
"sekarang cepat ganti pakaian mu." titah azka.
"azka kita akan ke acara pernikahan teman ku, kamu tidak bisa mengajaknya." ucap viona.
"kalau dia memang tidak bisa ikut, berarti aku juga tidak bisa pergi." ucap azka, seketika dwi tampak memicingkan senyumannya.
"tapi kamu sudah berjanji akan menemani ku malam ini."
"aku tidak bisa membiarkannya sendirian di rumah." ucap azka seraya menoleh kepada dwi. "atau dia akan berkeluyuran di luaran." lanjutnya.
seketika pun dwi cemberut dan memanyunkan bibirnya, seraya menatap sinis kepada azka.
"kamu bisa mengikatnya di kamar." ujar dwi.
"hekh, kamu pikir aku kambing apa." sentak dwi kepada viona.
"kalau kamu memang tidak mengijinkan ku untuk membawanya, aku tidak jadi pergi." tandas azka.
"ya udah, dia boleh ikut." ucap viona.
dwi pun tersenyum.
"ngapain cengar-cengir? ganti baju sana!" titah azka kepada dwi.
azka memasuki mobil. viona membuka pintu mobil depan namun tiba-tiba saja dwi menyerobotnya.
"minggir aku mau duduk di depan." ucap dwi seraya mendorong tubuh viona. viona tampak mendengus kesal dengan apa yang di lakukan dwi.
azka menatap tajam kepada dwi. "dasar kekanak-kanakan." gumamnya.
dwi berpura-pura tak mendengar ucapan azka. "ekh, jalan dong."
..._gedung pernikahan_...
viona memasuki gedung pernikahan seraya menggandeng tangan azka, sehingga membuat dwi merasa geram di buatnya. namun dia tetap berusaha bersikap tenang agar azka tidak mengetahui perasaan dwi yang sebenarnya.
"selamat menempuh hidup baru." ucap viona kepada kedua mempelai. dia pun ber cipika-cipiki kepada mempelai wanita.
wanita itu menoleh kearah tangan viona yang sedang menggandeng erat tangan azka. "apa dia calon suamimu?" tanyanya.
viona menoleh kepada azka lalu tersenyum.
"bukan, kita hanya berteman." ucap azka.
__ADS_1
"untuk sementara mungkin hanya sekedar teman, tapi kita tidak pernah tahu kedepannya akan seperti apa. iya kan?" ucap mempelai pria.
lagi-lagi viona hanya tersenyum. sementara azka menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"sial! kenapa tadi aku mau saja, saat azka mengajakku kesini. padahal lebih baik aku tidur saja di rumah." batin dwi. dia pun mengelilingi pesta untuk menjauhi azka. karena melihat sikap viona terhadap azka yang seperti itu membuatnya sedikit muak.
dwi mengambil minuman yang ada di meja. dia terlihat sangat jenuh, tangannya gak bisa diam menggerayangi semua gelas yang telah berisi minuman lalu menghitungnya. hingga tanpa sengaja dia menabrak seseorang.
"aa..." pekiknya. matanya langsung mengarah ke jas yang di kenakan pria berbadan kekar itu. dia pun langsung meminta maaf tanpa menoleh kearah wajahnya. "maaf aku tidak sengaja." ucap dwi seraya mengusap-usap jas laki-laki itu yang basah akibat terkena tumpahan minuman yang di peganginya.
"dwi." tuturnya.
dwi mendongakkan kepalanya menatap wajah laki-laki yang ada di hadapannya. "riko." dwi tampak terkejut lalu perlahan mundur.
"pucuk di cinta, ulam pun tiba." ujar riko. "kamu kesini sama siapa?" tanyanya, seraya mengamati lekuk tubuh dwi dengan tatapan mesumnya. "apa kamu sendirian? dimana suamimu?" riko terus mendekati dwi yang sedang berusaha menghindarinya.
"menjauhlah, jangan dekati aku." ucap dwi.
"ayolah! coba kamu lihat semua orang yang ada disini, mereka tampak berpasangan." ujarnya.
dwi menatap ke sekeliling, pandangannya terkunci kepada azka yang sedang berdansa dengan viona. "dia bahkan tampak menikmati acara ini bersama wanita itu." batin dwi.
"mau kah kamu berdansa dengan ku?" ucap riko seraya menyodorkan tangannya.
"lepaskan tanganku!" sentak dwi, sehingga semua orang yang ada di sana menatap kearahnya. tak terkecuali azka yang terkejut saat melihat kehadiran riko di acara pernikahan teman viona. azka pun menghampiri keduanya yang di ikuti oleh viona.
azka langsung menepis tangan riko, dan menarik dwi agar mendekat kearahnya.
"kamu disini juga rupanya." tutur riko dengan senyum liciknya.
"azka." viona mendekatinya lalu kembali menggandengnya.
riko terkejut melihat sikap wanita di hadapannya yang tampak begitu lengket dengan azka.
"dwi lebih baik kamu ikut denganku."
"aku tidak..." ucapan dwi menggantung di tenggorokan saat dia melihat viona yang tampak semakin lengket kepada azka.
"menyebalkan! mengapa aku harus melihat pemandangan ini." batin dwi seraya menatap sinis kepada azka dan juga viona.
"menyedihkan sekali!" ucap riko. "kenapa kamu mau mempertahankan pernikahan mu dengannya? kamu ngejudge aku sebagai laki-laki pemain cinta, lalu dia apa?" ujar riko seraya menunjuk kepada azka. "seburuk-buruknya aku, lebih buruk lagi seorang laki-laki yang telah beristri tapi bermesraan dengan wanita lain, bahkan di hadapan istrinya sendiri."
"jangan sembarangan! dia itu hanya temanku." azka melakukan pembelaan.
__ADS_1
"menyedihkan kamu bilang? bahkan aku tidak perduli sekalipun azka menjalin hubungan dengan wanita ini." ucap dwi seraya menoleh kepada viona.
"kalau kamu memang tidak punya perasaan pada suami mu, kenapa kamu tidak mengakhiri hubungan mu dengannya." viona angkat suara seakan menantang dwi. seketika dwi tak berkutik mendengar ucapan viona.
"sebaiknya kita pulang sekarang." ajak azka seraya menarik tangan dwi.
di mobil keduanya diam seribu bahasa. dwi terus menoleh keluar kaca mobil dengan tatapan kosong. sementara azka fokus menyetir. sesekali azka menoleh kearahnya. sesampainya di apartemen dwi langsung memasuki kamar dan menguncinya dari dalam.
"seharusnya aku tidak boleh cemburu kepada wanita itu. harusnya aku sadar diri, siapa aku dan siapa dia." batin dwi.
keesokan harinya.
azka keluar dari kamarnya, dia pun duduk di meja makan seraya terus menatap kearah pintu kamar dwi. "sedang apa dia? kenapa dari tadi aku tidak melihatnya keluar kamar?" batin azka.
kring... ponselnya berdering, azka pun mengangkatnya. "*ada apa?" tanya azka kepada seseorang dari sambungan telepon.
"kamu di mana? kenapa belum ke kantor?"
"maaf, aku sedang tidak enak badan. hari ini aku ijin karena tidak bisa bekerja." ucap azka.
"benarkah?"
"iya." ucap azka. saat melihat dwi keluar dari kamar, azka segera mengakhiri sambungannya*.
"dwi kamu mau kemana?" tanya azka, saat melihatnya sudah berpakaian rapi dengan mav yang ada di tangannya.
"aku ingin melamar kerja." jawabnya.
"melamar kerja? kenapa? apa uang yang aku berikan padamu kurang?" azka menodong dwi dengan beberapa pertanyaan.
"bukan seperti itu! aku hanya ingin mempersiapkan diri, sebelum nantinya kita melakukan perceraian, aku tidak akan terlalu kesusahan karena telah memiliki pekerjaan." ucap dwi.
azka menatap lekat wajah dwi. "apa kamu sedikitpun tidak mempunyai perasaan kepadaku? aku mencintaimu, apa kamu tidak bisa merasakannya." batin azka.
"ya, hati-hati."
"ini sudah sangat siang, kenapa kamu belum bekerja?" tanya dwi.
"sebenarnya ada hal penting yang ingin aku bicarakan padamu."
"tentang apa?" tanya dwi.
"tentang kita." jawab azka.
__ADS_1