Duda Tampan Haus Belaian

Duda Tampan Haus Belaian
Sindi suka sama Edwin.


__ADS_3

Keesokan harinya.


Seperti biasa, Dwi bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Dia mengeringkan rambutnya yang masih basah dengan handuk.


"Wi, hari ini biar aku yang antar kamu berangkat ke kantor." Ujar Sindi, lalu duduk ditepi ranjang menghadap kearah sepupunya.


"Gak usah! aku bisa berangkat sendiri." Tolak Dwi, yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Sombong! mentang-mentang sudah bekerja di perusahaan nomer satu di kota ini." Gerutu Sindi.


"Bukan gitu Sin... Memangnya kamu gak ngantor apa? perusahaan tempat kita kerja kan beda arah." Ucap Dwi.


"Kayaknya aku mau risign aja dari perusahaan Robby." Tuturnya.


"Kok gitu?" Dwi sedikit terkejut mendengar pengakuan Sindi.


"Akhir-akhir ini Robby tuh jadi perhitungan banget sama aku! mau ini gak di kasih, mau itu juga gak di kasih." Rengeknya.


Dwi membelalakkan matanya mendengar ucapan Sindi.


"Ekh Wi, Edwin itu orangnya kayak gimana sikh?" Tanya Sindi menyelidiki.


"Edwin?! tumben kamu nanyain dia?"


"Kemarin aku kenalan sama dia. Dan sepertinya dia orang yang asyik!" Jawabnya.


"Jangan manfaatin dia Sin, Edwin itu sebenarnya orang yang baik! ya meskipun dulu aku suka berantem sama dia." Ujar Dwi.


"Tapi dia itu tampan Wi." Ucap Sindi, seraya mengambil bantal guling lalu memeluknya.


"Sin, keluar dong. Aku mau pake baju nih..." Pinta Dwi setelah mengambil pakaian ganti yang ada di lemarinya.


"Apaan si Wi, kayak sama siapa aja! lagi pula aku ini kan cewek, dan bentuk kita itu sama. Aku gak mungkin tertarik saat melihat kamu telan*jang." Ujarnya.

__ADS_1


"Ampun nih anak... Pikirannya langsung ngeres aja! aku malu dan gak biasa berpakaian didepan orang lain meskipun itu kamu." Jelas Dwi.


"Masa sikh... Bagaimana dengan Azka?" Godanya.


Deg. Dwi tiba-tiba terdiam saat Sindi lagi-lagi mengungkit-ungkit namanya.


"Ekh sorry Wi, aku gak bermaksud untuk mengungkitnya lagi." Ucap Sindi merasa bersalah saat melihat ekspresi wajah Dwi.


"Aku gak pernah mangganti pakaian didepan siapapun termasuk Azka." Sahut Dwi.


"Serius kamu? kok bisa? padahal Azka itu kan suami kamu! aku aja yang masih pacaran, sering banget ganti baju didepan Riko. Malah dia sendiri yang kadang memakaikan pakaianku." Ucap Sindi.


"Dikh, dasar gak tahu malu! aib sendiri diumbar gitu." Celetuk Dwi.


"Bukan di umbar Wi... Ya aneh aja gitu! kalian kan suami istri. Terus apa Azka juga suka nyuruh kamu keluar saat dia akan mengenakan pakaiannya?"


"Ikh, kepo deh." Ketus Dwi. "Udah akh, kamu keluar sana..." Dwi pun menarik tangan Sindi dan menyeretnya keluar dari kamarnya.


*


"Kapan-kapan." Jawabnya dengan entengnya.


"Papa sudah berniat untuk menikahkan Viona dengan laki-laki pilihan Papa, tapi Papa ingin kamu menikah lebih dulu." Ujar Pak Bagas.


"Kalau begitu nikahkan saja Viona lebih dulu! aku tidak keberatan." Jawab Erick.


"Usia kamu itu sudah berkepala tiga." Ucap Pak Bagas. "Apa kamu tidak berkeinginan untuk membina rumah tangga? teman-teman kamu bahkan hampir semuanya sudah menikah."Lanjutnya.


"Menikah itu bukan soal umur, tapi kesiapan! aku masih ingin menikmati kebebasanku tanpa harus memikirkan pernikahan." Jawab Erick.


"Kamu memang keras kepala." Decak Pak Bagas.


"Aku pergi." Ucap Erick.

__ADS_1


Tak lama kemudian Viona turun dari tangga dan menghampiri Papanya.


"Tadi aku mendengar suara Kak Erick. Sekarang dimana dia Pa?" Tanya Viona sembari celingukan.


"Dia sudah pergi." Jawab Papanya.


"Sudah pergi lagi?!"


"Ya. Kamu seperti tidak tahu bagaimana sifat Kakak mu! dia pulang kalau ada perlunya saja." Ucap Pak Bagas.


"Memangnya tadi Kak Erick habis apa Pa?" Tanyanya lagi.


"Habis mengambil laptopnya yang tempo hari ketinggalan disini." Ujar Pak Bagas. Karena sudah dua tahun terakhir Erick memutuskan untuk tinggal sendiri.


"Semalam kamu menginap dirumah siapa?" Tanya Pak Bagas.


"Rumah teman." Jawabnya.


"Papa tahu! semalam kamu kan sudah kirim pesan ke Papa, cuma pas Papa tanya teman yang mana? kamu gak jawab." Ujar Pak Bagas.


"Emm..." Viona memikirkan cara untuk beralasan.


"Em apa?" Tanya Papanya.


"Aku nginap di rumah Debby Pa." Jawabnya berbohong.


"Kamu gak bohong kan?"


"Gak dong Pa! mana berani sikh aku bohongin Papa." Jawabnya yang lagi-lagi berbohong.


"Ya sudah, Papa mau berangkat dulu."


"Papa mau berangkat ke hotel?" Tanya Viona meyakinkan.

__ADS_1


"Iya." Jawab Pak Bagas singkat.


"Aku ikut kesana bareng Papa." Ucap Viona.


__ADS_2