Duda Tampan Haus Belaian

Duda Tampan Haus Belaian
positif.


__ADS_3

Edwin mengejar Viona hingga ke parkiran, dan menarik tangannya saat sudah dekat. Mereka kini menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada disekitarnya.


"Edwin, lepaskan tanganku! berani sekali kamu melakukan ini kepadaku." Bentaknya.


"Bu Viona mau kemana?" Tanya Edwin.


"Mau kemanapun aku pergi, itu sama sekali bukan urusanmu." Ujarnya, seraya berusaha melepaskan cengkraman tangan Edwin.


"Aku tidak akan membiarkan Bu Viona pergi sendirian dalam keadaan seperti ini!" Ucap Edwin. "Sekarang katakan, Bu Viona ingin pergi kemana? biar aku yang antar." Lanjutnya.


"Kamu tidak usah sok peduli sama aku Edwin! sekarang cepat lepaskan tanganku, atau aku tidak akan segan-segan meminta Papa untuk memecatmu." Gertak nya.


"Aku tidak peduli walaupun aku akan kehilangan pekerjaanku! karena aku tidak akan membiarkan Bu Viona pergi dengan kondisi seperti ini." Jelas Edwin.


"Sudah aku bilang kamu itu gak usah sok peduli sama aku!" Sentak Viona lagi.


"Aku bukannya sok peduli sama Bu Viona, tapi aku memang benar-benar peduli sama Ibu." Jelas Edwin.


"Apa?!" Viona terkejut mendengar pengakuan Edwin.


"Ya. Jujur saja, sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di hotel ini, aku sudah jatuh cinta kepada Bu Viona." Tuturnya, memberanikan diri mengutarakan semua isi dihatinya yang sudah terpendam selama lima tahun.


"Kok bisa?" Viona yang seakan tak percaya dengan ucapan yang keluar dari mulut Edwin.


"Hanya dengan satu kedipan saja, Bu Viona sudah berhasil menghipnotis hatiku, hingga aku jatuh cinta kepada Bu Viona." Ucap Edwin. "Namun apa daya diriku ini yang hanya seorang asisten, sementara Bu Viona adalah seorang anak dari owner hotel ini." Lanjutnya.


Viona terdiam mencerna setiap kata-kata yang keluar dari mulut Edwin.


"Sekarang Bu Viona mau kemana? biar aku antar." Tanya Edwin.


"Bawa saja aku kerumah mu."


Ucapan Viona membuat Edwin terperangah. "Bu Viona serius?" Tanya Edwin.


"Apa wajahku terlihat main-main?" Tanyanya, dengan raut wajah yang datar. Edwin pun membukakan pintu dan meminta Viona masuk kedalam mobilnya. Tak lama kemudian mobilnya melaju kencang.


**

__ADS_1


Dwi berjalan menyusuri koridor di PT. Prima group. Tiba-tiba dia merasa kepalanya pusing hingga dia nyaris pingsan. Tapi untung saja Erick yang kebetulan melewati koridor yang sama dengannya, dengan cepat menangkap tubuhnya yang hampir terjatuh.


"Dwi, kamu baik-baik saja?" Tanyanya.


"Kepala saya pusing sekali Pak." Ucapnya yang masih berada di pelukan Erick.


"Apa kamu sakit?" Erick pun membenarkan posisi berdiri Dwi.


"Tidak Pak." Dwi menggelengkan kepalanya.


"Aku dengar, kamu sering sekali tiba-tiba seperti ini saat berada di kantor. Sebaiknya kamu periksakan kondisi pisikmu ke dokter." Saran Erick.


"Baik Pak. Weekend nanti saya akan periksa ke dokter." Sahut Dwi.


"Bukan weekend, tapi sekarang." Ujar Erick.


"Tapi Pak, sekarang saya masih banyak pekerjaan yang-..." Ucapan Dwi menggantung karena Erick memotongnya.


"Urusan kerja aku akan meminta Merry untuk menghandle semua pekerjaanmu hari ini." Ujar Erick. "Sekarang kamu ambil tas mu, biar aku sendiri yang akan mengantarmu pergi ke dokter." Lanjutnya.


"Tunggu apa lagi?"


"Ba-baik Pak." Dengan cepat Dwi bergegas untuk mengambil tasnya.


Rumah sakit.


Sebelum memeriksa Dwi, dokter melontarkan beberapa pertanyaan kepadanya. Hingga kemudian dia pun memeriksanya. Dan tak lama kemudian dokter meminta Dwi kembali duduk di kursi yang berhadapan dengannya.


"Gimana Dok? Dwi sebenarnya sakit apa?" Tanya Erick, yang welcome menemani Dwi saat pemeriksaan.


Dokter malah tersenyum. "Selamat ya Pak. Sebentar lagi anda akan menjadi seorang Ayah." Ucap Dokter.


Deg. Dwi dan Erick sangat terkejut mendengar pernyataan Dokter.


"Maksud Dokter?" Tanya Dwi, memastikan kalau pendengarnya masih baik-baik saja.


"Anda sedang mengandung dua bulan." Jelasnya. "Mual dan pusing sangat wajar dirasakan oleh seorang ibu yang sedang hamil muda." Lanjutnya.

__ADS_1


Dwi menohok mendengar penjelasan dari Dokter. Sementara Erick hanya nyimak pembicaraan antara Dwi dan Dokter. Andai saja Erick saat itu tidak menanyakan tentang berapa lamanya Dwi menyandang status janda, mungkin saat ini dia akan berpikiran buruk tentang Dwi. Tapi usia kandungan Dwi lebih lama dibandingkan status jandanya, dan tentu saja Erick tahu kalau anak yang sekarang dikandung oleh Dwi itu anak dari mantan suaminya.


Dokter menoleh kepada Erick. "Pak, istri Bapak sedang mengandung, jadi usahakan Bapak untuk terus menjaganya dan jangan membuatnya stress, atau itu akan mempengaruhi perkembangan janin yang ada didalam kandungannya." Pinta Dokter kepada Erick.


Dwi terkejut saat Dokter mengira kalau Erick itu suaminya. Dia baru ngeh, kalau sedari tadi Dokter itu mengira kalau anak yang ada didalam kandungannya itu anak Erick. Namun saat ingin mengklarifikasi, dengan cepat Erick mengangkat tangan mengisyaratkan kalau Dwi tidak perlu mengklarifikasinya.


"Ini bukunya, setiap periksa anda harus selalu membawa buku ini." Ucap Dokter, seraya mengisi data buku itu. "Dengan Bu Dwi ya?" Tanya dokter itu lagi.


Dwi pun mengangguk.


"Dengan Bapak siapa?" Tanya Dokter.


Erick menoleh kepada Dwi, Dwi pun seakan mengerti. "Pak Azka Dok." Sahut Dwi.


"Nah, ini bukunya." Ucap Dokter menyerahkan buku itu kepada Dwi. "Dan ingat ya Pak Azka, anda harus memeriksakan kondisi kehamilan istri Bapak setiap bulan sekali. Dan sebisa mungkin anda harus mendampinginya setiap istri anda cek ke Dokter." Lanjutnya.


Dwi dan Erick saling menatap satu sama lain. Lalu kemudian Erick pun mengiyakan perkataan Dokter.


Diperjalanan.


"Kenapa Pak Erick malah mengaku sebagai suami saya?" Tanya Dwi memecah keheningan didalam mobil.


"Apa menurutmu tidak aneh, jika kamu hamil padahal kamu tidak mempunyai suami." Jawabnya tanpa menoleh sedikitpun kepada Dwi.


Dwi menunduk. "Apa Pak Erick berpikir kalau aku telah melakukan perbuatan kotor dengan laki-laki lain? sehingga kini aku hamil, padahal status ku kini sudah menjadi seorang janda."


"Tentu saja tidak!"


Seketika Dwi langsung mengangkat kepalanya menatap kepada Erick.


"Bukankah waktu itu kamu bilang kalau kamu baru saja bercerai dengan mantan suami mu satu bulan lalu! jadi wajar jika sekarang kamu mengandung anaknya." Ucap Erick yang sekilas menoleh kepada Dwi. "Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang? apa kamu akan memberi tahu mantan suami mu?" Tanyanya.


"Aku tidak tahu." Ucap Dwi yang sedikit kebingungan.


"Walau bagaimanapun anak yang ada dikandungan mu itu adalah anaknya. Dan mantan suami mu berhak untuk mengetahuinya." Pungkas Erick.


Namun Dwi hanya diam saja. Dia sedang bergulat dengan hati dan pikirannya. "Apa yang harus aku lakukan sekarang? apakah aku sanggup untuk memberi tahu Azka tentang kandunganku ini?" Batinnya. "Tapi ucapan Pak Erick memang benar! kalau Azka memang berhak mengetahuinya. Aku akan menunggu waktu yang tepat untuk memberitahunya." Lanjutnya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2