Duda Tampan Haus Belaian

Duda Tampan Haus Belaian
DTHB 87


__ADS_3

Azka pergi dari taman dengan raut wajah yang kecewa, karena Dwi belum bisa memutuskan.


"Sebenarnya aku ingin sekali mengutarakan perasaanku, kalau aku juga masih sangat mencintaimu Azka. Tapi entah kenapa semuanya terasa begitu berat untuk diucapkan." Batin Dwi. Saat Dwi ingin pergi dari taman itu, tiba-tiba matanya terkunci pada Sindi yang ternyata ada ditaman itu juga sedang menangis. Dengan cepat Dwi menghampirinya.


"Sindi..."


Sindi menoleh, dan langsung memeluk Dwi begitu erat.


"Sindi pasti menangis karena Edwin menikah dengan Viona." Batin Dwi, seraya mengusap-usap punggungnya.


"Edwin Wi, Edwin. Hiks... Hiks..." Sindi tak kuasa untuk melanjutkan ceritanya.


Namun Dwi yang sudah tahu akan hal itu, berusaha untuk menenangkan Sindi. "Kamu yang sabar ya Sin, aku yakin suatu saat nanti kamu pasti akan menemukan laki-laki yang benar-benar pantas untukmu." Ucap Dwi.


"Aku tahu, aku memang pernah melakukan kesalahan! tapi aku juga ingin bahagia sama seperti yang lainnya. Apa menurutmu Edwin itu terlalu sempurna untuk aku, sehingga wanita kotor sepertiku tidak pantas untuknya?" Air mata mengalir deras dipelupuk mata Sindi.


"Tidak Sin, kamu salah! bukan itu maksudku." Tegas Dwi. "Apa kamu tahu, alasan mengapa Edwin bisa tiba-tiba menikahi Viona?" Tanya Dwi.


Dengan wajah yang sayu Sindi menggelengkan kepalanya.


"Itu karena Edwin yang telah menghamili Viona." Jelas Dwi.


Deg.


Bak tersambar petir disiang bolong, saat Dwi mengatakan itu kepada Sindi.


"Wi, ini gak lucu! tolong jangan asal bicara." Papar Sindi, seakan tak percaya.


"Aku serius! karena Azka tadi yang mengatakan itu padaku. Azka bilang, Edwin terpaksa membohongi kita semua karena Viona mengancam akan menggugurkan kandungannya jika Edwin memberi tahu kita." Jelas Dwi.

__ADS_1


Hati Sindi seakan hancur berkeping-keping mendengar pernyataan sesungguhnya dari Dwi. Dia pun menangis sejadi-jadinya. "Kamu jahat Edwin, kamu jahat!" Teriak Sindi.


Dwi yang melihat itu langsung memeluk Sindi, mencoba untuk menenangkannya.


"Seharusnya Edwin berterus terang dari awal, jika dia memang gak pernah mencintaiku! kenapa dia harus memberiku harapan seolah-olah dia juga memiliki perasaan yang sama sepertiku." Lirih Sindi.


"Aku yakin, Edwin juga tidak bermaksud untuk menyakitimu." Ujar Dwi.


"Aku berjanji, setelah ini tidak akan ada lagi Edwin-Edwin yang lainnya, yang bisa menyakiti perasaanku! karena setelah ini, akan aku pastikan kalau aku tidak akan pernah jatuh cinta lagi. Dan aku juga tidak akan pernah menikah!" Tekad Sindi, dengan sorot mata yang begitu tajam.


Dwi menohok mendengar ucapan Sindi. "Sindi!" Bentak Dwi. "Hati-hati kalau ngomong! kamu gak boleh asal bicara." Lanjutnya.


"Aku gak asal bicara! aku sudah memutuskan, kalau aku tidak mau jatuh cinta dan termakan lagi sama mulut manis laki-laki. Karena semua laki-laki itu sama saja! mereka tidak pernah tulus mencintaiku. Kata-kata mereka tu bulshit." Decak Sindi.


Sindi pun membayangkan saat-saat kebersamaannya dengan Edwin.


......*Flash Back*......


"Menurutku cinta itu sesuatu yang bisa merusak akal sehat seseorang." Sahut Edwin, seraya memasukan kentang goreng kedalam mulutnya.


"Kok gitu?" Tanya Sindi, sedikit heran.


"Tak banyak dari mereka, yang rela mengorbankan semuanya demi yang namanya cinta, termasuk harga diri mereka!"


Deg.


Ucapan Edwin seakan tamparan bagi Sindi. Pasalnya selama menjalin hubungan dengan Riko, Sindi memang telah mengorbankan semuanya untuk Riko, termasuk harga dirinya.


"Kalau menurut kamu sendiri cinta itu apa?" Kini giliran Edwin yang bertanya.

__ADS_1


"Sebenarnya cinta itu tidak bisa diucapkan dengan kata-kata, melainkan harus dibuktikan dengan perbuatan." Sahut Sindi. "Karena bicara soal cinta, anak SD pun bisa mengucapkannya." Lanjutnya.


"Maka dari itu, aku lebih suka menunjukkannya dengan hal-hal kecil! karena aku yakin, kamu juga akan memahaminya." Ujar Edwin.


Sindi plonga-plongo mencerna setiap kalimat yang diucapkan Edwin.


"Soal ucapanmu waktu itu yang mengatakan kalau kamu tidak ingin pacaran, dan lebih menginginkan untuk langsung menikah! sepertinya aku tertantang dan ingin menjadi calon kandidat." Ujar Edwin.


"Calon kandidat?" Sindi mengulum senyumannya.


"Ya. Bagaimana jika aku mendaftarkan diri untuk menjadi calon pesertanya?" Ungkap Edwin. "tapi aku sedikit ragu!" Lanjutnya kemudian.


"Kenapa?"


"Apa aku termasuk kriteria laki-laki yang kamu cari!" Celotehnya, sehingga membuat Sindi senyam-senyum salah tingkah dibuatnya.


...*Flash Back Off*...


"Aku pikir kamu beda Win! tapi ternyata kamu jahat, karena tega mempermainkan perasaanku." Gumam Sindi.


"Sin, sebaiknya kita pulang ya." Ajak Dwi seraya menyeka air mata Sindi, yang dibalas anggukan kecil oleh Sindi.


..."Jangan pernah berharap kepada manusia!...


...karena hati manusia mudah berubah-ubah!...


...hari ini dia mengatakan A,...


...bisa saja besok dia mengatakan B...

__ADS_1


...bahkan C....


__ADS_2