Duda Tampan Haus Belaian

Duda Tampan Haus Belaian
tidak sengaja.


__ADS_3

dwi berdiri di depan cermin, seraya menatap wajahnya. "apa wajahku ini begitu tampak menyebalkan? kenapa ibu selalu marah-marah setiap kali melihat wajahku ini." gumamnya.


tok tok tok.


dwi bergegas membuka pintu kamarnya.


"ini baju untukmu, kamu pakai besok ya?" ucap bu patma antusias.


dwi mengernyitkan dahinya. "memangnya ada acara apa bu?"


"besok kita akan kedatangan tamu."


"tamu?"


"ya. kamu besok dandan yang cantik ya?" ucap ibunya lalu tersenyum.


"memangnya sekarang aku ganteng bu?" tanya dwi datar.


plak plak.


bu patma langsung memukulnya. "hari ini kamu jelek sekali." maki ibunya.


"aw, ibu kenapa harus main pukul sikh?" pekiknya.


"itu cara ibu memperlakukan gadis bodoh sepertimu." ucap bu patma sebelum pergi.


"aisshhh..." umpat dwi melihat kepergian ibunya.


keesokan harinya.


tamu yang di tunggu-tunggu sudah datang. pak mukti dan bu patma menyambut kedatangan mereka dengan hangat. bu patma menyiapkan minuman serta makanan ringan di meja tamu.


"terima kasih bu. saya tidak enak, karena harus merepotkan."


"tidak apa-apa pak. bahkan saya sudah sangat menantikan kehadiran kalian." ucap bu patma.


"ibu bisa saja." ucapnya terkekeh.


"anak gadis ibu mana? saya sudah tidak sabar ingin melihatnya." ucap bu asmi.


"oh iya bu, cepat panggil dwi! kenapa dia lama sekali." pinta pak mukti.


tuk tuk tuk.


terdengar suara seseorang yang menggunakan hakhils sedang berjalan mendekati ruang tamu di mana mereka semua sedang berkumpul.


"dwi..." bu patma langsung berdiri lalu mendekatinya. "apa yang kamu lakukan? ganti pakaian mu." bisik bu patma seraya memukul pantatnya.


"aw, sakit bu..." rengeknya.


azka tampak sangat terkejut melihat wanita yang ada di hadapannya itu. "cewek ini? bukankah dia..." batinnya, azka terus menatapnya.


sementara kedua orangtua azka tampak melongo, melihat sikap dwi dan ibunya. terlebih lagi dengan pakaian dwi yang sedikit terbuka.


pak mukti berdiri lalu mendekati dwi dan menutupi tubuhnya dengan kain penutup televisi yang ada diruang tamu, lalu melingkarkannya di perut dwi agar menutupi auratnya. "sekarang kamu ganti pakaianmu, jangan permalukan keluarga ini." pintanya.

__ADS_1


"aku tidak ma..." ucapannya menggantung di tenggorokan saat dia baru sadar kalau sedari tadi seseorang sedang menatapnya. "dia? kenapa dia ada disini?" tanyanya yang sekilas menoleh kepada ayahnya.


"kalian sudah saling mengenal?" tanya pak ardi.


"kita se..."


"tidak pa! aku tidak mengenalnya." azka tiba-tiba menyerobot ucapan dwi.


seketika dwi langsung terdiam. "memang iya sikh, kita memang tidak saling mengenal! tapi kita sering bertemu." batinnya.


"dwi, tunggu apa lagi? sekarang cepat ganti pakaianmu dengan pakaian yang lebih sopan." ucap pak mukti.


"tidak perlu om!" ucap azka secara tiba-tiba. "saya sangat menyukai wanita yang berpenampilan seperti itu." lanjutnya. yang tentu saja membuat orangtua dwi dan orangtuanya tercengang dan mengernyitkan keningnya.


"apa-apaan ini?" batin dwi yang menatap heran kepada azka.


"ya sudah, dari pada kita mempermasalahkan soal pakaian, bagaimana kalau kita langsung makan saja? soalnya saya sudah lapar." ucap pak ardi terkekeh.


"papa..." bu asmi langsung mencubitnya.


pak mukti yang melihatnya pun tersenyum. "tidak apa-apa bu, apa yang dikatakan pak ardi itu benar, sebaiknya kita segera ke meja makan, mari..." ajaknya.


dimeja makan. dwi tampak terlihat beberapa kali menarik roknya yang kependekan, agar paha mulusnya tidak terlalu terekspos. dan azka menyadari akan hal itu, sehingga membuatnya tersenyum.


"sial! kenapa aku harus memakai pakaian sindi yang tidak sengaja aku bawa." batinnya, seraya terus menarik roknya.


"dwi..."


"iya yah?"


"sudah yah, berarti aku boleh masuk kekamar kan?" tanyanya.


"tidak! kamu sebaiknya ajak nak azka untuk berjalan-jalan sebentar."


"hoaammm..." dwi pura-pura mengantuk.


"jangan banyak alasan! ayah tahu, ini bukan waktunya jam tidurmu." sentaknya.


"hmm, baik ayah."


"aku boleh ikut gak?" tanya ica, yang baru menyelesaikan suapan terakhirnya.


"jangan! biarkan kak dwi dan kak azka pergi berdua." ucap pak mukti.


"feeling aku mulai gak enak nih, pasti ada udang di balik batu." batin dwi.


karena berbeda dengan azka. pak ardi dan bu asmi memberi tahunya terlebih dahulu tentang alasan mengajaknya untuk mengunjungi rumah pak mukti. pak mukti justru belum memberi tahu dwi perihal rencana perjodohan mereka.


*


"kenapa membawaku ke taman?" tanya azka.


"aku suka dengan pemandangan disini." ucap dwi, seraya lagi-lagi menarik roknya.


"apa kamu tahu alasan orang tua kita mempertemukan kita?" tanya azka.

__ADS_1


"tidak." jawabnya, tanpa menoleh kearah azka.


"mereka ingin menjodohkan kita."


"apa?" dwi terkejut. "kenapa kamu tidak menolaknya?" sentaknya.


"apa kamu pikir aku mau, menikah dengan cewek bar-bar seperti mu?" ucap azka yang membuat dwi terlihat kesal.


"aiisshh sialan!" umpatnya.


"lihat dari cara berpakaian mu itu? sungguh tidak sopan."


"cowok sialan! berhenti mengkritik penampilanku!" bentaknya. "apa kamu pikir, kamu itu seorang pria yang terhormat? aku tahu laki-laki macam apa dirimu." ucap dwi yang meninggikan nada bicaranya.


"oya? memangnya kamu pikir, pria seperti apa aku ini di matamu?"


"kamu itu hanya sekedar laki-laki hidung belang, yang mencari kepuasan nafsu." ucap dwi.


"lalu kamu sendiri wanita macam apa?"


"aku wanita baik-baik."


"wanita baik-baik tidak mungkin mau datang ketempat hiburan malam! aku bahkan beberapa kali telah melihatmu bersama dengan seorang laki-laki, lalu apa yang sedang kalian lakukan?"


"aku tidak melakukan apa-apa." sentaknya.


"jangan bohong! banyak wanita yang datang kepadaku, hanya untuk menemaniku minum, mereka bahkan tidak segan menawarkan diri untuk ku sentuh."


"sialan! buruk sekali aku ini di matanya. mentang-mentang aku sering datang ke tempat hiburan malam, terus dia bisa seenaknya ngejudge aku sembarangan. ya sudah, kalau memang aku ini perempuan seperti itu di matanya, aku akan memerankannya." batinnya, seraya menatap tajam kepada azka.


seketika dwi memicingkan senyumannya, lalu memegangi ujung rambutnya dan memainkannya. azka mengernyitkan dahinya saat melihat sikap dwi yang tiba-tiba berubah.


"baiklah! sepertinya kamu memang sudah mengetahui semua sifat burukku ini. lalu bagaimana? apa kamu ingin mencobanya?" tanya dwi seperti sedang menantangnya.


"apa maksudmu?" tanyanya.


dwi mendekati azka. " tempat ini sepi, kalau kamu mau, kita bisa melakukannya." bisik dwi.


"sialan! cewek ini sengaja menggodaku." batinnya, seraya menatap dwi yang beberapa kali terlihat menggibas-gibaskan rambut dan menjulurkan lidahnya. azka perlahan mundur, hingga bangku taman yang dia duduki menjadi tak seimbang dan membuatnya terjatuh.


"akhh sialan! berani sekali kamu memegang pantatku." bentak dwi, saat tak sengaja azka memegang pantatnya saat akan terjatuh tadi. azka tersenyum melihatnya. tak terima dengan apa yang sudah dilakukan azka terhadapnya, dwi pun memutuskan untuk pergi, namun azka menghentikannya. "tunggu..."


dwi menoleh.


"kenapa kamu terlihat marah?" tanya azka yang memicingkan senyumannya.


"dasar cowok bodoh! kamu pikir wanita mana yang tidak akan marah, pantatnya kamu pegang seperti itu." makinya.


"aku tidak sengaja! lagi pula kamu lihat sendiri kan, tadi itu aku terjatuh."


"tetap saja, kamu sudah kurang ajar dan tidak sopan." ucapnya.


"kurang ajar dan tidak sopan? bukankah kamu sendiri yang menawarkannya padaku? lantas kenapa kamu marah saat aku tidak sengaja memegangi bagian tubuhmu?"


dwi tertegun mendengar ucapannya. karena yang dikatakan azka memang benar adanya. tapi itu hanya akal-akalan dwi saja, dwi tidak bersungguh-sungguh untuk melakukannya.

__ADS_1


__ADS_2