Duda Tampan Haus Belaian

Duda Tampan Haus Belaian
DTHB 80


__ADS_3

***


Viona sudah memberi tahu Pak Bagas tentang kehamilannya. Dan betapa terkejutnya Pak Bagas! dia tak menyangka kalau laki-laki yang sangat dia percaya bisa menjaga putri kesayangannya, malah dengan sengaja ingin menghancurkan masa depannya, pikir Pak Bagas.


Viona marah kepada Azka, karena Azka menolak ketika dia meminta Azka untuk bertanggung jawab dan segera menikahinya. Karena Azka sendiri memang tidak yakin kalau anak yang dikandung Viona itu benar-benar anaknya. Makanya Viona mengadukan Azka dan menjelek-jelekannya kepada Pak Bagas.


Dengan murka, Pak Bagas mendatangi rumah Pak Ardi untuk mencari Azka. Dan saat Azka muncul, Pak Bagas langsung memukul wajahnya dengan keras sehingga Azka jatuh tersungkur.


"Ada apa ini? kenapa Bapak memukul anak saya?" Tanya Pak Ardi yang tidak tahu apa-apa.


Sementara Viona mulai memainkan dramanya, berpura-pura menangis dihadapan Azka dan orangtuanya.


"Tanyakan pada anak mu sendiri, apa yang sudah dia lakukan terhadap putriku sehingga kini dia hamil." Ujar Pak Bagas yang berusaha mengontrol emosinya agar tidak membludak.


"Apa? hamil?!" Bu Asmi dan Pak Ardi sangat terkejut mendengar ucapan Pak Bagas.


Pak Ardi pun menatap tajam kepada Azka. "Azka, apa benar kalau Viona sedang mengandung anakmu?" Tanyanya bernada tinggi.


"Aku tidak tahu Pa." Ujar Azka lalu menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Tatap Wajah Papa!" Sentaknya. "Dan jawab dengan benar pertanyaan Papa ini." Lanjutnya.


Azka sudah berulang kali menanyakan perihal tentang kejadian dimana dirinya waktu itu bisa tidur bersama Viona. Namun Edwin tetap tutup mulut, tak menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Azka. Sehingga Azka pun tidak memiliki jawaban yang pasti dari pertanyaan Papanya tersebut.


"Azka! jawab pertanyaan Papa." Bentaknya. Tak kunjung mendapatkan jawaban dari Azka, Pak Ardi pun melayangkan tamparannya di pipi kiri Azka.


"Papa, tolong tahan emosi Papa." Pinta Bu Asmi, seraya memegangi bekas tamparan yang dilayangkan suaminya terhadap putra semata wayangnya.


"Aku tidak mau tahu, pokoknya kamu harus menikahi putriku! kalau tidak, aku akan membawamu kejalur hukum." Gertak Pak Bagas mengancamnya.


"Baik. Saya akan menikahkan Azka dengan putri Bapak secepat mungkin." Sahut Pak Ardi.


"Tapi Pa-" Azka hendak bicara, namun didahului oleh Papanya.


Setelah mendapatkan kepastian dari keluarga Pak Ardi bahwa Azka akan menikahi Viona, Pak Bagas pun pamit dari rumah itu.


Diperjalanan.


"Maafkan aku Azka, gara-gara aku kamu sampai dipukul Papa, dan ditampar oleh Om Ardi." Batin Viona.

__ADS_1


"Apa kamu sudah lega, karena Azka sudah mau bertanggung jawab atas kehamilan mu itu?" Tanya Pak Bagas, yang sedari tadi diam-diam memperhatikan Viona.


"Iya Pa." Jawabnya.


"Papa akan atur semua acara pernikahan kalian." Ujar Pak Bagas seraya mengusap pucuk kepala Viona.


"Terima kasih Pa." Sahutnya.


"Papa akan menghubungi Kakak kamu dan akan memintanya untuk segera kembali ke Indonesia." Pungkasnya, mengakhiri percakapan.


Selang beberapa minggu kemudian, Pak Ardi berkunjung kerumah Pak Bagas untuk menentukan tanggal pernikahan putra-putri mereka. Dan keduanya sudah sepakat untuk melangsungkan pernikahan bulan depan.


"Wi, kamu sudah tahu belum? kalau Azka akan segera menikah dengan Viona." Tanya Sindi disela-sela makan.


"Sudah!" Jawabnya. "Mereka akan menikah bulan depan kan." Ucap Dwi, berpura-pura baik-baik saja padahal hatinya hancur.


"Aku tidak menyangka kalau Azka benar-benar melakukan itu terhadap Viona. Aku pikir dia itu laki-laki yang baik." Ujar Sindi


"Sudahlah Sin, kali ini aku hanya ingin pokus pada kehamilan ku saja. Yang lainnya, aku tidak peduli!" Sahut Dwi seraya mengusap-usap perutnya yang sudah semakin besar.

__ADS_1


Sindi memperhatikannya. "Kamu benar! lebih baik kamu pokus sama kehamilan kamu saja." Ujarnya. "Semoga proses persalinan kamu nanti lancar ya."


"Terima kasih Sin." Dwi tersenyum.


__ADS_2