Duda Tampan Haus Belaian

Duda Tampan Haus Belaian
memberitahu


__ADS_3

Saat Azka dalam perjalanan menuju rumahnya, saat lampu merah tidak sengaja dia melihat Dwi. Karena mobilnya berhenti tepat disebelah mobil Erick. "Dwi." Gumam Azka. "Tapi dia sama siapa?" Batinnya bertanya-tanya.


Tak lama kemudian lampu hijau, sehingga mobil yang ditumpangi oleh Dwi pun berjalan. Karena penasaran, Azka pun mengikuti mobil yang ditumpangi Dwi tersebut.


Sekitar lima belas menit kemudian, mobil itu berhenti tepat dihalaman rumah nenek Dwi. Azka terus memperhatikan keduanya dari kejauhan.


"Terima kasih Pak, lagi-lagi Bapak telah menolongku." Ucap Dwi. Yang dibalas senyuman kecil oleh Erick.


"Lain kali jika kamu merasakan pusing dan mual, kamu tidak perlu memaksakan diri untuk tetap bekerja." Ujar Erick.


Dwi menohok. "Maksud Bapak? Bapak tidak memecat saya kan?" Tanyanya sedikit takut.


"Tentu tidak!" Ucap Erick. "Kalau begitu aku permisi." Lanjutnya undur diri.


"Sekali lagi terima kasih Pak." Pungkasnya.


Erick pun segera pergi meninggalkannya. Tapi tak lama kemudian Azka menghampirinya. "Dwi..." Panggilnya.


Dwi menoleh. "Azka!"


"Maaf, apa aku mengganggumu?" Tanya Azka.


Dwi menggelengkan kepalanya. "Emm, tidak!" Jawabnya. "Ada apa?" Tanyanya. "Emm, maksudku tumben banget kamu kesini." Ralatnya.


"Laki-laki tadi siapa?" Tanya Azka to the point.


Dwi terpaku mendengar pertanyaan dari Azka. Karena bisa-bisanya dia secara gamblang menanyakan itu, padahal status mereka yang sudah berpisah.


Tiba-tiba nenek keluar, lalu melihat Azka dan Dwi yang hanya berdiri saja dihalaman rumahnya. "Dwi, ada tamu kok gak disuruh masuk..."


Azka menoleh, lalu berjalan menghampiri Nenek dan mencium tangannya. "Bagaimana kabar Nenek?" Tanya Azka.


"Kabar Nenek baik." Sahutnya. "Sebaiknya kalian masuk, tidak enak kalau ada tetangga yang lihat." Pinta Nenek. "Ayo... Nak Azka masuk." Ajaknya, seraya berjalan lebih dulu.


Dwi mengekori Neneknya. "Ayo masuk." Pinta Dwi juga.

__ADS_1


"Aku buatin minuman dulu ya." Ucap Dwi setelah masuk rumah, yang hanya dibalas anggukan kecil oleh Azka.


Tak lama kemudian Dwi kembali dengan dua gelas minuman yang ada ditangannya. Sementara Neneknya pamit pergi kekamar, karena Neneknya yakin, kalau ada sesuatu yang ingin dibicarakan Azka kepada Dwi sehingga Azka datang kerumahnya.


"Apa kamu tidak ingin menjawab pertanyaanku?" Tanya Azka.


"Pertanyaan yang mana?" Dwi pura-pura lupa, seraya meletakkan minuman itu dimeja.


"Laki-laki tadi, apa dia itu orang yang sekarang lagi dekat sama kamu?" Tanya Azka, dengan nada yang sangat rendah.


"Aku tidak dekat dengan laki-laki manapun! asal kamu tahu, laki-laki yang tadi mengantarku itu atasanku. Lagi pula aku dan kamu belum genap bercerai selama seratus hari, jadi mana bisa aku dekat dengan laki-laki lain." Ujar Dwi.


Azka tersenyum lega mendengar jawaban dari Dwi.


"Tapi, kok kamu bisa tahu kalau tadi aku dianterin sama atasanku? apa kamu ngikutin kita?" Tanya Dwi.


"Iya. Tadi saat lampu merah aku melihat kamu dengan laki-laki itu didalam mobil. Makanya aku ikuti kalian." Jawab Azka. "Terlepas dari itu, sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku sampaikan sama kamu." Lanjutnya.


"Apa?" Tanya Dwi.


"Aku sudah risign dari hotel." Jawab Azka.


"Pak Bagas memintaku untuk menikahi Viona. Dan aku tidak bisa!" Ujar Azka.


"Kenapa? bukankah kalian saling mencintai." Tanyanya.


"Harus berapa kali aku katakan sama kamu, kalau aku tidak pernah mencintai Viona." Ujar Azka. "Dan aku risign dari hotel itu karena kamu! ini kan maunya kamu selama ini? kamu ingin aku mengundurkan diri dari hotel." Lanjutnya.


"Tapi semuanya sudah terlambat." Ucap Dwi. "Percuma kamu melakukan itu, karena pada kenyataannya kita sudah bercerai." Lanjut Dwi yang berkaca-kaca.


"Aku memang sudah terlambat. Tapi tidak bisakah kamu mau memberikan satu kali lagi kesempatan untuk aku bisa memperbaiki semuanya?" Pinta Azka. "Kamu mau kan memulai semuanya lagi dari awal?" Tanyanya seraya menggenggam kedua tangan Dwi.


"Maaf Azka, untuk saat ini aku belum kepikiran untuk kembali membina rumah tangga. Aku ingin pokus menata hati aku yang dulu pernah kamu hancurkan." Dwi pun meneteskan air matanya.


"Tidak apa-apa jika kamu memang tidak bisa mempercayaiku! tapi satu hal yang harus kamu tahu, kalau hingga detik ini hanya kamu satu-satunya wanita yang bisa menggantikan posisi Nadia dihatiku. Dan hal yang harus kamu ingat, kalau aku bukanlah tipe laki-laki yang bisa mudah jatuh cinta dan berbagi hati dengan wanita lain." Ujar Azka. "Sepertinya sudah tidak ada lagi yang harus kita bicarakan. Kalau begitu aku permisi." Ucap Azka dengan raut wajah yang tampak sangat kecewa.

__ADS_1


"Tunggu Azka..."


Suara Dwi menghentikan langkah kakinya. Azka pun berbalik menoleh kepada Dwi. Kali ini keduanya berdiri tegak dan saling menatap lekat wajah satu sama lain.


"Aku hamil!"


Deg. Azka terkejut mendengar ucapan Dwi. Dia pun mendekati Dwi hingga tersisa beberapa senti meter saja antara jarak keduanya. "Kamu hamil?" Azka memastikan kalau pendengarannya baik-baik saja.


"Ya, aku sedang mengandung anak kamu." Jelas Dwi.


Refleks. Azka langsung memeluk erat tubuh Dwi. Seketika raut wajah yang tadi suram pun berubah berbinar. "Aku senang mendengarnya." Ucap Azka.


"Azka, maaf." Dwi melempaskan pelukannya.


"Sorry, aku refleks." Ujar Azka.


Hening sesaat...


"Berapa usia kandungan mu?" Tanya Azka.


"Dua bulan." Jawab Dwi.


"Kenapa kamu baru memberitahu aku?"


"Karena aku sendiri juga baru mengetahuinya." Jelas Dwi.


"Dwi, apa kamu tega membiarkan anak itu lahir tanpa seorang ayah?" Tanya Azka.


"Aku..." Dwi menggantung ucapannya di-tenggorokan.


"Kenapa?" Tanya Azka sangat lembut.


Namun tiba-tiba Sindi datang dan langsung menggoda keduanya. "Ciyee... Ciyee... Ekhm-ekhm... Kayaknya ada yang bakalan CLBK nih, alias cinta lama bersemi kembali." Goda Sindi.


"Sebenarnya aku ingin sekali, lebih lama lagi berada didekat Dwi. Tapi sepertinya Dwi tidak nyaman berada di situasi seperti ini. Dwi bisa jadi bahan olok-olokan nya Sindi." Batin Azka. "Kalau begitu aku permisi." Ucap Azka kepada keduanya.

__ADS_1


"Ya. Hati-hati ya calon ipar." Teriak Sindi menggoda Azka.


"Sin, apa-apaan si!" Dwi pun menarik tangan Sindi masuk kedalam rumah.


__ADS_2