
***
pagi hari.
saat azka baru keluar dengan setelan rapihnya dan ingin berangkat bekerja, dwi langsung menghampirinya. dia pun menyodorkan sepiring nasi goreng yang sudah dilengkapi dengan telur ceplok, irisan tomat dan daun selada yang masih segar.
"apa ini?" tanya azka.
"nasi goreng." jawab dwi.
"iya aku tahu, tapi maksudnya ini apa?"
"aku ingin kamu mencicipi masakan buatan ku sebelum berangkat."
"aku tidak mau. karena aku akan sarapan di luar." tolak azka.
"aku sudah bersusah payah membuat nasi goreng ini untukmu, penghinaan besar bagiku jika kamu tidak mau mencobanya." ujar dwi.
"aku tidak memintamu untuk membuatnya."
"tetap saja kamu harus mencicipinya." paksa dwi.
"aku tetap tidak mau."
"kamu harus mau, sekarang cepat buka mulutmu, a..." dwi terus memaksanya walaupun azka juga terus menolaknya.
"apa-apaan kamu ini?" sentak azka yang mulai marah. "aku curiga, apa kamu menaruh racun di makanan itu? kenapa kamu terus memaksaku untuk mencobanya." ujarnya.
"apa?" dwi terkejut mendengar ucapan azka yang menuduhnya telah memasukan racun di makanan itu. "kemarin-kemarin kamu menuduhku telah menjual diri, dan sekarang kamu menuduhku kalau aku ingin membunuhmu. sini kamu, akan ku tunjukkan siapa aku sebenarnya." ucap dwi seraya mengambil pisau cutter yang ada di meja dan menodongkannya kepada azka.
"apa kamu sudah gila?" sentak azka yang terkejut melihat dwi menodongkan pisau itu ke arah wajahnya.
"ya. aku memang sudah gila." dwi memicingkan senyumannya.
"singkirkan pisau itu dari wajahku." ucap azka seraya menepisnya, sehingga mengenai tangannya hingga kini terluka.
"azka..." dwi langsung melempar pisau itu kesembarang arah, lalu meraih tangan azka yang sedikit berdarah. "tangan mu berdarah." dwi langsung merobek bajunya dan menggulung tangan azka dengan sobekan baju itu.
"apa yang kamu lakukan?" azka terpaku melihat ekspresi dwi yang terlihat begitu sangat mengkhawatirkan nya.
"kamu duduk dulu. aku akan mengambil kotak P3K untuk mengobati lukamu." ujar dwi.
"tidak perlu! aku harus segera berangkat, kalau tidak aku pasti akan terlambat." azka berdiri dari duduknya. namun dwi langsung memegangi kedua pundaknya dan memaksanya untuk kembali duduk.
"sudah diam." pintanya.
"tunggu!" ucap azka saat dwi ingin pergi untuk mengambil kotak obat.
dwi pun menoleh.
"apa kamu sedang mencemaskan ku?" tanya azka.
"a-apa?" dwi terbata-bata.
"kenapa kamu terlihat begitu mengkhawatirkan ku?"
"jangan ngaco! aku tidak mengkhawatirkan mu. aku hanya tidak ingin di cap sebagai pembunuh." ucap dwi sekenanya.
"pembunuh? hee." azka terkekeh. "apa kamu pikir aku ini akan mati hanya dengan luka sekecil ini?" ucap azka seraya membuka kain itu lalu melemparnya.
__ADS_1
"azka, apa yang kamu lakukan?" teriaknya. dwi kembali merobek bajunya hingga keatas ketiaknya, sehingga kini tali bra nya kelihatan berwarna marun.
azka tercengang melihat apa yang sudah di lakukan dwi terhadapnya. "sudah cukup, jangan menggodaku lagi."
"aku tidak menggodamu." sahut dwi.
tanpa aba-aba azka langsung menarik tengkuk dwi dan mencium bibirnya. dwi terkejut dia pun mendorong tubuh kekar azka lalu memukulnya. "dasar brengsek." dwi pun lari ke kamarnya.
azka terdiam. "akh sial! kenapa aku tidak bisa mengontrolnya." umpat azka pada dirinya sendiri.
dwi duduk di meja riasnya. diapun memegangi bibirnya, kemudian tersenyum saat membayangkan apa yang sudah terjadi antara dirinya dan azka barusan. "tunggu!" seketika raut wajah dwi berubah garang. "aku tidak boleh terpancing olehnya, hanya karena dia menciumku, terus aku beranggapan kalau dia menyukaiku." gumamnya. "tentu saja tidak! azka tidak mungkin mencintaiku." lanjutnya.
***
"azka aku ingin bicara dengan mu." ucap viona.
"kamu mau bicara apa? katakan saja."
"tapi pertama-tama aku ingin bertanya sama kamu, siapa wanita yang kemarin bersamamu? apa dia itu istrimu?"
azka mengangguk.
"jujur saja. aku sedikit kecewa kepadamu, kenapa kamu tidak berterus terang saja kalau kamu memang tidak mencintaiku. mengapa harus beralasan kalau kamu belum bisa menggantikan posisi almarhumah istrimu."
"maafkan aku." ujar azka.
"tanganmu kenapa?" tanya viona saat melihat tangan azka di balut kain putih.
"tanganku sedikit terluka akibat terkena pisau."
"kenapa kamu begitu ceroboh." ucap viona. lalu mengambil kotak obat yang ada di laci.
"kenapa?" viona tampak heran.
"tidak apa-apa, aku hanya tidak ingin mengganti kainnya."
"azka." tutur viona.
azka menoleh dan menatapnya.
"apa kamu bisa menemaniku untuk menghadiri pesta pernikahan temanku?"
"maaf aku tidak bisa menemanimu."
"ku mohon."
"maaf viona aku tidak bisa menemanimu, kamu tahu kan kalau aku sudah menikah."
"memangnya kenapa? lagi pula kita hanya sebatas teman. please kamu mau ya?"
"maaf aku..." belum selesai bicara viona keburu memotongnya.
"terima kasih. jangan lupa jemput aku jam 8 malam." ucap viona kemudian pergi.
***
dwi sedang duduk di ruang tengah seraya menonton televisi. tiba-tiba azka duduk di sebelahnya. dwi tampak memperhatikan pakaian yang dikenakan azka.
"malam-malam gini kok berpakaian rapi, mau kemana?" tanya dwi.
__ADS_1
"aku akan pergi keluar."
"sama siapa?"
"teman." jawab azka.
"cewek apa cowok?"
"viona." jelas azka.
"wanita seksi itu? aku tidak mengijinkanmu untuk pergi bersamanya."
"aku tidak meminta ijin darimu." ucap azka seraya merapikan kerah bajunya.
dwi pun masuk kedalam kamarnya.
"ada apa dengannya?" gumam azka menatap heran kepergian dwi. dia berdiri dari duduknya dan hendak pergi, namun tiba-tiba dwi keluar dari kamar dengan berpakaian yang sangat seksi.
"kamu mau kemana?" tanya azka yang tercengang melihat pakaian yang dikenakan dwi.
"aku ingin pergi ke club bersama sindi."
"dengan berpakaian seperti ini?"
"ya. memangnya kenapa?"
"aku tidak mengijinkan mu."
"aku juga tidak meminta ijin darimu." ucap dwi, rupanya dia sengaja ingin membalas azka. "kalau gitu aku pergi dulu ya." ucap dwi namun azka menarik tangannya dengan keras, sehingga tubuhnya terbanting tepat ke dada bidangnya. mereka saling bertatapan. beberapa saat kemudian azka menurunkan pandangannya kebawah, tepat di belahan gunung kembar dwi yang terbuka. lagi-lagi dia harus menelan ludahnya dengan kasar.
"jangan melihatnya." ucap dwi seraya menutup kedua mata azka dengan tangannya. "ini bukan untukmu." lanjutnya.
seketika azka langsung menepis tangannya. "lalu untuk siapa?" tanyanya sedikit sinis.
"untuk siapa saja, yang jelas bukan kamu." ujar dwi.
azka tampak mengepalkan tangannya. namun tiba-tiba bel bunyi dan azka pun membuka pintunya.
"kamu, kenapa datang kesini? aku baru akan ke rumahmu." ucap azka.
"aku tidak bisa menunggumu terlalu lama. ini sudah pukul 20:15. apa kita bisa pergi sekarang?" tanya viona.
"baik." ucap azka.
"permisi. kalian menghalangi jalanku." dwi yang tiba-tiba menyelonong menabrak azka dan viona dengan sengaja.
"aakhh..." pekik viona.
"ups sorry." ucap dwi. dwi hendak pergi namun azka menarik kerah belakang bajunya.
"sialan! lepaskan brengsek. kamu bisa merusak bajuku." umpatnya.
viona langsung terkejut melihat sikap dwi terhadap azka. bagai mana bisa azka menikahi wanita seperti dwi.
"aku tidak akan melepaskan mu! bukankah aku sudah melarangmu untuk pergi." decak azka.
"aku merasa bosan diam di rumah, jadi biarkan aku untuk pergi."
"kalau begitu ikut denganku."
__ADS_1
"apa?" ucap dwi dan viona secara bersamaan.