
selesai interview dwi keluar untuk mencari makan, sekaligus mencari sindi. "ekh, itu sindi! samperin gak ya?" batinnya. dwi menoleh kearah laki-laki yang ada di samping sindi. "hukh, ada tunangannya juga, bisa ngamuk dia kalau aku samperin." gumamnya. akhirnya dwi memutuskan untuk makan sendiri.
-
"tadi aku sudah ketemu sama sodara sepupu kamu." ucap riko di sela-sela makannya.
"hm, baguslah." ujar sindi seraya pokus menyantap makanan yang ada di hadapannya.
"kenapa kamu membawa dia masuk kedalam kamar khusus kita?" tanyanya.
"tadi pakaiannya kotor dan basah, makannya aku memintanya untuk mengganti pakaian." jawab sindi.
"kenapa harus dikamar kita?" tanyanya lagi.
"sudahlah sayang, ini hanya masalah kecil kenapa jadi kamu permasalahkan sikh?" sindi meletakkan garpu dan sendoknya.
"hal kecil kamu bilang? tadi aku memeluknya karena aku pikir dia itu kamu." jelas riko.
"sungguh?" tanya sindi tidak percaya.
"ya. oleh karena itu, mulai sekarang jangan pernah membawa wanita lain masuk kedalam kamar khusus." ujarnya.
sindi mengusap-usap jas yang di kenakan riko lalu meniupnya.
"apa yang kamu lakukan?" riko tercengang melihat sikap sindi terhadapnya.
"aku tidak terima jika bekas badan dwi menempel di tubuhmu." ucapnya yang terus melakukan hal anehnya.
"sudah cukup, jangan seperti ini. kamu lihat, semua orang menatap kearah kita." ucap riko.
"aku tidak perduli!" ucap sindi.
**
sindi memasuki kamar dwi, sementara dwi baru saja keluar dari kamar mandi setelah membersihkan badannya dengan hanya mengenakan handuk.
"sedang apa kamu?" tanya dwi yang menggibas-gibaskan rambut dan mengeringkannya dengan hairdryer.
sindi tampak memperhatikan lekuk tubuh dwi secara seksama.
"jangan menatapku seperti itu." ucap dwi seraya melempar alat makeup yang ada di hadapannya.
"aww, sakit bego!" pekiknya.
"mending sekarang kamu keluar deh." sinis dwi kepada sepupunya.
"kenapa kamu mengusirku? seharusnya kamu berterima kasih padaku, karena aku, kamu bisa bekerja di perusahaan besar milik tunanganku."
mendengar ucapan sindi, seketika membuatnya mengingat kembali saat riko memeluknya dari belakang. "setelah aku pikir-pikir, ternyata tunanganmu boleh juga." ucap dwi lalu tersenyum tipis.
"jangan macam-macam! dia itu milikku." sentaknya.
"kamu masih ingat gak? apa pesan nenek kepada kita?" tanya dwi.
"apa?" tanyanya.
"nenek kan sering bilang kalau sesama sodara sepupu kita harus saling berbagi."
__ADS_1
"lalu?" tanyanya lagi.
"kamu mau kan, membiarkan aku untuk mencicipi sedikit saja tunanganmu itu." ucap dwi yang mendekatkan wajahnya menggoda sindi lalu tersenyum nakal.
"sialan! awas saja kalau kamu berani macam-macam dengan laki-laki kesayanganku." desusnya seraya menoyor kening dwi.
dwi mendengus kesal. "aku ingin beristirahat. jadi pergilah."
"jam segini kamu sudah mau tidur? sungguh?"
"memangnya kenapa?" tanya dwi.
"sungguh disayangkan, padahal aku ingin sekali mengajakmu bersenang-senang."
"kemana?" tanyanya mulai penasaran.
"sudahlah, bukannya tadi kamu bilang ingin tidur." ucap sindi.
"sepertinya aku belum mengantuk." jawabnya antusias.
"benarkah?"
"ya." dwi mengangguk dan tersenyum penuh harap.
"ya sudah, bersiap-siaplah. aku tunggu di bawah."
"oke." dwi mengacungkan jempolnya.
...*club malam*...
"kenapa kamu membawaku ke tempat seperti ini?" tanya dwi, seraya berjalan mengekori sindi.
"apa kamu sering kesini?" tanya dwi.
"tentu saja." jawabnya.
...jep. ajep. ajep. ajep....
suara musik terdengar keras di kendang telinga. sindi tampak asyik menikmati dan menggeleng-gelengkan kepalanya. sesekali dia juga menenggak minuman beralkohol yang ada di tangannya.
"kenapa tidak minum?" tanya sindi, saat melihat minuman di sloki yang di pegang dwi masih utuh. " jangan bilang kalau kamu belum pernah mencobanya?"
"tentu saja aku pernah mencobanya!"
"lalu kenapa kamu tidak meminumnya?" sindi terus memprovokasinya. "dasar payah! aku tahu, kamu pasti belum pernah meminumnya."
"rese nih si sindi! mau tidak mau terpaksa aku harus meminumnya agar dia tidak menyepelekanku." batin dwi. dwi langsung menenggak minuman itu.
"bagai mana?" tanya sindi yang terlihat memicingkan senyumnya.
" rasanya sama seperti minuman beralkohol pada umumnya." jawab dwi tengah berbohong.
"sungguh?"
"ya." jawab dwi.
"padahal itu minuman non alkohol loh." ucap sindi lalu tersenyum tipis.
__ADS_1
"benarkah?" tanya dwi. "tapi kok rasanya aneh ya?" batinnya.
"iya, jadi meskipun kamu minum banyak, kamu tidak akan mabuk." ujar sindi tengah berbohong. "lihat saja apa yang akan terjadi kepadamu." sindi memicingkan senyumannya.
setelah minuman di tangan dwi habis, sindi terus menantangnya agar dwi mau tambah lagi dan lagi hingga dia pun kini mabuk.
"aduh, kepalaku pusing sekali." pekik dwi seraya memegangi kepalanya.
"apa kamu baik-baik saja?" tanya sindi berbasa-basi.
"aku ke toilet dulu." ucapnya tampa menjawab pertanyaan sindi. dwi berjalan dengan sempoyongan, yang bahkan dia sendiri juga tidak tahu arah toilet kemana. namun dia terus berjalan ke depan sehingga menabrak seseorang.
...bruukk......
"apa kamu tidak punya mata?" sentak laki-laki itu yang menatap sinis kepadanya.
"apa kamu tidak melihat? mataku disini." ucap dwi seraya menunjuk matanya. bicaranya pun belepotan akibat pengaruh dari alkohol.
"kurang ajar!"
"sudahlah ka, cewek ini sedang mabuk, kamu tidak perlu meladeninya." ucap temannya.
"aku sudah gak tahan." dwi membelah dan menabrak keras kedua laki-laki yang menghalangi jalannya.
"sialan! siapa sikh tu cewek?" decah azka, menatap kepergian dwi.
"kayaknya dia orang baru, soalnya aku juga belum pernah melihat dia sebelumnya." ucap geri pengelola club malam di tempat itu. "sudahlah, jangan pikirkan dia, ayo duduk."
"kamu duluan, aku ingin pergi ke toilet sebentar." ucap azka.
"oakk...oakk..."
seketika azka langsung menghentikan langkah kakinya, ketika mendengar suara wanita berada di dalam toilet pria. namun tiba-tiba...
bruuuaaaghkkkkkk...
pintu terbuka keras, dan tampaklah dwi yang baru saja keluar dari sana. jalannya masih sempoyongan, dan tiba-tiba tubuhnya ambruk di pelukan azka, seketika aska langsung mendorong tubuhnya hingga dia tersungkur.
"aww..." pekiknya.
"dasar cewek sialan, apa yang kamu lakukan di toilet pria." maki azka kepada dwi.
"kepalaku pusing sekali! tolong antarkan aku pulang." pinta dwi kepada azka.
"cihh, jangan harap." desisnya.
"kepalaku ku benar-benar pusing." pekik dwi seraya terus memegangi kepalanya.
"ada apa ini?" geri yang tiba-tiba muncul. "cewek ini? apa yang sedang kalian lakukan?" geri menatap heran keduanya.
"tolong antarkan aku pulang." ucap dwi hingga akhirnya dia pun kini pingsan.
geri membungkukkan badannya. "hei, bangun...hei, kamu tidak boleh tidur disini." geri berusaha untuk menyadarkannya. geri pun memegangi dagu dwi dan mengamati wajahnya. "cantik! apa kamu tidak tertarik dengannya?" tanya geri yang menoleh kepada azka.
"apa yang kamu bicarakan?" azka menatap sinis kepada geri.
"aku akan membawanya pulang." ucap geri yang tiba-tiba.
__ADS_1
"apa?" azka terkejut.
"ya, dia itu cantik! sayang kalau di anggurin." ucap geri, dia pun mengangkat tubuh dwi lalu membawanya keluar dari club.