
***
"Edwin apa kamu punya pacar?" tanya azka pada asistennya.
"tidak pak." Edwin menatap heran kepada azka, mengapa dia menanyakannya. padahal sebelumnya azka tidak pernah tertarik dengan urusan pribadinya.
"menurutmu, viona itu orangnya seperti apa?" tanyanya lagi.
"Bu viona itu cantik, seksi dan juga pintar." jawab Edwin. "memangnya kenapa? bapak tidak berniat untuk menjadikannya istri kedua kan?" Edwin berusaha menepis prasangka nya.
"tentu saja tidak!" sahut azka. "aku hanya meminta pendapatmu tentangnya." lanjut azka.
"kalau pendapat bapak sendiri bagai mana?" tanya laki-laki yang usianya dua tahun lebih muda dari azka.
"dia cantik dan pintar. tapi dia sama sekali bukan kriteria ku." sahutnya kemudian duduk di meja untuk membaca berkas laporan.
"tapi sepertinya Bu viona terobsesi pada bapak." ujar Edwin. seketika azka menatap tajam kearahnya. "maaf. kalau saya salah bicara." lanjutnya.
"Dwi memintaku untuk risign dan mencari pekerjaan lain." ucap azka seraya memijit pelan keningnya.
"apa ini ada hubungannya dengan Bu viona?" tanya Edwin. Azka mengangguk kecil.
"sangat disayangkan jika bapak berniat untuk risign di dunia perhotelan. karena di luaran sana banyak orang yang pastinya ingin menggantikan posisi bapak." ucap Edwin.
"ya. kamu benar. maka dari itu aku ingin meminta bantuanmu, agar aku bisa keluar dari masalah ini."
"memangnya pak Azka memerlukan bantuan apa dariku?"
"dekati viona. buat dia jatuh cinta kepadamu." pinta azka menatap dalam kepada laki-laki yang sudah dia anggap seperti sodaranya sendiri.
sontak Edwin pun perkejut mendengar permintaan dari Azka. bagai mana bisa Edwin mendekati viona, sedangkan hanya sekedar untuk menatapnya saja Edwin tidak berani.
"maaf pak. tapi kali ini aku tidak bisa memenuhi keinginan bapak."
"memangnya kenapa? kamu itu orang yang baik, dan penampilanmu juga cukup keren. aku rasa bukan hal yang sulit untuk viona agar bisa jatuh cinta kepadamu." tutur azka.
__ADS_1
Edwin pun terdiam, tak mengindahkan permintaan dari Azka. bukan karena dia tidak menyukai viona, namun karena viona itu anak dari pemilik hotel tempatnya bekerja, sehingga dia pun enggan untuk mendekatinya.
"kamu bisa memikirkan baik-baik ucapanku ini. percayalah, kalau viona tidak pernah memandang seseorang dari jabatannya." ucap Azka yang seakan tahu apa yang dipikirkan oleh asisten yang sudah bertahun-tahun bekerja bersamanya.
Edwin melihat jarum jam yang ada ditangannya. "sepertinya acaranya sudah mau di mulai pak. apa tidak sebaiknya kita ke ballroom sekarang?"
Azka ikutan menoleh jarum jam tangannya. "ya kamu benar! kita pergi sekarang." ucap Azka. Edwin pun mempersilahkan Azka untuk berjalan lebih dulu yang di ekori nya dari belakang.
Acara general staff meeting pun berjalan dengan cukup meriah, karena semua staff bahkan pak bagas pun turut hadir disana.
"selamat siang pak." sapa Azka seraya menyodorkan tangan untuk berjabatan.
"ya, selamat siang Azka." sahutnya seraya menjabat tangannya. "silahkan duduk." lanjut pak bagas kepada Azka dan juga Edwin.
keseruan tampak diawal setiap performa yang di tampilkan oleh setiap talent untuk mendapatkan door prize yang menarik. tak tanggung-tanggung, Azka pun ikut menyumbangkan sebuah mobil sebagai hadiah bagi peserta yang beruntung.
tiba-tiba viona mendekati Azka dan berbisik di telinganya. "bisa ikut aku sebentar?" tanyanya.
Azka tertegun sejenak. lalu kemudian mengangguk kecil. "maaf pak. saya tinggal sebentar." ijin Azka. lalu berdiri dari duduknya mengikuti viona yang sudah terlebih dulu bergegas.
"terima kasih." pak bagas terkekeh lalu menenggak minuman itu.
Edwin pun tersenyum tipis.
"Azka itu seorang laki-laki yang pekerja keras. andai saja dia belum menikah, aku pasti sudah menjadikannya menantuku." ucap pak bagas secara tiba-tiba.
lagi-lagi Edwin hanya tersenyum, tapi kali ini senyumnya terlihat berat seakan-akan adanya keterpaksaan.
"apa menurutmu viona itu tidak cukup cantik untuk menjadi pendamping Azka? sehingga Azka tidak pernah berniat untuk memilikinya?" tanya pak bagas.
"cantik! tentu saja bu Viona terlihat sangat cantik." kali ini Edwin angkat suara.
"apa kamu menyukainya?"
"uhuk." Edwin langsung tersedak minuman yang baru saja masuk kedalam rongga mulutnya hingga keluar melalui rongga hidungnya. "ma-maaf pak." Edwin mengambil tissue lalu me-lap mulut dan hidungnya yang basah.
__ADS_1
pak bagas menatap wajah Edwin yang tampak memerah akibat menahan malu.
...Lounge....
"aku tidak enak, kenapa kita harus berada disini sementara yang lainnya berada di sky ballroom." ujar Azka dengan nada bicaranya yang cool.
"kamu tidak perlu khawatir! ada atau tanpa adanya kamu pun acaranya akan tetap berlangsung." ucap viona.
"bukan itu maksudku." ucap Azka. Viona tampak mengamati raut wajah Azka yang begitu memukau. sadar akan hal itu, Azka melempar pandangan kearah lain agar tidak bertatapan dengannya.
Viona menggerakkan tangannya, dan perlahan menyambar tangan Azka lalu menggenggamnya. "apakah mencintai seseorang rasanya harus sesakit ini?"
Azka menepis pelan tangannya. "tentu saja tidak, jika kamu mencintai seseorang yang tepat."
"apa aku salah, jika aku mencintaimu?"
"tentu saja! aku sudah menikah, dan kamu juga tahu itu."
"tapi ini bukan kehendakku. kalau aku bisa memilih, aku akan memilih mencintai laki-laki yang juga mencintaiku." lirihnya.
"cobalah untuk melupakanku."
"bagaimana bisa aku melupakanmu? bukankah kamu juga tahu betapa sulitnya melupakan seseorang yang kamu cintai di kehidupanmu."
Azka tertegun mendengar ucapan Viona. seketika dia pun teringat kembali akan kenangannya bersama Nadia.
"selama ini aku selalu mendapatkan apapun yang aku inginkan. tapi tidak dengan cintamu."
"tolong berhenti membahas tentang perasaanmu, karena aku sudah tidak ingin mendengarnya lagi." pinta Azka.
"aku tidak akan berhenti mengutarakannya, sampai kamu mau membuka sedikit saja celah pintu hatimu untukku." ucap Viona. "kamu egois ka. kamu meminta aku untuk mengerti kamu, tapi kamu sendiri tidak bisa memahami perasaanku. aku sudah menunggumu cukup lama, bahkan saat kamu menikah dengan nadia aku pun mengikhlaskannya. hingga suatu saat, ketika kalian mengalami kecelakaan sehingga harus merenggut nyawa nadia, aku masih berusaha menunggumu agar kamu bisa melupakan bayang-bayangnya. tapi nyatanya kamu malah lebih memilih untuk menikahi wanita lain." ucap Viona panjang lebar dan terlihat menitikkan air matanya.
"aku tidak pernah memintamu untuk menungguku. bahkan saat itu aku juga tidak yakin kalau aku bisa mencintaimu dan menggantikan posisi Nadia di hatiku. bahkan kamu sendiri yang bersikukuh untuk menungguku, padahal aku sudah memintamu untuk belajar mencintai laki-laki lain."
"jahat sekali kamu Azka. padahal aku sudah menaruh harapan yang besar kepadamu. hiks.hiks.hiks." tangis Viona pun kini pecah.
__ADS_1
Viona memang sudah lama menaruh perasaan kepada Azka. Azka adalah senior di kampusnya.