Duda Tampan Haus Belaian

Duda Tampan Haus Belaian
DTHB 77


__ADS_3

Azka membawa Viona kedokter kandungan, untuk memastikan kehamilan Viona itu bohong. Dan Azka terkejut saat melihatnya secara langsung, janin yang ada kandungan Viona dari hasil USG.


Keluar dari rumah sakit, raut wajah Azka tampak pucat. Bagaimana bisa Viona mengaku hamil anaknya, sementara dia sendiri tidak tahu pasti apa yang terjadi saat itu, karena kondisinya yang tidak sadar.


"Tolong jawab pertanyaan ku dengan benar! apa anak yang ada didalam kandungan mu itu benar-benar anakku?" Tanya Azka disela-sela perjalanan menuju rumah Viona.


"Kurasa aku tidak perlu menjawabnya! memangnya kamu pikir aku mau melakukan itu dengan laki-laki lain yang tidak aku cintai? bukankah kamu tahu betul betapa terobsesinya aku sama kamu, sampai-sampai aku nekat memberikan tubuhku agar kamu mau menikahi aku." Ucapnya berbohong.


Azka membasuh wajahnya secara kasar. Di tengah-tengah perjalanan Azka hampir saja menabrak seseorang, dengan cepat dia pun turun untuk memastikan kalau perempuan yang diserempet nya itu tidak apa-apa.


"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Azka panik.


"Aku gak apa-apa." Jawabnya, seraya mengangkat kepala menatap wajah Azka. "Kamu!" Gumamnya.


"Sindi, ayo bangun." Azka membantunya untuk berdiri.


"Kalian kok bisa-..." Sindi menggantung ucapannya di-tenggorokan.


Viona langsung memeluk tangan Azka. "Kita habis periksa kandungan." Sahut Viona tanpa rasa malu. Namun Azka perlahan menyingkirkan tangannya.


"Ck. Kayak yang iya saja, kalau anak yang ada didalam perutmu itu beneran anaknya Azka." Sinis Sindi.


"Lutut kamu terluka. Sebaiknya kita ke rumah sakit." Ujar Azka.


"Tidak perlu! lagi pula ini hanya luka kecil." Tolak Sindi, namun dengan ekspresi yang tampak sedang menahan sakit.


Azka mendudukkan Sindi dibangku halte bus. "Sebentar ya, aku ambil obat P3K dulu." Ucap Azka. Dia pun mengambil kotak obat, namun saat ingin mengobati luka Sindi, Viona melarangnya karena dia cemburu dan tidak ingin Azka menyentuhnya.


"Biarkan saja dia mengobati luka nya sendiri! yang sakit kan lututnya, tangannya masih baik-baik saja." Ketus Viona.


Tak lama kemudian Edwin datang, saat Azka menghubunginya. Karena yang Azka tahu, Edwin saat ini sedang dekat dengan Sindi.

__ADS_1


"Biar aku saja yang mengobati mu." Ucap Edwin, seraya mengambil kotak obat yang ada ditangan Sindi.


"Gak apa-apa Win, aku bisa sendiri kok." Ucap Sindi, karena tidak ingin merepotkan nya.


"Sudah diam saja." Pinta Edwin. Dia tampak sangat mengkhawatirkan keadaan Sindi, dan begitu telaten mengobati lukanya.


"Edwin tampaknya sangat mengkhawatirkannya! apa jangan-jangan dia itu pacarnya Edwin? tapi kok Edwin gak pernah cerita kalau dia sudah punya pacar! aku pikir dia masih mencintaiku." Batin Viona, yang tidak suka melihat kedekatan Edwin dengan Sindi.


Azka menatap heran wajah Viona, saat melihat ekspresinya ketika melihat Edwin dan Sindi yang terlihat begitu dekat. Sindi dan Edwin bahkan saling melemparkan senyuman dengan tatapan yang tak biasa. "Sebagai permintaan maaf ku, bagaimana kalau kita ke 'Dwi rindu' untuk makan siang? dan kalian boleh makan apapun sesuka hati kalian." Tutur Azka.


"Tadi kita sudah makan, baru setengah jam yang lalu. Iya kan Win?" Sindi menoleh kepada Edwin.


"Iya." Jawab Edwin singkat.


"Sebagai gantinya, kalau kita nonton aja gimana?" Tanya Azka.


"Nonton? sudah lama banget aku gak main ke bioskop." Seru Sindi.


"Ya udah kalau kamu memang gak mau, kan kamu bisa pulang! tapi maaf aku gak bisa nganterin." Ketus Azka.


"Mas Azka ketus banget sama Bu Viona, kasihan juga dia." Batin Edwin, menatap wajah Viona.


Sindi melingkarkan tangan di lengan Edwin. "Tapi Win, kamu mau kan temani kita? biar aku gak dikacangin gitu sama mereka." Sindir Sindi, seraya menoleh kepada Azka dan Viona bergantian.


"Tentu!" Edwin tersenyum manis padanya.


Saat berada dalam bioskop Sindi dan Edwin terlihat bahagia dan menikmati kebersamaan mereka. Berbeda dengan Azka yang terlihat begitu cuek dan tidak memperdulikan keberadaan Viona yang duduk disampingnya. Bahkan saat Viona ingin mencairkan suasa dengan bersikap lembut dan perhatian kepada Azka, Azka malah menolaknya.


Viona menoleh kepada Edwin. "Kini aku mengerti, kenapa sikap Edwin akhir-akhir ini berubah sama aku! mungkin karena perempuan yang cantiknya gak seberapa ini." Batin Viona, seraya menatap sinis kepada Sindi.


Selesai nonton, mereka pun makan malam. Karena tidak terasa waktu berlalu begitu cepat.

__ADS_1


"Sin, kamu cobain makanan punyaku?" Ucap Edwin, seraya menyuapkan satu sendok makanan kedalam mulut Sindi. "Gimana rasanya?" tanyanya, setelah Sindi menerima suapannya.


"Enak!" Ucap Sindi. "Apalagi kalau kamu yang nyuapin." Celetuknya keceplosan. Dan ketika dia sadar, dia pun meminta maaf. "Maaf, maksud aku, semua makanan yang ada disini memang enak." Ralatnya, dengan wajah yang merah karena menahan malu.


Edwin tersenyum. "Kamu tahu gak, apa yang menjadikan makanan ini begitu special?" Tanyanya.


"Tempatnya bagus, dan makanannya juga enak plus mahal." Ucap Sindi, dengan mulut yang penuh dengan makanan yang sedang dia kunyah.


Sementara Azka dan Viona tampak serius mengamati guyonan kedua pasangan yang tampaknya sedang dimabuk asmara.


"Yang menjadikan tempat ini begitu special itu karena ada aku dan kamu, sehingga menjadi kita." Ujar Edwin.


"Apaan si Win, garing banget tahu gak!" Ucap Sindi mengulum senyumannya.


"Kok garing si? ini aku lagi usaha, kok malah dikatain garing si." Desah Edwin sambil tersenyum getir. "Ternyata aku memang tidak pandai merayu wanita, pantas saja aku selalu ditolak." Lanjutnya.


"Edwin pasti sengaja, dia pasti hanya ingin memanas-manasi aku. Kamu pikir aku akan cemburu apa, melihat kedekatan kalian! jangan ngarep Win, jangan ngarep, kamu." Batin Viona.


Azka dari tadi diam-diam terus memperhatikan Viona. Dan Azka tahu, kalau Viona tidak suka melihat kedekatan antara Edwin dan Sindi.


Sindi lagi-lagi tersenyum. Dia pun mengambil makanan yang ada dipiringnya untuk menyuapi Edwin. "Sekarang kamu coba makanan ku?" Pinta Sindi.


"Aku gak bisa makan makanan pedas." Ujar Edwin, sehingga membuat Sindi kecewa, karena mengira kalau Edwin beralasan untuk menolak suapannya.


"Edwin pasti sengaja menolak suapan dari perempuan ini! kasihan sekali, padahal tadi dia sudah percaya diri banget untuk menyuapi Edwin." Batin Viona, menatap sinis kepada Sindi.


Namun sesaat kemudian Edwin membuka mulut dan menerima suapan dari Sindi, sehingga membuat Sindi menohok saat Edwin mendekatkan wajah dan menyantap sendok yang dipegangnya. Namun sesaat kemudian Edwin malah terbatuk-batuk, dan segera menenggak air yang ada dihadapannya.


"Edwin kamu baik-baik saja?" Tanya Sindi terlihat panik.


Wajah Edwin kini berubah merah. Karena dia itu orang yang sensitif dengan yang namanya pedas. Dia bahkan tidak bisa memakan saus.

__ADS_1


__ADS_2