Duda Tampan Haus Belaian

Duda Tampan Haus Belaian
salah paham


__ADS_3

Azka merasa iba melihat tangisan Viona. dia pun merapatkan kursi mendekatinya, lalu menyandarkan kepala Viona di bahunya. "aku minta maaf. aku tidak bermaksud untuk membuatmu menangis dengan ucapanku. aku hanya ingin membuatmu mengerti kalau aku tidak mungkin mencintaimu."


"apa kelebihan Dwi sehingga kamu tidak bisa mencintaiku?" tanyanya dengan pilu.


Azka membayangkan wajah Dwi yang imut serta tingkah lakunya yang sedikit polos. tanpa sadar dia pun tersenyum. di satu sisi, Azka pun tidak menyangka dari sekian banyak wanita yang berusaha untuk mendekatinya, nyatanya malah gadis bobrok dan sedikit bar-bar seperti Dwi yang berhasil menerobos masuk kedalam dan kini menetap di hatinya.


Viona melingkarkan tangannya di pinggang Azka lalu memeluknya dengan erat, serta menelungkupkan wajahnya di dada Azka.


"dasar pembohong! jadi ini yang selama ini kamu lakukan di belakangku." Dwi yang tiba-tiba datang langsung menyiram wajah Azka dengan minuman yang ada di meja.


Azka melepas pelukan Viona dan berdiri dari duduknya. "wi kamu salah paham, ini tidak seperti apa yang kamu lihat."


"salah paham kamu bilang? sudah cukup selama ini kamu membodohiku. aku pikir kamu benar-benar tulus mencintaiku, tapi lagi-lagi kamu menyakiti perasaanku." sentaknya. mereka kini menjadi pusat perhatian beberapa orang yang ada di sana.


"kita selesaikan ini di rumah." ucap Azka, karena malu lagi-lagi menjadi pusat perhatian.


"tidak perlu! kita selesaikan ini sekarang juga." bentak Dwi menepis tangan Azka yang berusaha meraih tangannya.


"heh pelakor! kamu gak bosen-bosennya ya gangguin suami orang." desis Dwi seraya mendorong tubuh Viona sedikit keras. kali ini Viona diam tak melawan.


bartender yang melihat perlakuan kasar dari Dwi pun menghampiri mereka. " Bu Viona baik-baik saja?" tanyanya. Viona hanya mengangguk dengan raut wajah yang seakan-akan terzolimi.


"wi, cukup wi. ayo kita pergi dari sini." desus Azka di telinganya.


"lepaskan aku! aku ingin memberi pelajaran kepada wanita ini, agar dia tidak berani mengganggumu lagi." sentaknya lalu menarik rambut Viona dan menjambaknya. entah kenapa kali ini Viona terlihat sedikit kalem dan menerima semua serangan Dwi tanpa sedikitpun melawannya.


"aakh,, sakit..." pekiknya.


"Dwi hentikan!" teriak Azka membentaknya.


Dwi menghentikan aksinya terhadap Viona lalu menatap tajam kearah suaminya.


melihat api kemarahan di mata Dwi. Azka kembali menurunkan nada bicaranya. "sebaiknya kita pulang." Azka kembali meraih pergelangan tangan Dwi. Dwi melihat kelima jari tangan suaminya itu sudah melingkar sempurna di pergelangan tangannya. namun sesaat kemudian, perlahan Dwi melepasnya.


"aku akan pulang ke rumah orangtuaku." ucap Dwi. "dan aku akan segera mengurus surat perceraian kita." lanjutnya. air mata yang sedari tadi ia bendung pun kini mengalir deras di pelupuk mata.


Azka terkejut mendengar ucapannya. sementara Viona tampak memicingkan senyumannya mendengar perkataan dari Dwi yang berniat akan menceraikan Azka.

__ADS_1


"jangan bicara seperti itu, percayalah kalau hanya kamu satu-satunya wanita yang aku cintai."


"aku pergi! kita akan bertemu lagi di persidangan." lirih Dwi yang sudah berlinang air mata membasahi pipinya.


Azka berusaha untuk mengejarnya. "aku tidak mau berpisah denganmu, karena aku mencintaimu."


Dwi terus melangkahkan kakinya, tak menghiraukan ucapan Azka yang terus mengekorinya. dia segera memberhentikan taksi lalu menaiki dan mengunci pintunya. Azka menggebrak jendela taksi berharap Dwi mau menghentikannya. namun rasa sakit di hati Dwi sudah mengalahkan semuanya.


"jalan terus pak." pinta Dwi pada supir taksi.


***


Dwi bermaksud untuk bermalam di apartemen Sindi, untuk menenangkan hatinya terlebih dulu sebelum dia pulang ke rumah orangtuanya.


"aku tidak menyangka, kalau Azka sama brengseknya dengan Riko." cibir Sindi. "apa kamu benar-benar ingin menggugatnya?" tanya Sindi.


"ya, perceraian sepertinya satu-satunya jalan terbaik untuk kita." lirih Dwi.


Sindi menatap lekat wajah Dwi. dia tahu betul bagaimana rasanya di hianati oleh seseorang yang dicintai.


keesokan harinya. Dwi baru saja tiba di halaman rumah kedua orangtuanya. saat pintu terbuka diapun langsung memeluk kedua orangtuanya secara bergantian.


"apa yang ibu bicarakan? tentu saja aku tidur di apartemen Azka dengannya." Dwi berbohong.


"kalau ada masalah seharusnya kamu selesaikan baik-baik di rumah."


"maksud ibu?"


"aku akan berbaik sangka! kalau kamu semalam mungkin tidur di rumah temanmu." ucap Azka mulai menampakkan diri di depan Dwi.


"ngapain kamu kesini?" Dwi sedikit sinis.


"dari semalam kenapa nomermu tidak aktif?"


"aku sudah berencana untuk mengganti nomor." ketus Dwi.


"kenapa? apa kamu ingin menghindari ku?"

__ADS_1


"to the point saja! untuk apa kamu kemari? bukankah kemarin aku sudah mengatakan bahwa kita akan bertemu lagi saat di pengadilan."


"apa kamu benar-benar akan menggugat ku? aku mohon, tolong urungkan niatmu itu. yakinlah kalau ini semua hanya salah paham."


"aku tekankan padamu! mau sampai mulutmu berbusa pun aku tidak peduli. dan aku juga tidak akan pernah percaya kepadamu lagi." tegas Dwi. "jadi sekarang aku minta, sebaiknya kamu cepat pergi dari sini." lanjutnya.


Azka menatap lekat wajah Dwi. sepertinya dia salah jika datang ke rumah orangtuanya. seharusnya dia memberi waktu untuk Dwi agar bisa berpikir lebih jernih terhadapnya.


"Azka sudah memberi tahu masalah yang telah kalian hadapi sekarang. saran ayah, sebaiknya kamu tenangkan pikiranmu dulu, setelah itu kamu ambil keputusan. jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari."


"tekadku sudah bulat ayah. aku tetep akan menceraikannya."


mendengar ucapan Dwi yang seakan kalau dia memang sudah benar-benar yakin dengan keputusannya, Azka pun tampak menyerah. "kalau itu memang keinginanmu, baiklah. aku akan menerima keputusanmu." ucap Azka yang terlihat sangat kecewa dengan keputusannya. lantas dia pun pamit dari rumah itu.


***


Azka terdiam diri di kamar, merenungi akan nasib pernikahannya yang kini sudah di ujung tanduk. dia tidak bisa menyalahkan keputusan Dwi karena kesalahannya.


"apa yang sebenarnya telah terjadi dengan pernikahanmu?" tanya Bu asmi yang tiba-tiba masuk dan duduk disampingnya.


"Dwi salah paham ma. dan sekarang dia meminta aku untuk menceraikannya." lirih Azka yang membasuh mukanya berkali-kali secara kasar.


"kenapa?" tanyanya menatap dalam.


"dia memergoki aku sedang berpelukan dengan wanita lain." jujur Azka.


"mama tahu, kalau dari awal kamu mau menyetujui pernikahanmu dengan Dwi atas dasar keterpaksaan. tapi itu bukan alasan untuk kamu bisa berselingkuh dengan perempuan lain dan menghianatinya."


"aku tidak selingkuh. dan aku juga tidak menghianatinya."


"lalu kenapa kamu bisa memeluk wanita yang tadi kamu sebutkan?"


"dia menangis, dan aku hanya bermaksud untuk menenangkannya." jelas Azka.


"kalau begitu kenapa kamu tidak mengatakan yang sebenarnya."


"Dwi tidak mempercayaiku." lirih Azka.

__ADS_1


"besok mama akan menemuinya, dan membantumu untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi." ucap bu asmi menepuk pundak putranya kemudian keluar dari kamarnya.


__ADS_2