Duda Tampan Haus Belaian

Duda Tampan Haus Belaian
DTHB 67


__ADS_3

***


Viona mengajak Edwin untuk bertemu disebuah cafe, tempat dimana mereka sering janjian. Disana lah Viona mulai memberi tahu tentang kehamilannya kepada Edwin.


"Jadi Bu Viona beneran hamil?"


"Iya Win." Viona pun menangis dipelukan Edwin.


"Kalau Ibu mau, aku akan bertanggung jawab dan akan segera menikahi Bu Viona." Ujar Edwin.


"Tidak Win, tidak!" Tolak Viona. "Kamu tahu kan, kalau aku sangat mencintai Azka. Dan aku ingin dia yang menikah denganku, bukan kamu!"


Edwin terkejut mendengar pernyataan Viona yang menginginkan Azka yang bertanggung jawab atas perbuatannya. "Tapi Bu, anak yang ada didalam kandungan Bu Viona itu anakku, bukan anak Mas Azka." Edwin merubah panggilannya terhadap Azka, karena Azka yang memintanya. Namun walaupun seperti itu, sedikitpun itu tak mengurangi rasa hormatnya kepada Azka, karena Azka sudah sering membantunya dalam segala hal, termasuk atas kerjaan yang dia miliki sekarang itu berkat Azka.


"Aku tidak peduli! apapun caranya, Azka harus mau menikahi aku." Ujar Viona. "Edwin kamu mau kan bantu aku, agar Azka mau bertanggung jawab atas kehamilan ku ini?"


"Tapi Bu, Mas Azka tidak mungkin mau bertanggung jawab atas kesalahan yang tidak ia perbuat." Jelas Edwin.


"Makanya kita buat, seolah-olah dia-lah yang telah menghamiliku." Ucap Viona. Dia pun membisikkan ide liciknya kepada Edwin.


Edwin membulatkan matanya mendengar permintaan Viona yang menurutnya tidak masuk akal. "Tapi maaf Bu, aku tidak setuju dengan ide Bu Viona. Kenapa Ibu gak terus terang saja jika Bu Viona memang sedang hamil." Pinta Edwin.


"Kamu itu bodoh apa gimana sikh!" Maki Viona. "Aku gak hamil aja, Azka menolak saat Papa memintanya untuk menikahi aku. Apa lagi kalau dia tahu aku hamil!"


"Tapi maaf Bu. Aku gak ikut-ikut! kalau Ibu mau, Bu Viona lakukan sendiri saja ide gila itu." Edwin berdiri dari duduknya dan hendak pergi, namun Viona tiba-tiba memeluknya dari belakang.


"Edwin aku mohon... Tolong bantu aku, karena saat ini hanya kamu saja yang bisa menolongku." Rayu Viona, seraya menenggelamkan wajahnya dipunggung Edwin.


"Tapi maaf Bu, aku tidak mau terlibat dalam hal ini. Mas Azka itu orang yang sangat baik! kita tidak bisa melakukan itu padanya." Edwin memberi pengertian kepada Viona.


"Aku hanya mau Azka menikah denganku, lalu dimana salahnya?" Viona menatap wajah Edwin setelah melepas pelukannya.


"Tentu saja itu salah!" Ucap Edwin. "Bu Viona ingin memaksa seseorang agar orang itu mau menikahi Bu Viona, dengan cara memfitnahnya." Tegas Edwin. "Maaf Bu, saya harus pergi sekarang." Lanjut Edwin berlalu meninggalkannya.


Bruuuakkkk...


"Aww..." Pekik Sindi.


"Sindi!" Seru Edwin. "Kamu ngapain disini?" Tanyanya.

__ADS_1


"Aku mau makan, kamu sendiri ngapain disini?" Sindi bertanya balik.


"Aku..." Edwin menggantung ucapannya.


"Aku apa?" Tanya Sindi. "Emm, jangan-jangan kamu habis ketemuan sama pacar kamu ya?" Goda Sindi.


Edwin menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Gak kok, tadi aku habis ketemuan sama teman." Sahutnya.


"Teman apa teman..." Lagi-lagi Sindi menggodanya.


Edwin tersenyum masam. "Memang beneran teman kok." Jawabnya. "Ngomong-ngomong kamu kesini sama siapa?" Tanyanya.


"Sendiri." Jawab Sindi. "Kamu mau gak temani aku makan?" Ajak Sindi hati-hati karena takut ditolak.


"Mau si. Tapi makannya gak disini ya."


"Memangnya kenapa?" Tanya Sindi.


"Gini saja! aku rekomendasikan restoran baru, kamu mau gak?" Tanyanya.


"Emm, boleh." Sahut Sindi.


"Ekh, tapi aku bawa mobil." Ujar Sindi.


"Ya sudah, kalau gitu kita bawa mobil masing-masing saja! tapi kamu ikutin aku dari belakang ya."


"Iya deh." Sahut Sindi. "Sayang banget hari ini aku bawa mobil! coba kalau enggak, aku pasti bisa berdua-duaan dalam satu mobil yang sama dengan Edwin." Batin Sindi.


Tanpa sepengetahuan Sindi dan Edwin, ternyata Viona sedang menguping pembicaraan antara mereka. "Siapa perempuan itu? sepertinya dia terlihat akrab dengan Edwin." Batinnya.


Beberapa menit berlalu. Akhirnya Sindi dan Edwin pun berhenti diparkiran restoran milik Azka. Sindi tercengang saat melihat tulisan dari banner resto tersebut. "Dwi Rindu! Bucin banget tuh yang bikin tulisan." Gumamnya.


"Kamu tahu gak, siapa pemilik dari restoran ini?" Tanya Edwin.


"Ini sepertinya restoran baru." Sahut Sindi.


"Ya. Restoran ini memang baru di buka beberapa minggu yang lalu! dan pemiliknya itu adalah Mas Azka." Jelas Edwin.


"Mas Azka?!" Sindi mengernyitkan keningnya.

__ADS_1


"Ya. Mantan suami Mbak Dwi." Jelasnya.


"Jadi banner itu..." Sindi menoleh kearah banner.


"Itu adalah curahan isi hati Mas Azka." Tutur Edwin.


"Kamu memang benar-benar beruntung Dwi! ada laki-laki yang begitu sangat mencintai kamu." Batin Sindi.


"Masuk yuk?" Suara Edwin membuyarkan lamunan Sindi. Sindi pun mengangguk. Dan setelah masuk kedalam restoran mereka disambut hangat oleh Azka dan Mamanya.


"Kalian datang kemari hanya berdua?" Azka celingukan, takutnya ada seseorang yang tertinggal.


"Iya Ka, kita hanya berdua." Jawab Sindi. "Pasti kamu nyariin Dwi kan? dan berharap dia juga ikut kesini." Goda Sindi, sehingga membuat Azka merasa malu dibuatnya.


"Gak juga!" Sahut Azka tengah berbohong. Padahal dia memang berharap kalau Dwi juga datang.


"Kalian sangat cocok." Tutur Bu Asmi. "Edwin, kenapa kamu tidak pernah cerita, kalau Sindi itu pacar kamu." Ujar Bu Asmi yang salah paham dan mengira jika mereka berpacaran.


"Bukan Tante!" Jawab keduanya secara bersamaan.


"Kita hanya teman kok Tante." Lanjut Sindi kemudian.


"Sayang sekali. Padahal kalian terlihat sangat serasi." Tutur Bu Asmi. Sehingga membuat Sindi dan Edwin tersipu malu.


"Ya udah deh Ma, sebaiknya kita tinggalkan mereka berdua." Ucap Azka. "Biar mereka bisa ngobrol dengan leluasa." Lanjutnya.


"Si Azka maksudnya apaan? kenapa dia bicara seperti itu, padahal jelas-jelas dia itu tahu betul siapa wanita yang aku cintai. Dan aku juga tidak mungkin mempermainkan perasaan Sindi." Batin Edwin.


"Duduk yuk." Ajak Sindi. Mereka berdua pun duduk berhadap-hadapan. Sindi menatap wajah Edwin dengan penuh ketertarikannya. Sambil menunggu makanan, mereka pun saling bertanya pekerjaan masing-masing.


"Kamu sendiri sekarang kerja dimana?" Tanya Edwin, setelah dia menjawab semua pertanyaan yang di lontarkan Sindi.


"Aku kerja di PT. Prima group." Sahut Sindi.


"Coba aku tebak!" Seru Edwin. "Jabatan kamu di PT. Prima group pasti seorang Manager. Iya kan?" Tanya Edwin menduga-duga.


"Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?" Tanya Sindi.


"Aku hanya menduganya saja! soalnya selama ini kamu selalu mendapat posisi yang bagus kan, saat kamu bekerja di PT. Wijaya dan PT. RB Sentosa." Sahut Edwin.

__ADS_1


Sindi pun akhirnya tersenyum dengan yang dibuat-buat. "Iya, kamu benar." Jawabnya. "Tapi sayang, kali ini posisiku tidak sebagus saat aku masih bekerja di PT. Wijaya dan PT. RB Sentosa. Tapi aku tidak boleh jujur kepada Edwin soal pekerjaanku saat ini." Batinnya.


__ADS_2