
***
Satu Minggu kemudian.
Dwi pulang kerumah orangtuanya, setelah dia mendapatkan ijin cuti dari atasannya. Dial pun disambut hangat oleh ibu, ayah beserta adik-adiknya yang sudah sangat merindukan Dwi. Dwi duduk disamping Ica seraya merangkulnya.
"Ica kangen sama Kakak." Tutur Ica, kepada Dwi.
"Sama Ca. Kakak juga kangen sama kalian." Ucap Dwi, seraya menoleh kearah mereka secara bergantian.
"Andai saja Kakak gak pisah sama Kak Azka, mungkin sekarang kalian kesini bareng." Lirih Dio, merasa bersedih. Karena biasanya Dwi pasti ditemani oleh suaminya yang tak lain ialah Azka.
"Iya. Gara-gara Kak Dwi pisah sama Kak Azka, Kakak kesini nya jadi sendirian deh." Sahut Ica.
Dwi pun tersenyum masam, mendengar keluhan kedua adik kesayangannya itu.
"Ica, Dio, kalian tidak boleh berkata seperti itu." Ujar Pak Mukti. "Ada, atau tanpa adanya Kak Azka, seharusnya kita tetap senang, Kak Dwi pulang kesini disela-sela kesibukannya." Lanjutnya.
"Tapi kan..." Ica menggantung ucapannya.
"Sebenarnya Kakak tidak sendirian." Ucap Dwi tiba-tiba.
"Tidak sendiri?" Tanya Bu Patma. Mereka semua pun menoleh kearah luar, karena kebetulan pintunya terbuka. Takutnya ada seseorang yang tertinggal dan tidak mereka persilahkan masuk.
__ADS_1
"Aku kesini bersama..." Dwi mencoba menyusun kata yang tepat untuk dia utarakan. "Aku datang kesini dengan janin yang ada didalam kandungan ku." Lanjutnya dengan lantang.
Pak Mukti dan Bu Patma menohok. Terkecuali Dio yang terlihat gembira. Sementara Ica tampak bengong, dan belum mengerti yang dikatakan oleh Kakak perempuannya itu.
"Yee... Berarti sebentar lagi aku akan mempunyai keponakan." Seru Dio.
"Janin itu apa sikh Kak?" Tanya Ica yang belum mengerti.
"Janin itu, calon bayi. Kak Dwi sedang hamil Dek." Jelas Dio.
"Jadi Kak Dwi sedang hamil!" Tuturnya. "yee... Sebentar lagi Ica punya adik bayi." Seru Ica.
"Apa Azka sudah tahu, kalau kamu hamil?" Tanya Bu Patma.
"Sudah Bu." Sahut Dwi.
"Azka terlihat bahagia mendengar kabar kehamilan ku." Jawab Dwi apa adanya.
"Sepertinya kita perlu mengadakan pertemuan, dengan keluarga Pak Ardi untuk membahas ini." Ujar Pak Mukti, lalu menyeruput kopi hitam yang ada ditangannya.
"Ayah benar! sebaiknya Ayah telepon Pak Ardi sekarang, mumpung Dwi sedang ada disini." Pinta Bu Patma.
"Kita tidak bisa terburu-buru Bu." Tutur Pak Mukti. "Bukankah ibu juga tahu kalau Azka itu orang yang sangat sibuk." Lanjutnya.
__ADS_1
"Tidak Ayah! sepertinya Azka sekarang tidak sesibuk itu. Karena kemarin dia datang dan mengatakan kalau dia sudah risign dari hotel." Ujar Dwi.
"Apa?! Azka risign dari hotel? kenapa begitu?" Tanya Pak Mukti, yang merasa sangat menyayangkan.
"Iya Yah. Aku tidak tahu apa alasan yang jelasnya! tapi kemarin dia bilang, dia gak mau menikah dengan anak Owner hotel, makanya dia memutuskan untuk risign." Jelas Dwi.
"Anaknya Owner tempat Azka bekerja bukannya perempuan yang bernama Viona itu?" Tanya Bu Patma.
"Iya Bu." Sahut Dwi.
"Bukankah kamu bilang Azka itu selingkuh dengannya?" Tanyanya lagi.
"Sebenarnya aku juga gak yakin saat mengatakan itu Bu! karena yang jelas, saat itu aku melihat Azka dan Viona sedang berpelukan." Sahut Dwi.
"Aishh..." Umpat Bu Patma. " Seandainya kamu tidak sedang hamil, Ibu pasti sudah memukul mu." Lanjutnya.
"Kalau begitu, kamu tinggallah disini bersama kami lagi." Pinta Pak Mukti, kepada anak sulungnya.
"Tidak bisa Ayah." Sahut Dwi. "Aku sudah menandatangani kontrak kerja selama satu tahun kedepan, dan aku tidak bisa berhenti begitu saja." Lanjutnya.
"Ayah yakin, Ayah sanggup untuk menghidupi kamu dan juga calon bayi yang ada didalam perutmu. Maka dari itu, ayah mohon. Bisakah kamu berhenti saja dari pekerjaan kamu?" Pinta Pak Mukti.
"Akan ku pikirkan lagi nanti. Tapi maaf Ayah, karena aku tidak bisa menjawabnya sekarang." Tutur Dwi.
__ADS_1
"Tidak apa-apa! Ayah mengerti." Sahut Pak Mukti.
"Kalau gitu kita makan dulu yuk? Ibu sudah menyiapkan makanan enak untuk kalian." Ajak Bu Patma Kepada suami dan anak-anaknya.