Duda Tampan Haus Belaian

Duda Tampan Haus Belaian
DTHB 69


__ADS_3

***


Edwin memberi tahu Azka tentang kabar Viona, yang sempat dibawa kerumah sakit gara-gara luka ditangannya. Awalnya Azka menolak untuk datang kerumah Edwin, namun akhirnya dia mengiyakannya setelah Edwin memohon kepadanya.


"Bagaimana? Azka mau kan datang kesini?" Tanya Viona, setelah Edwin menutup sambungan teleponnya dengan Azka.


"Iya." Sahut Edwin bernada pilu. Melihat raut wajah Edwin yang tampak muram, dengan cepat Viona menghiburnya.


"Heii... Kenapa muka kamu kok sedih gitu?" Tanyanya bernada sangat lembut. "Aku janji, setelah kita berhasil menjebak Azka. Aku tidak akan pernah melupakan kamu dan semua kebaikanmu." Lanjutnya.


Namun Edwin tak bergeming. Dia merasa bersalah karena mencoba untuk menjerumuskan Azka.


"Edwin..." Viona mengunci pandangan Edwin agar menatapnya. "Kamu sayang kan sama aku? kamu cinta kan sama aku?" Tanyanya, yang dibalas anggukan kecil oleh Edwin. "Kalau kamu benar-benar cinta sama aku, seharusnya kamu mau berkorban apa saja untukku." Tuturnya. Viona pun mendekatkan wajahnya kepada Edwin, lalu kemudian menciumnya. Kali ini Edwin tak membalas ciumannya, sehingga Viona berinisiatif meletakkan tangan Edwin tepat didadanya.


Edwin menatap lekat wajah Viona.


"Aku tahu kamu marah sama aku! dan untuk mengembalikan mood mu lagi, kamu bisa melakukan apapun padaku. Aku siap!" Ucap Viona seraya membusungkan dadanya berharap Edwin mau menyentuhnya.


Tak mampu menahan godaan yang ada dihadapannya, perlahan Edwin pun menggerakkan jari-jemari tangannya dan merem*mas kedua gundukan bukit kembar yang ada dihadapannya.


"Aahhh..." Viona men-de-sah saat Edwin menggigit lembut pu-ting bukit kembarnya.


Tangan Edwin menyelusup masuk kedalam rok mini yang dikenakan Viona, dan mengusap-usap pang-kal pa-ha nya, sehingga membuat tubuh Viona meremang dan semakin memperkeras suara de-sah-han nya. Namun saat Edwin ingin membuka pakaian yang dikenakan Viona. Seseorang dari luar memencet bel rumah Edwin, sehingga Edwin pun menghentikan aksinya dan berjalan membuka pintu.


"Mas Azka." Tutur Edwin.


"Sebenarnya aku malas untuk menemui Viona, jika bukan kamu yang menyuruh ku." Ujar Azka.


Edwin langsung mengajak Azka ke-kamarnya. Karena dikamar itu Viona sudah standby menunggu kedatangan Azka. Sementara Edwin pergi ke dapur untuk mengambil minuman.


"Bagaimana keadaanmu? aku dengar kamu baru pulang dari rumah sakit." Azka berbasa-basi.


"Iya. Makasih ya kamu sudah mau datang kemari untuk menjengukku." Ucap Viona.


Azka tersenyum kecil.

__ADS_1


"Mas Azka, ini minumannya." Edwin memberikan segelas minuman dingin kepadanya.


"Thanks ya Win." Sahut Azka. Tanpa rasa curiga, dia pun langsung menenggak minuman itu. Namun beberapa saat kemudian, kepalanya tiba-tiba merasa pusing sehingga dia pun tak sadarkan diri.


"Edwin, cepat baringkan Azka disampingku." Pinta Viona. Setelah Edwin membaringkan tubuh Azka disamping Viona, Viona pun membuka kaos putih polos yang dikenakan Azka, sehingga Azka kini bertelanjang dada. Viona juga membuka pakaiannya setengah badan dan memeluk Azka lalu meminta Edwin untuk mengambil gambar mereka. sehingga terlihat, kalau telah terjadi sesuatu diantara Azka dan Viona.


Setelah berhasil mengambil gambar poto keduanya, Edwin pun berbaring disamping Viona, dan meminta untuk melanjutkan has-rat tadi yang belum sempat tersalurkan gara-gara Azka yang keburu datang. Tanpa sadar, rekaman kamera handycam Edwin masih berjalan, dan Viona tidak menyadari itu. Sehingga mereka terus bergulat saling menumpahkan has-rat satu sama lain disamping Azka yang tidak sadarkan diri.


**


Erick sedang berada diruang meeting untuk membahas perihal keberangkatannya keluar negeri untuk urusan bisnis. "Untuk sementara, aku akan menyerahkan perusahaan ini kepada Pak Farhan untuk menghandle semua aktivitas ku selama dikantor." Tutur Erick kepada orang-orang kepercayaannya.


"Maaf Pak, kapan Bapak akan berangkat? dan berapa lama Pak Erick akan tinggal disana?" Tanyanya.


"Sekitar tiga, sampai enam bulanan." Jawab Erick. "Dan aku akan berangkat minggu depan." Lanjutnya.


Kabar akan keberangkatan Erick pun sudah tersebar luas di perusahaan. Karena memang sudah biasa Erick bolak-balik keluar negeri untuk meninjau perusahaan yang dia bangun di negara lain.


"Dwi..." Panggil Yola.


"Kamu sudah tahu belum? kalau Pak Erick akan pergi keluar negeri." Tanya Yola, memelankan suaranya.


"Sudah. Memangnya kenapa?" Tanyanya.


"Apa kamu diajak?" Tanya Yola lagi.


"Di ajak?! ya enggaklah! ngapain Pak Erick ngajak-ngajak aku." Desus Dwi.


"Ekh, jangan keras-keras ngomongnya! nanti kalau Pak Erick dengar aku bisa dipecat." Desis Yola seraya membekap mulut Dwi.


Dwi pun menyingkirkan tangan Yola dari mulutnya. "Pertanyaan kamu itu aneh." Sinis Dwi.


"Wajar saja jika aku bertanya seperti itu sama kamu! soalnya seisi kantor sudah pada tahu tentang kedekatan kalian." Ujar Yola.


"Yola, jangan sembarangan!" Sentak Dwi. "Aku dan Pak Erick itu sama sekali tidak ada hubungan apapun. Kita itu real hanya sebatas karyawan biasa dan atasannya." Jelas Dwi.

__ADS_1


"Masa sikh, tapi kok aku melihat sesuatu yang lain ya! dari cara Pak Erick memperlakukan kamu dengan yang lain." Tuturnya.


"Itu mungkin hanya perasaan kamu saja." Tegas Dwi.


"Wi, makan yuk? aku laper nih." Ajak Sindi setelah menghampirinya.


"Aku gak mau ya, kalau kamu ajak aku makan di restoran Azka." Sahut Dwi.


"Memangnya kenapa?" Sindi mengerutkan keningnya.


"Pasti kamu minta gratisan lagi sama mereka." Desis Dwi.


"Yaelah Wi, cuman minta beberapa porsi makanan doang kok, lagi pula itu gak akan mungkin bikin restorannya Azka bangkrut." Jawabnya.


"Tetep aja, kamu itu malu-maluin aku tau gak!" Desah Dwi.


"Kalau kamu memang gak mau makan gratisan di resto Azka, kenapa gak kamu saja yang bayar?"


"Dih orang kamu yang makan, ngapain jadi aku yang harus bayar." Ketus Dwi seraya mendelekinya.


"Ya ampun Wi, pelit banget sih kamu! kamu lupa ya, saat aku menjadi seorang manajer diperusahaan Riko, siapa yang sering mentraktir kamu makan?"


"Oh jadi kamu sudah mulai mau perhitungan nih sama aku." Ujar Dwi.


"Bukannya perhitungan Wi, kamu tahu kan biaya hidup aku itu mahal banget! tiap minggu aku harus pergi ke salon untuk mempercantik diri. " Ujar Sindi. "Jadi aku harus pandai-pandai berhemat, takut gak bisa nyalon soalnya." Lanjutnya seraya mengedipkan satu matanya.


"Pikiran mu sempit sekali." Decak Dwi.


"Terus jadi makan gak?" Tanya Sindi.


"Jadilah! orang aku juga laper." Sahut Dwi. "Tapi kita makan di cafe sebelah aja, nanti biar aku yang traktir." Lanjutnya.


"Nah ini baru sepupu aku." Seru Sindi.


"Yol, kamu ikut gak?" Tanya Dwi kepada Yola yang sedari tadi hanya nyimak pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Gak deh Wi." Tolak Yola. Sebenarnya Yola memang sedikit tidak nyaman berada didekat Sindi. Karena Sindi itu orang yang ceplas-ceplos kalau ngomong itu gak pernah disaring. Sementara Yola orangnya sedikit baperan.


__ADS_2