jadi kakinya terkilir ya, sini aku lihat, biar aku patahin sekalian." ucap dwi seraya menarik kaki viona.
"lepasin! dasar perempuan gila." bentak viona.
"dwi cukup! apa yang kamu lakukan? apa kamu ingin mempermalukan aku di muka umum?" ujar azka.
"apa kamu bilang? aku mempermalukan mu? justru kamu yang telah mempermalukan diri sendiri. kamu sudah menikah, ngapain kamu jalan sama lon*te yang ada di sampingmu ini." sentak dwi.
"kurang ajar!". plak! viona langsung menampar wajah dwi. "ku pikir hanya penampilan mu saja yang kampungan, ternyata mulutmu juga sampah." maki viona.
"viona, apa yang kamu lakukan." azka berdiri di tengah-tengah antara keduanya.
"setidaknya penampilan kampunganku ini dapat memikat hati azka. dari pada kamu? lihat penampilanmu yang menjijikan ini, azka bahkan sedikitpun tidak tertarik dengan mu." timbal balik dwi.
"sialan! kesini kamu, biar ku robek mulut sampahmu itu." sentak viona.
dwi mendorong tubuh azka lalu meraih ujung kepala viona lalu menjambaknya. viona membalas sehingga keduanya saling berjambak-jambakan.
"dasar lon*te." teriak dwi.
azka berusaha melerai perkelahian antara mereka, namun azka malah menjadi sasaran kemarahan dwi, beberapa kali dwi tampak membogem wajah azka. sehingga pipinya kini tampak kebiru-biruan.
beberapa saat kemudian satpam datang untuk melerai perkelahian keduanya.
"ada apa ini? kenapa kalian bikin keributan disini?"
"maaf pak. cewek kampungan ini yang mulai duluan." ucap viona kepada satpam mall.
"enak saja, justru dia pak yang mulai duluan." dwi membela diri.
"sudah cukup. sebaiknya kalian cepat pergi dari sini." ucap satpam itu.
azka mendengus kesal dengan kelakuan dua wanita yang ada dihadapannya. dia menarik tangan dwi. "ikut aku." azka mendorong tubuh dwi agar masuk kedalam taxi yang di ikuti oleh dirinya.
"azka, kok aku di tinggal." teriak viona. namun azka tampak tak memperdulikannya.
"jalan pak." ucap azka kepada sopir taxi.
"sialan! ini semua gara-gara dwi. lihat saja, aku akan membuatmu menyesal karena telah berani mempermalukan aku." gumam viona, menatap tajam kepergian taxi yang di tumpangi azka dan dwi.
__ADS_1
"kenapa kamu tidak bisa mengontrol diri? seharusnya kamu tidak melakukan itu tadi." ucap azka.
"menurutmu, aku harus melakukan apa sama orang-orang yang tidak tahu diri seperti kalian?" ujar dwi. "semalam kamu mengatakan kalau kamu mencintaiku, dan berusaha meyakinkan agar aku percaya padamu. tapi apa yang barusan aku lihat? kamu sudah merusak kepercayaanku." lanjutnya.
"reaksimu itu terlalu berlebihan. aku mengenal viona jauh sebelum aku mengenalmu. kalau aku mau, aku bisa saja menikahinya jika aku tertarik dengannya. tapi nyatanya aku lebih memilihmu sebagai pendampingku walaupun sikapmu itu terkadang menjengkelkan." decah azka.
"berhenti pak." teriak dwi kepada sopir taxi. taxi pun akhirnya berhenti.
"dwi mau kemana kamu?" teriak azka saat melihat dwi keluar dari taxi yang mereka tumpangi. saat azka turun dan ingin mengejarnya namun seketika dia teringat kalau secepatnya dia harus segera kembali ke kantor. niatnya pun urung, dia kembali masuk kedalam taxi.
**
"dasar laki-laki bajingan! brengsek! gak tahu diri! tukang bohong!" dwi terus mengutuk azka. saking kesalnya kepada azka, dia sampai lupa kalau tadi dia pergi ke mall bersama ica. "lebih baik aku pulang saja, kasihan i-..." belum selesai menyelesaikan ucapannya dwi terhentak kaget saat menyadari kalau ica tertinggal di mall sendirian. dia segera naik taxi menuju mall itu kembali.
"hiks... hiks... kakak." ica menangis tersedu-sedu di pos satpam.
riko baru saja memarkirkan mobilnya. langkahnya terhenti saat dia melihat seseorang anak kecil yang duduk di pos satpam, namun kemudian dia mengabaikannya.
"adek jangan nangis lagi, nanti bapak akan bantu cari. memangnya kakak ade siapa namanya?"
"kak dwi." ucap ica seraya terus menangis dan mengucek matanya.
seketika riko langsung menghentikan langkah kakinya. "dwi?" riko pun menghampiri ica lalu mengamati raut wajahnya. "sedikit mirip." gumamnya.
"apa bapak mengenal anak ini?" tanya satpam.
"ya. sepertinya aku mengenalnya." ucap riko. "apa aku bisa membawanya?" tanyanya.
"sebentar pak." ucap satpam. "adek, apa adek mengenal bapak ini?" tanyanya kepada ica. ica menggelengkan kepalanya.
"maaf, anda tidak bisa membawanya. karena anak ini tidak mengenali anda." ujar satpam.
riko membungkukkan tubuhnya selaras dengan ica. "apa nama kakak mu dwi jelita?" tanyanya.
"dari mana om tahu?" tanya ica.
"karena dwi itu temanku." jawab riko. "dan satu lagi, jangan panggil aku om. aku ini seumuran dengan azka." ucap riko.
"om kenal juga sama kak azka?" tanya ica.
riko mengangguk. "jangan panggil om. panggil kakak saja ya?" pinta riko.
"iya kakak." ujar ica. dia pun menoleh kepada satpam yang sedari tadi menjaganya. "pak aku ingin ikut sama kakak ini."
"baiklah. tolong antarkan dia pada keluarganya." ucap satpam.
__ADS_1
"tentu saja." ucap riko yang memicingkan senyumannya.