
cafe.
Benar saja. Dwi memesan makanan yang banyak sehingga membuat Sindi menohok. "Wi, serius kamu pesan makanan sebanyak ini? gimana cara kita ngabisin nya?"
"Tenang saja sin, kalau kamu gak sanggup untuk menghabiskan semua makanan ini, aku sanggup kok menghabiskannya sendirian." Ucap Dwi dengan percaya diri.
Sindi bergidik mendengar ucapan Dwi, seketika diapun melirik postur tubuh Dwi. "Wi, kayaknya bukan hanya pipi kamu aja yang cabi, tapi tubuh kamu sekarang juga agak gemukan." Ucap Sindi.
"Enggak akh, orang aku masih kurus dan seksi." Ucapnya seraya memakan fried chicken yang ada ditangannya.
"Sikap kamu makin lama makin aneh deh semenjak bercerai dengan Azka. Atau jangan-jangan kamu memang belum bisa move on dari dia?"
"Apaan si Sin... Gak usah bawa-bawa Azka deh. Nafsu makan ku gak ada hubungannya dengan dia." Ucap Dwi sedikit ngegas.
Sindi pun terdiam lalu kemudian menoleh kearah laki-laki dan wanita yang baru saja masuk kedalam cafe. "Ekh Wi, coba lihat disana..." Pinta Sindi seraya mengisyaratkan dengan matanya agar Dwi mau melihat kearah pintu. "Itu bukannya asistennya Azka ya? dia jalan sama siapa tu?"
__ADS_1
"Viona." Gumam Dwi. "Kok bisa Edwin jalan sama dia?" Lanjutnya.
"Kamu kenal sama wanita itu?" Tanya Sindi.
"Tentu saja. Dia adalah orang yang sudah merusak rumah tanggaku dengan Azka sehingga kita harus bercerai." Jelas Dwi, menatap nanar wajah Viona dari jarak yang cukup jauh.
"Jadi dia pelakor yang sudah merusak rumah tangga kamu?!" Ucap Sindi. "Tidak bisa aku biarkan, aku harus melabrak pelakor gak tahu diri itu." Ucap Sindi lalu berdiri. Namun saat dia ingin menghampiri Viona, dengan cepat Dwi menarik tangannya.
"Sin, mau apa kamu?" Dwi yang mencengkram kuat pergelangan tangan sepupunya.
"sudahlah Sin, itu gak perlu! lagi pula aku sudah bercerai dengan Azka. Jadi untuk apa kita ributkan soal ini lagi." Ucap Dwi.
"Tapi gara-gara dia kan, akhirnya kalian bercerai." Ujar Sindi.
"Tapi nyatanya Viona dan Azka itu sama saja! kita tidak bisa salahkan salah satu dari mereka." Ucap Dwi. "Udahlah mendingan sekarang kamu duduk saja! gak usah samperin mereka." Pinta Dwi.
__ADS_1
Sindi pun akhirnya menuruti permintaan Dwi.
"Tapi ngapain ya mereka berduaan disini? apa sebenarnya mereka sedang menunggu Azka?" Batin Dwi pun bertanya-tanya.
_
"Edwin aku mohon sama kamu? jangan pernah kamu bocorkan kejadian semalam kepada siapapun! termasuk Azka." Pinta Viona.
Edwin terdiam, belum merespon permintaan dari anak owner tempat dimana dia bekerja.
Viona menggenggam tangan Edwin dan meminta pengertiannya. "Edwin, kamu mau kan menuruti permintaan aku, untuk tidak membocorkan kejadian semalam kepada siapapun?" Viona mengulangi ucapannya.
"Baik Bu. Aku tidak akan membocorkan kejadian semalam! termasuk kepada Pak Azka." Ucap Edwin dengan nada yang sangat berat.
"Terima kasih Edwin. Kamu memang laki-laki yang baik." Ucap Viona dengan raut wajah yang berbinar, karena lega dengan jawaban dari Edwin. "Kalau begitu, aku pergi dulu ya." Ucap Viona, kemudian pergi meninggalkan Edwin yang tampak kebingungan.
__ADS_1
Dari jauh, Dwi tampak memperhatikan keduanya. Meskipun dia tidak dapat mendengar apa yang sedang Edwin dan Viona bicarakan, tapi Dwi dapat melihat jelas bagaimana gerak-gerik dan bahasa tubuh keduanya. "Viona menggenggam tangan Edwin? apa mereka berpacaran? lalu bagaimana dengan Azka? apa Viona dan Azka sudah putus? atau diam-diam Viona mengkhianati Azka dibelakangnya, seperti apa yang sudah Azka lakukan kepadaku sebelum kita berpisah?" Batin Dwi terus bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi. "Meskipun aku pernah dikhianati oleh Azka, tapi aku tidak mau dia dikhianati juga oleh Viona." Lanjutnya dalam hati.