
Dwi mengajak sindi untuk bertemu di restoran cepat saji. dia telah standby menunggu kedatangan sepupunya itu. tak lama kemudian sindi pun datang lalu duduk bersamanya.
"boneka itu..." tutur sindi menunjuk kearah gadis kecil yang tak jauh dari tempat duduk mereka.
Dwi menoleh. "aku ingat, dulu kita pernah rebutan boneka yang sama persis dengan boneka yang di bawa oleh anak itu." ucap Dwi. "waktu itu kamu nangis, saat aku meminjamnya." ucap Dwi terkekeh.
"bukan meminjam. lebih tepatnya kamu itu merebutnya." sahut sindi.
"aku ingat betul, waktu kecil kita itu sering banget meributkan hal-hal yang sepele." timpal Dwi.
keduanya bersenda gurau saat mengenang kembali masa-masa kecil mereka yang begitu menyenangkan. karena setiap hari raya Idul Fitri orang tua Dwi dan sindi pasti berkumpul di rumah nenek.
"jujur, sebenarnya aku iri padamu. karena waktu itu, dalam hal apapun kamu selalu lebih unggul dariku." ujar Dwi.
"kenapa kamu berpikir seperti itu?" tanya sindi, diapun menaruh sendok dan garpu yang ada ditangannya.
"saat itu semua orang terlihat lebih menyayangimu. ibuku juga sering sekali memuji-muji dirimu. berbeda denganku yang sering dimarahi, bahkan oleh ibuku sendiri." ungkap Dwi.
"dasar gak tahu diri." ucap sindi yang tiba-tiba menjitak kening Dwi. seketika Dwi meringgis menahan sakit karena sindi cukup keras menjitaknya. "apa kamu tidak sadar, kalau waktu itu kamu teramat nakal! jadi wajar kalau semua orang memarahimu. tapi terlepas dari itu, percayalah! kalau mereka semua menyayangimu." ucap sindi.
Dwi terdiam mengingat kembali akan kenakalannya sewaktu masih kecil.
"kamu pasti akan merasakan apa yang dirasakan oleh orangtuamu ketika kamu sudah memiliki anak." ucap sindi. "bukan karena ibumu itu bawel atau apalah! itu karena ibumu itu tidak ingin kamu celaka akibat kenakalanmu." lanjutnya.
"aku tidak menyangka, semenjak kamu berpacaran dengan om Robby, ups... maksudku bang Robby. pemikiranmu jadi se-bijak ini." goda Dwi.
"ah sialan! baru saja aku baik-baikin, sekarang sudah mulai rese lagi." umpat sindi. "biarpun umur Robby itu jauh lebih tua dari pada aku, setidaknya dia itu seorang laki-laki yang baik! tidak se-berengsek Riko dan se-munafik Azka."
deg. denyut jantung Dwi seakan berhenti ketika sindi menyinggungnya perihal Azka. melihat ekspresi wajah Dwi yang tiba-tiba berubah, sindi pun meminta maaf.
"aku ijin ke-toilet dulu." ucap Dwi.
Sindi menatap kepergian Dwi. dia merasa bersalah karena tidak sengaja mengungkit masa lalunya. dia menoleh kearah makanan yang dipesan Dwi. "tumben Dwi memesan makanan vegetarian." batinnya yang baru ngeh.
__ADS_1
saat Dwi kembali, sindi pun menanyakannya.
"akhir-akhir ini berat badanku naik, jadi aku memutuskan untuk diet." jawab Dwi.
sindi memperhatikan bentuk tubuh Dwi yang ternyata memang sedikit berubah. "wah gawat!" seru sindi.
"apanya yang gawat?" tanya Dwi mengernyitkan dahinya.
"tubuhmu itu aset wi! seharusnya kamu bisa menjaga postur tubuh ideal mu itu. agar banyak laki-laki yang menyukaimu, meskipun status mu kini sudah menjadi janda." cetus sindi.
"akh sialan! aku kira apaan." imbuh Dwi.
***
semenjak bercerai dengan Dwi hari-hari Azka kini diliputi kesepian. dulu dia pernah di tinggal mati oleh istrinya, dan sekarang dia harus mengalami hal yang sama, karena Dwi telah pergi meninggalkannya. Azka melamun, sampai-sampai dia tidak sadar kalau Edwin telah masuk dan berdiri tepat di sampingnya.
"apa pak Azka baik-baik saja?" suara Edwin membuyarkan lamunannya.
"Edwin! sejak kapan kamu disini? kenapa tidak mengetuk pintu terlebih dulu sebelum masuk." tegur Azka.
"maaf, aku sedikit lelah. mungkin karena itu aku tidak mendengar saat kamu mengetuk pintu." kilah Azka.
"aku baru tahu, kalau kelelahan bisa menggangu pendengaran seseorang." gumam Edwin.
"apa?"
"em, tidak pak. maaf saya hanya bercanda."
"Edwin apa kamu bisa membantuku menganalisis semua data karyawan?" tanya Azka.
"tentu saja pak."
"terima kasih, kalau begitu aku pergi dulu." ucap Azka menepuk punggungnya.
__ADS_1
"memangnya pak Azka mau kemana?" tanya Edwin.
"hari ini aku ingin pulang lebih cepat." pungkasnya.
Edwin berdiri di dekat meja kerja Azka seraya sedikit membungkukkan tubuhnya. "tumben pak Azka memintaku untuk menganalisis semua data-datanya? biasanya dia yang akan melakukannya sendiri." pikir Edwin dalam hatinya.
dulu sebelum Azka di angkat menjadi General Manager hotel. sebelumnya dia hanyalah karyawan biasa. hingga perlahan jabatannya pun naik secara bertahap. Azka adalah seorang pria muda yang pekerja keras dan jujur. dan menjadi kebanggaan bagi pak bagas karena kecerdasannya hingga kini pak bagas mempercayai Azka, kalau hotel yang didirikannya bisa berkembang pesat di bawah kelolanya. pak bagas sudah mempercayai Azka sepenuhnya melebihi anak lelakinya.
Edwin tampak serius. merasa keram Karena sudah cukup lama berdiri dengan setengah membungkukkan punggungnya, akhirnya dia pun duduk di kursi yang berhadapan dengan kursi GM.
perlahan seseorang membuka pintu dengan cara apik hingga Edwin tidak merasakan seseorang yang baru saja masuk untuk menghampirinya. tiba-tiba orang itu mendekati Edwin dan langsung membekapnya dengan obat bius serta menutupi wajahnya.
Edwin tergulai lemas, dan tak sempat melakukan perlawanan. orang itu pun kemudian membawanya pergi.
*
hotel ***
"panas. tubuhku panas sekali..." rintih seorang wanita cantik. "laki-laki brengsek! sepertinya dia sengaja menaruh sesuatu di minumanku." pekiknya. dia berusaha untuk membuka pintu namun tidak bisa. tentu saja! karena di luar sana seseorang telah sengaja mengunci pintu kamar dari luar. merasakan akan tubuhnya yang semakin terasa panas dia segera pergi ke kamar mandi.
bruugh... tiba-tiba tiga pria masuk. dan dua orang pria bertubuh kekar dan berotot besar itu menendang tubuh Edwin yang tampak tidak berdaya. dia tidak bisa melakukan perlawanan karena tangannya di ikat kebelakang serta wajahnya yang di tutupi oleh kain.
"bersenang-senanglah! tidak ada kucing yang akan sanggup menolak jika di beri ikan segar." ucap salah satu dari pria itu lalu melepas paksa kemeja yang di kenakan Edwin. sebelum pergi dari kamar itu salah satu dari mereka kembali memukul Edwin.
wuushhh...
wanita itu membuka kain yang menutupi wajah Edwin karena sudah sedari tadi membuatnya sangat penasaran. " Edwin!" Viona sangat terkejut. dia pun membuka solasi yang menutupi mulut Edwin sehingga membuatnya kesulitan untuk berbicara. tak lupa, Viona juga melepaskan ikatannya.
"bu Viona apa mereka menyakitimu?" tanya Edwin.
"Edwin, tubuhku..." rintihnya.
"kenapa? apa mereka memukulmu? bagian mana yang terasa sakit?" Edwin tampak sangat mengkhawatirkannya, memutar balik tubuh Viona, mencari keberadaan dimana letaknya luka itu.
__ADS_1
"tubuhku terasa panas sekali Edwin." rintihnya menatap dalam wajah laki-laki yang ada di depannya, kemudian menurunkan pandangannya kearah tubuhnya. perlahan Viona mengangkat tangan lalu meraba-raba roti sobek Edwin.
deg. jantung Edwin bergetar hebat. sebagai seorang laki-laki yang normal, wajar saja jika kini dia mulai terang*sang dengan sentuhan Viona.