
Riko membaringkan tubuh Dwi disofa. "Dari sekian banyak wanita cantik yang pernah aku temui. Entah kenapa hanya kamu yang membuatku tergila-gila." Ucap Riko seraya mengelus-elus pipi Dwi yang tak sadarkan diri. "Aku sudah memberikan Azka ikan segar dihotel waktu itu. Dan sekarang giliran mu Dwi, aku akan menghapus semua jejak dimana Azka telah menyentuhmu saat kalian masih bersama." Gumamnya.
Saat Riko ingin mencium bibir Dwi, tiba-tiba seseorang menarik kerah kemeja belakangnya dan memukulnya.
Bugh...
"Sial!" Ucap Riko, seraya memegangi ujung bibirnya yang sedikit berdarah.
"Jadi ini yang ingin kamu lakukan! sehingga kamu meminta aku menyuruhnya untuk mengantarkan berkas-berkas itu kepadamu." Sentak Erick.
"Pak Erick, sebaiknya anda pergi! ini adalah urusanku dengan dwi, anda tidak berhak untuk ikut campur." Pinta Riko.
"Tidak berhak ikut campur anda bilang?! Dwi itu adalah karyawan dikantorku, dan aku juga yang sudah menyuruhnya datang kemari atas permintaan anda." Tegasnya. "Tapi aku tidak menyangka, ternyata ini niat anda menyuruhnya untuk datang kesini. Aku tidak akan membiarkan anda berbuat macam-macam kepadanya." Ucap Erick.
"Pak Erick, saya janji akan memberikan apapun yang Pak Erick minta. Pak Erick mau apa dari saya? uang? sebutkan jumlahnya. Maka saya akan memberikan berapapun nilainya! tapi saya mohon, jangan gagalkan rencana saya untuk menyentuhnya." Ucap Riko seraya menoleh kepada Dwi yang belum sadarkan diri.
Bugh...
Tanpa aba-aba, Erick kembali melayangkan pukulannya dan mendarat tepat dihidung Riko, sehingga darah segar mengucur dari lubang hidungnya. "Apa kamu pikir, aku tidak memiliki banyak uang, sehingga aku harus memintanya kepada anda?" Sentaknya.
"Bukan itu maksud saya Pak. Tapi-..."
"Diam!" Bentak Erick. "Dan diam disitu! kalau anda tetap akan melakukan rencana busuk anda itu, aku tidak akan segan-segan melaporkan perbuatan anda ke kantor polisi." Gertak Erick. Sehingga membuat Riko tak berkutik mendengar ancamannya. Erick adalah orang yang berpengaruh di kota itu, sehingga banyak orang yang segan terhadapnya.
__ADS_1
*
Edwin merebahkan tubuh Viona ditempat tidurnya.
"Azka..." Gumam Viona, seraya mengalungkan kedua tangannya di leher Edwin. "Kamu mau kan, menemani aku tidur malam ini?" Ucap Viona yang setengah sadar dan menganggap kalau laki-laki yang ada dihadapannya itu adalah Azka.
"Ini sudah larut malam, sebaiknya Bu Viona cepat tidur." Pinta Edwin, seraya ingin melepaskan rangkulan tangan Viona yang melingkar di lehernya.
Namun bukannya melepaskan, tangan Viona malah semakin nakal, meraba-raba dada bidang Edwin dan menggodanya dengan cara menggesek-gesekkan hidungnya ke leher Edwin.
"Bu Viona, ini aku Edwin. Aku bukanlah Pak Azka yang Bu Viona harapkan." Ujar Edwin.
"Aroma tubuhmu begitu wangi Edwin. Kamu memakai parfum apa?" Tanya Viona yang semakin nakal menggesek-gesekan payu*daranya ke dada Edwin.
"Edwin, apa menurutmu aku ini tidak cantik? kenapa Azka tidak bisa mencintaiku! aku bahkan lebih seksi dari pada Dwi." Ujar Viona. Tangannya semakin nakal, turun kebawah dan berhenti tepat ditengah-tengah pang*kal pahanya Edwin dan mengelus-elusnya.
"Aahhh..." Refleks Edwin langsung mengeluarkan suara desah*annya.
Viona tersenyum nakal seraya menggigit ujung bibirnya.
Tubuhnya terasa ingin meledak saat Viona membuka resleting celana Edwin, dan memasukkan tangan lalu bermain-main didalam sana. Gairah Edwin pun memuncak. Dia langsung menyambar ranum bibir Viona dengan buasnya, dan membuka paksa semua pakaian yang dikenakan Viona.
"Edwin, pelan-pelan dong." Pinta Viona, saat melihat Edwin yang sudah tidak sabaran ingin segera menikmati tubuhnya.
__ADS_1
Edwin pun memperlambat gerakan ciumannya dan bermain lembut. dia mulai menancapkan senjatanya, hingga malam ini mereka saling menumpahkan has*rat satu sama lain didalam ruangan itu.
*
"Dwi, bangun..." Erick berusaha untuk menyadarkannya.
Perlahan Dwi pun membuka matanya. "Pak Erick!" Dwi terkejut. "Apa yang Bapak lakukan?" Dwi ingin membuka pintu mobilnya, namun dengan cepat Erick menahannya.
"Jangan takut! aku hanya ingin menolongmu dari Riko." Ujarnya.
"Riko?!"
"Ya. Tadi dia berniat untuk kurang ajar kepadamu, makanya aku membawamu ke mobilku! tadinya aku ingin mengantarkan mu pulang, tapi aku tidak tahu alamat rumahmu." Jelasnya.
Samar-samar Dwi mengingat kembali kejadian tadi, saat dirinya belum tertidur, karena pengaruh obat yang dimasukkan Riko kedalam minuman yang ditenggaknya. "Riko memang orang jahat! dia gak pernah ada kapok-kapoknya untuk terus jahatin aku." Ujar Dwi.
"Maka dari itu, berhati-hatilah! karena kejahatan akan selalu ada di sekelilingmu." Ucap Erick.
"Pak Erick tidak bersekongkol dengan Riko kan?" Tanya Dwi hati-hati. "Maaf, aku bukan bermaksud untuk menuduh Pak Erick. Tapi-..."
"Aku mengerti kecemasan mu! karena aku yang sudah menyuruhmu untuk datang kesini. Tapi percayalah! aku tidak terlibat dengan Riko." Tegas Erick.
"Maaf." Ucap Dwi tiba-tiba.
__ADS_1
"Aku akan mengantarkan mu pulang." Ucap Erick, lalu melajukan mobilnya.