Duda Tampan Haus Belaian

Duda Tampan Haus Belaian
ketok palu.


__ADS_3

***


"saya sudah mendengar masalah rumah tangga yang menimpa anak kita." ujar bu asmi kepada besan perempuannya. "saya minta maaf atas kesalah pahaman ini." imbuhnya.


"sangat disayangkan jika Dwi dan nak Azka benar-benar akan bercerai. tapi sebagai ibu Dwi, saya hanya bisa mendoakan yang terbaik untuknya."


"apa bu patma tidak mempercayai Azka?" tanya bu asmi.


"bukan tidak percaya! bahkan saya sudah mengingatkan Dwi untuk tidak terburu-buru mengambil keputusan. tapi dia yang menjalani rumah tangga dan tentunya dia sendiri juga yang merasakannya."


"apa saya bisa meminta alamat rumah neneknya?" tanya bu asmi.


Bu patma mengangguk, dia pun merobek secarik kertas lalu mencatatnya. "ini alamatnya."


Bu asmi menerimanya. "alamatnya tidak jauh dari apartemen Azka." gumamnya. "terima kasih bu. kalau begitu saya permisi."


"sama-sama bu." sahut bu patma.


Bu asmi langsung pergi dan mengemudikan mobilnya menuju rumah neneknya Dwi. karena ibunya bilang kalau dia sekarang tinggal bersama neneknya lagi. namun sesampainya di sana, bu asmi tak kunjung juga bertemu dengan Dwi. neneknya mengatakan kalau Dwi pergi untuk mencari pekerjaan.


Dwi berjalan menuju PT. prima grup. "ini perusahaan terakhir yang akan aku datangi, dan semoga kali ini aku di terima." pikirnya antusias.


namun lagi-lagi Dwi harus menerima kekecewaan karena tidak ada satu perusahaan pun yang mau menerimanya. dengan langkah kakinya yang terasa berat dia keluar dari perusahaan itu.


"Dwi! sedang apa dia disini?" batinnya saat baru keluar dari mobil. " maaf pak Erick, apa bapak mengenal wanita itu?" tanya Riko pada rekan bisnisnya menunjuk kearah Dwi.


"tidak! ini pertama kalinya saya melihatnya." jawab Erick. dia pun menanyakannya kepada satpam. "pak, siapa perempuan itu?"


"tadi dia bilang, kalau dia ingin melamar pekerjaan disini pak." jawabnya.


"jadi Dwi bermaksud untuk melamar kerja di sini." batin Riko saat mendengar percakapan mereka.


"dia ingin melamar pekerjaan di sini. memangnya kenapa? apa pak Riko mengenalnya?" tanya Erick.


"ya, dia temanku." jawab Riko. "apa pak Erick bisa membantuku?" tanyanya.


"bantu apa pak?"


"tolong terima dia untuk bekerja di perusahaan pak Erick." pinta Riko.


Erick menyanggupi permintaan Riko untuk menerima Dwi bekerja di perusahaan miliknya.


sesampainya di rumah. handphone Dwi tiba-tiba berdering. dia langsung mengangkatnya.


"halo? ini dengan mbak Dwi jelita?"

__ADS_1


"iya, ini saya sendiri. maaf ini dengan siapa ya?" tanyanya.


"saya sita, HRD di PT prima grup. dan ingin mengatakan kalau anda sudah diterima di perusahaan kami."


"apa? mbak serius?" tanya Dwi tak percaya.


"iya mbak. mbak Dwi bisa langsung bekerja besok."


"terima kasih mbak. terima kasih." ucap Dwi sangat antusias.


"sama-sama mbak." sita pun menutup sambungannya.


"akhirnya ada perusahaan yang mau menerimaku juga." gumamnya, namun seketika dia tertegun. "tapi dari mana HRD itu tahu nomerku?" pikirnya. "ah bodo amat, yang penting sekarang aku sudah memiliki pekerjaan." lanjutnya.


tok tok tok.


pintu kamarnya di ketuk. tak lama kemudian neneknya masuk dan mengatakan kalau dari tadi mama mertuanya sampai bolak-balik datang untuk menemuinya.


"Dwi bagai mana kabar mu nak?" bu asmi langsung memeluknya.


"baik ma." ucap Dwi, dia pun duduk di samping mama mertuanya. "bagai mana kabar mama sendiri?" Dwi berpura-pura tegar, meskipun sebenarnya hatinya sedang rapuh.


bu asmi tersenyum. dia tahu kalau Dwi sedang menutupi kesedihannya. "mama sudah mendengar semuanya. apa kamu tidak ingin mempertimbangkan kembali keputusanmu itu?" tanya bu asmi seraya memegang erat tangan menantunya.


"maafkan aku ma. sebelumnya aku tidak pernah membuat keputusan sematang ini." imbuh Dwi.


***


"oke. saya sudah mengecek data pribadi mu. kamu saya tetapkan sebagai staff administrasi." ucap sita.


"terima kasih mbak." ucap Dwi. dia pun pamit keluar dari ruangan sita.


"belum mempunyai wawasan yang luas tentang bagaimana caranya bekerja di perkantoran. tapi kenapa pak Erick meminta aku untuk langsung mempekerjakannya? padahal biasanya pak Erick adalah orang yang sangat teliti dalam merekrut karyawan baru." gumam sita menatap kepergian Dwi.


"kamu staff baru yang di tempatkan di bagian administrasi kan?" tanya seorang wanita yang menghampirinya.


"iya."


"kalau begitu ikut aku." pintanya.


Dwi pun berjalan mengikutinya.


"nah, ini ruanganmu. kamu bisa mulai bekerja."


"terima kasih." ucap Dwi. "oya, siapa namamu?" lanjutnya.

__ADS_1


"namaku febbyyola. kamu bisa memanggilku yola." sahutnya.


Azka keluar dari pintu. tiba-tiba berpapasan dengan pria yang hendak memencet tombol bel apartemennya. "ada apa pak?" tanya Azka.


"maaf mas. saya ingin bertemu dengan pak Azka?" tanyanya.


"saya sendiri." ucap Azka menatap heran pada laki-laki itu.


"kebetulan sekali. saya ingin memberikan surat panggilan dari pengadilan Agama."


Azka tampak ragu-ragu menerima surat itu. setelah membuka lalu membacanya, seketika tubuhnya kini mendadak terasa lemas. "kamu benar-benar melakukannya." gumam Azka. harapan agar bisa memperbaiki kembali keutuhan rumah tangganya pun kini sirna.


***


hari ini Dwi dan Azka di pertemukan setelah sebulan lamanya mereka tidak saling bertemu. keduanya tampak canggung duduk di kursi persidangan.


"dengan ini saya menyatakan kalau kalian sudah resmi, ber...ce...rai." ucap hakim setelah ketok palu.


Azka berdiri dari duduknya menyambangi bu patma dan pak mukti untuk meminta maaf, karena dia merasa sudah gagal menjadi suami dari putrinya.


Dwi memeluk erat bu asmi, lalu meminta maaf karena tidak bisa mempertahankan rumah tangganya. padahal bu asmi sudah menaruh harapan yang besar terhadapnya. Dwi dan Azka pun memutar balik badan hingga keduanya saling bertatapan.


Azka mendekatinya lalu mengulurkan tangannya. "pernikahan ini kita mulai secara baik-baik. dan aku ingin berakhir dengan cara yang baik juga."


Dwi menerima jabatannya dan menatapnya, hingga kemudian berlalu pergi dengan menitikkan air mata.


keesokan harinya.


Dwi baru saja keluar. dan seperti biasa dia berdiri di depan kantor untuk menunggu taksi online. tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di depannya.


"apa kamu ingin pulang?" tanya Riko, setelah membuka kaca mobilnya.


"Riko! kok kamu bisa ada disini?"


"tadi aku tidak sengaja lewat. pas lihat kamu berdiri disini, hatiku mengatakan kalau aku harus menghampirimu." godanya.


Dwi tersenyum getir.


"apa kita bisa bicara sebentar?"


"aku tidak bisa." tolak Dwi. dia pun melangkahkan kakinya namun tiba-tiba dia tertegun lalu berbalik menatap Riko.


"kamu tahu dari mana kalau aku bekerja disini?"


"apa kamu sungguh ingin tahu jawabannya?" Riko malah balik bertanya.

__ADS_1


"kalau begitu lupakan saja pertanyaanku barusan." decak Dwi.


__ADS_2