
"hari ini kakak jadi kan mau ajak ica jalan-jalan?" tanya ica.
"jadi ca." sahut dwi.
"hari ini kamu harus sekolah." ucap pak mukti.
"hari ini ica bolos boleh kan yah?" tanya ica pada pak mukti.
"tidak bisa, kamu harus sekolah biar pintar." ucap pak mukti.
"yah tapi hari ini ica pengen banget jalan-jalan sama kak dwi." rengeknya.
dwi tampak garuk-garuk kepala.
"ya udah, kalau gitu jalan-jalannya nanti aja sepulangnya kamu dari sekolah, bisa kan wi?" tanya pak mukti seraya menoleh kearah dwi.
"gak bisa ayah, nanti sekitar jam sepuluhan kita sudah harus pulang." ucap dwi.
"yaa, gak jadi jalan-jalan dong..." rengek ica yang sudah hampir meneteskan air matanya.
"memangnya ica ingin jalan-jalan kemana?" azka mulai angkat suara.
"semalam kak dwi udah janji mau ajakin ica main ke mall." ujarnya.
"baik, kalau gitu rencana jalan-jalannya kita undur. minggu depan kita janji akan membawa ica dan dio jalan-jalan." ucap azka.
"beneran kak?" dio tampak antusias.
azka tersenyum dan mengangguk. dia menoleh kearah ica yang tampak cemberut. "ica kenapa? mukanya kok di tekuk gitu?"
"tapi ica pengen jalan-jalannya sekarang, gak mau nunggu minggu depan." lirihnya.
mereka saling melempar pandangan satu sama lain, diam tak berkata-kata melihat ica yang tampak merajuk.
"minggu depan ica mau main ke kebun binatang gak?" tanya azka.
"beneran kak?" kali ini ica tampak antusias.
"iya." ucap azka. "kita akan bertemu sama teman-temannya kak dwi." bisiknya di telinga ica.
"hihihi..." ica tampak tertawa cekikikan. sehingga membuat heran semua orang yang ada disana, tak terkecuali dwi.
"jadi gimana?" tanya azka.
"iya kak, ica mau." seru ica.
"ya udah, tos dulu dong." ujar azka.
dwi menatap dalam kepada azka. dia begitu baik terhadap orang tua dan juga adik-adiknya. tapi kenapa kenapa kalau sama dwi sikapnya selalu ngeselin.
"ayo kita berangkat sekarang." ajak pak mukti kepada dio dan ica.
"iya ayah." jawab keduanya.
"azka, ayah tinggal dulu ya."
"iya, hati-hati yah." ucap azka.
__ADS_1
pak mukti tersenyum dan menepuk pelan pundak azka.
"ibu juga berangkat dulu ya." pamit bu patma kepada anak dan menantunya.
dwi membereskan piring kotor yang ada di meja lalu mencucinya. azka tampak memperhatikannya. tanpa sadar dia tersenyum menyeringai.
selesai mencuci piring dwi kembali ke kamar, dan di ikuti oleh azka. mereka sama-sama duduk di tepi ranjang.
"ngapain kamu ngikutin aku?" sinis dwi.
"aku ingin berkeliling di sekitar kota ini." ucap azka.
"lalu?" tanya dwi.
"apa kamu bisa merekomendasikan beberapa tempat yang populer disini?"
"tidak bisa! aku sedang sibuk." ketusnya.
dwi tampak sibuk dengan ponselnya.
azka mendengus kesal. "aku telah menghabiskan banyak uang hanya untuk sekedar wanita tidak berguna sepertimu."
dwi menoleh dengan sinisnya. "apa maksudmu?"
"apa kamu lupa? berapa uang yang telah ku habiskan untukmu?"
"kamu jadi cowok pelit banget sikh? aku ingat betul, kalau kamu baru ngasih aku uang 20 juta." ujar dwi.
"dua puluh juta? kamu lupa ya, kalau aku juga yang telah melunasi semua hutangmu pada riko."
seketika dwi tertegun.
"mengenai kejadian itu? aku ingin kamu berkata jujur sama aku. sebenarnya waktu itu tidak terjadi apa-apa kan diantara kita?"
"kenapa kamu begitu takut, kalau kejadian itu memang benar-benar terjadi? bukankah kamu juga sering melakukannya dengan laki-laki lain?"
"jangan kurang ajar!" sentaknya yang tidak terima dengan tuduhan azka.
"kenapa kamu marah? bukankah apa yang ku katakan benar adanya. kamu itu hanya sekedar wanita malam, aku yakin sudah banyak laki-laki yang pernah tidur dengan mu." ucap azka.
"jangan nelewati batas!" sentaknya. "kalau tidak aku akan..."
"akan apa?" azka keburu memotong ucapan dwi. "apa yang akan kamu lakukan kepadaku jika aku melewati batas kesabaran mu? ayo katakan?" ucap azka seraya melangkahkan kakinya secara perlahan mendekati dwi. dwi tampak berjalan mundur menghindarinya.
"brengsek! hanya karena aku sering datang ke tempat hiburan malam. terus dia bisa seenaknya ngejudge aku wanita murahan." batin dwi.
"kenapa diam saja?" tanya azka.
"jangan menjadikan modus kebaikanmu terhadap keluargaku, sebagai alat untuk menindasku." decak dwi.
"modus?" azka terkekeh mendengar ucapan dwi. "untuk apa aku modus kepada keluargamu? sementara aku sendiri tidak tertarik kepadamu."
"lalu kenapa kamu bersikap baik terhadap keluargaku?"
"itu karena mereka juga bersikap baik kepadaku. aku hanya akan menghargai orang yang juga bisa menghargaiku."
"cikh..." umpat dwi. "orang sepertimu tidak pantas untuk dihargai."
__ADS_1
"apa kamu bilang?"
"ya. orang sepertimu memang tidak layak untuk dihargai." dwi mengulang ucapannya.
"seharusnya waktu itu kubiarkan saja riko untuk menjamahmu. kenapa aku harus repot-repot untuk menyusulmu ke vila miliknya." ucap azka.
"bedebah ini! kenapa dia selalu mengungkitnya." batin dwi.
"lain kali kalau kamu memang tidak ikhlas untuk menolongku, kamu tidak perlu susah payah melakukannya. aku lebih senang riko menjamahku, dari pada aku harus berhutang budi kepada pria sepertimu." ucap dwi secara spontan.
"benarkah? apa kamu yakin dengan ucapanmu itu?"
"ya, tentu saja." ucap dwi.
"baiklah." azka mengambil jas kerja beserta kunci mobilnya.
"hei, kamu mau kemana?" tanya dwi.
"aku akan berkeliling sendiri."
**
sekitar dua jam kemudian lamanya. azka tak kunjung juga kembali, sehingga membuat dwi sedikit gelisah.
"kemana ya tu orang? sudah lama kok belum pulang juga, padahal ini sudah waktunya kita untuk kembali ke kota J. bukankah dia sendiri yang bilang kalau hari ini ada kerjaan yang harus segera dia selesaikan." batinnya. "apa jangan-jangan dia sudah balik ke kota J duluan?" gumamnya. "akh sudah lakh, mending aku balik naik transportasi umum saja." lanjutnya.
dwi membereskan semua barang-barangnya, dan mengunci pintu rumah orangtuanya. dia pun menghampiri warung nasi milik ibunya yang tak jauh dari rumahnya.
"dwi kenapa kamu sendirian? dimana suamimu?" tanya bu patma.
"gak tau bu. mungkin dia sudah pulang duluan." imbuhnya.
"kok mungkin? memangnya azka gak bilang dulu sebelum pergi?"
"tadi sikh dia bilangnya ingin berkeliling di sekitar sini." sahut dwi.
"sudah berapa lama?"
"sudah dua jam lebih."
"dua jam lebih? kenapa kamu tidak mencarinya? siapa tahu dia tersesat."
"tersesat? gak mungkin lah bu."
"ya sudah kalau gitu kamu jagain warteg, biar ibu yang akan mencarinya." ucap bu patma.
"apa? jaga warteg? gak akh bu, orang aku mau kembali ke kota J." tolak dwi.
"bagai mana bisa kamu berniat untuk kembali ke kota J, sementara suami kamu sendiri, kamu juga tidak tahu sekarang keberadaannya dimana? sekarang cepat kamu hubungi dia." pinta bu patma.
"malas akh bu. nanti yang ada dia besar kepala lagi."
""dwi..." karena geram bu patma memukul punggungnya.
"aww, ibu." pekiknya.
"sekarang cepat telepon suamimu, dan tanyakan dimana keberadaannya."
__ADS_1
"iya-iya." sahutnya.