
Sindi masuk kedalam kamar Dwi, lalu merebahkan tubuhnya yang letih diatas tempat tidur. Tak lama kemudian Dwi masuk dengan membawa baby Wika lalu duduk ditepi ranjang.
Sindi ikut duduk disamping Dwi, lalu meminta Dwi untuk memberikan baby Wika padanya. "Wi, seharusnya tadi kamu gak bicara seperti itu didepan Azka! aku kan malu." Lirih Sindi. "Entar disangkanya aku perempuan gak benar, lagi." Lanjutnya.
"Sorry Sin, aku gak bermaksud untuk jatuhin harga diri kamu didepan Azka." Dwi meminta maaf. "Aku janji, nanti aku akan menjelaskan yang sebenarnya pada Azka."
"Aku memang kesal sama kamu! tapi rasa kesal ku pada Erick dan Pak Farhan lebih besar." Ujar Sindi.
"Kamu itu aneh!" Cetus Dwi. "Pak Erick itu orang yang memiliki kekuasaan tertinggi diperusahaan! kekuasaannya bahkan mengalahkan Pak Farhan, tapi kenapa sedikitpun kamu tidak mau menghormati Pak Erick."
"Orang seperti dia itu tidak pantas untuk dihormati! dia sendiri gak bisa menghormati orang lain." Sahut Sindi. "Tadi saja, dia mengatai aku perempuan ja*Lang! keterlaluan sekali kan dia itu." Desisnya.
"Kok bisa? kamu tidak berusaha untuk menggodanya lagi kan?"
__ADS_1
"Ikh na*jis!" Cercah Sindi. "Biar pun hanya dia saja satu-satunya laki-laki yang tersisa di bumi ini, aku gak akan sudi mendekatinya." Rutuknya.
"Hati-hati loh Sin, nanti kalau kalian berjodoh gimana? aku saja dulu benci banget sama Azka! tapi tidak disangka tuhan malah mempersatukan kita."
"Cih... Itu Sikh kamu. Kalau aku gak mungkin! kamu tahu kan kalau dia itu pria penyuka sesama jenis. Berbeda dengan Azka, dia tidak mungkin mencintai aku, orang dia sukanya pedang." Cetusnya.
Dwi tertawa mendengar ucapan Sindi. "Lalu kenapa kamu kesal juga sama Pak Farhan?" Tanyanya ingin tahu.
"Dia berani memfitnah ku dan mengatakan aku telah menggodanya. Padahal kamu juga tahu kan, kalau selama ini dia yang mengejar-ngejar aku, meskipun dia sudah beristri." Jelas Sindi.
Sindi menceritakan semua kejadian dikantor tadi kepada Dwi. Dwi pun memaklumi kenapa Sindi bisa se-marah itu kepada Erick dan Pak Farhan. Karena wanita mana yang akan terima jika diperlukan seperti itu! karena itu pasti sangat memalukan, terlebih Sindi memang benar-benar tidak menggoda Pak Farhan. Namun dalam hati Dwi bertanya-tanya kenapa Erick bisa se-benci itu kepada Sindi? Walaupun Erick marah karena Sindi pernah menggodanya, seharusnya itu bukan masalah yang besar dan berkepanjangan, hingga Erick terus-terusan membenci Sindi.
"Woy... Kenapa bengong? kesambet ya..." Suara Sindi membuyarkan lamunan Dwi.
__ADS_1
"Sin, aku titip Wika dulu ya? soalnya aku ingin mandi." Pinta Dwi.
"Ya udah sana! tapi jangan lama-lama ya." Ujar Sindi.
Bu Patma masuk kedalam kamar Dwi. "Dwi nya mana Sin?" Celingukan.
"Dwi lagi mandi, Tante." Sahutnya seraya menimang baby Wika.
Bu Patma menatap lekat wajah Sindi. "Sin, apa kamu belum ingin menikah? padahal diusia mu saat ini, sudah sepantasnya kamu memiliki pendamping."
Disinggung soal itu Sindi pun menurunkan baby Wika kebawah, tepat di pangkuannya. "Perempuan mana sikh Tan, yang tidak ingin berkeluarga!" Sahutnya. "Sejujurnya aku itu iri melihat Dwi, karena dia selalu dikelilingi oleh orang-orang yang begitu peduli dan menyayanginya. Sementara aku? jangankan untuk mendapatkan kasih sayang dari orang lain, bahkan dari orangtua ku saja aku tidak mendapatkannya." Lirih Sindi menundukkan kepalanya.
Bu Patma langsung mengusap-usap punggung Sindi dan meyakinkannya kalau dia tidak sendirian. "Kenapa kamu berpikiran seperti itu? apa kamu tidak bisa merasakan kalau Tante, Om dan Nenek itu sangat menyayangi mu?"
__ADS_1
Seketika Sindi langsung memeluk erat tubuh Bu Patma saat mendengar ucapannya. "Terima kasih Tante." Ucapnya dengan meneteskan air mata.
Bu Patma menyeka air mata Sindi. "Jangan pernah merasa sendirian! karena Tante sudah menganggap kamu seperti anak kandung Tante sendiri."