Duda Tampan Haus Belaian

Duda Tampan Haus Belaian
interview.


__ADS_3

cit..cit..cit...


suara burung di pagi hari terdengar begitu merdu. sorot cahaya yang terpantul dari jendela menerobos masuk kedalam kamar. perlahan dwi membuka mata dan menguceknya. diapun mengankat tangan dan menggeliatkan badannya. namun tiba-tiba...


wussh...


sindi melempar handuk basah bekas dia mandi tepat di wajahnya.


"akh, dasar sial! apa yang kamu lakukan?" sentaknya.


"sudah siang, mandi sana! kita harus segera bersiap-siap." ujar sindi.


"mau kemana?" tanya dwi yang mengerutkan dahinya.


"melamar bekerja."


"apa?" dwi tampak terkejut. "melamar kerja dimana?"


"dikantor ku!"


"aku tidak mau!" dwi menolaknya.


"hei, kamu pikir aku mau? nenek yang meminta aku mengajakmu untuk melamar kerja di perusahaan tunanganku." ucap sindi yang sedikit ngegas.


"apa? tunanganmu?" dwi tampak memicingkan senyumannya kemudian "ya, aku mau! tunggu aku di bawah." ucapnya seraya bergegas masuk kedalam kamar mandi.


"apa yang dia pikirkan?" gumam Sindi yang menatap heran kepada sepupunya.


-


sindi sudah standby di mobil, tak lama kemudian dwi muncul dan masuk kedalam mobilnya.


"hei, apa yang kamu lakukan?" teriak sindi menoleh kebelakang.


"memangnya kenapa?" tanya dwi.


"apa kamu pikir aku ini supir mu?" tanya nya, dengan sedikit emosi.


"anggap saja begitu." ucap dwi dengan entengnya, sehingga membuat Sindi semakin emosi.


"menyebalkan!" decah sindi.

__ADS_1


"hei, cepetan jalan! kalau tidak kita akan terlambat." ujar dwi, melihat ekspresi sindi dia tampak mengulum senyumannya.


"lihat saja, nanti aku balas." batin sindi yang menatap sinis kearahnya.


di tengah-tengah perjalanan tiba-tiba sindi menghentikan laju mobilnya. diapun meminta dwi untuk mengecek ban mobilnya, yang menurut sindi kemungkinan kempes. dwi menuruti permintaan sindi untuk mengecek.


"bagaimana?" teriak sindi seraya membuka kaca mobilnya.


"ban mobilnya tidak apa-apa." ucap dwi.


"ya sudah, kalau begitu kamu jalan kaki saja ya? tinggal beberapa meter lagi kok." ucap sindi, yang melajukan kembali mobilnya.


"apa? dasar sialan!" makinya seraya memukul mobil belakang sindi dengan tasnya.


mau tidak mau dwi pun melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki, karna kantor sindi pun memang sudah lumayan dekat. belum habis kekesalannya terhadap sindi, tiba-tiba mobil dari arah berlawanan melewati genangan air yang ada di samping jalan, sehingga cipratan air itu membasahi tepat seluruh pakaiannya.


"aishh... dasar sialan!" teriaknya. mobil itu terus berlalu tanpa memperdulikan dwi yang sedang marah-marah. "apes banget hari ini, ini semua gara-gara sindi. lihat saja pembalasanku nanti!" gumamnya.


"pak, apa gak sebaiknya kita berhenti, dan meminta maaf kepada gadis itu?" ucap seorang supir kepada majikannya.


"tidak perlu! kamu terus jalan saja." ucapnya.


saat memasuki kantor semua orang menatap sinis kepada dwi. bagaimana tidak? penampilan pertamanya saat ingin melamar pekerjaan begitu semrawut dan acak-acakan.


"apa dia yang akan menggantikan posisi dila sebagai staff administrasi di kantor ini? penampilannya sungguh menjijikkan." ucap salah seorang karyawati disana.


"aku dengar dia itu sepupu bu sindi." ujar salah satunya.


"benarkah? pantas saja."


sementara dwi terlihat begitu tenang, walaupun dia tahu, kalau semua orang disekitarnya sedang menatap sinis kearahnya. karena begitulah sifatnya, tidak pernah ambil pusing dengan penilaian orang terhadapnya.


"dwi..." panggil sindi. "apa-apaan ini? apa kamu sengaja ingin mempermalukanku?" tanya sindi dengan nada tinggi.


"ini salahmu, kenapa tadi kamu menurunkan ku di jalanan?" ujar dwi.


"ikut aku..." sindi menarik tangan dwi menuju ruangannya.


"pelankan nada bicaramu! disini aku adalah atasanmu." pinta sindi yang masih terlihat kesal.


"aku bahkan belum interview, aku yakin setelah melihat penampilanku yang seperti ini HRD tidak akan menerimaku untuk bekerja disini" ucapnya.

__ADS_1


"ayo masuk sini." sindi mengajak dwi untuk memasuki ruangan khusus yang berada di ruang kerjanya.


"tempat apa ini?" tanyanya sedikit tercengang saat melihat isi dari ruangan itu yang terdapat sofa, lemari pakaian, dan ranjang. persis seperti sebuah kamar.


"jangan banyak bertanya! pakailah pakaian ini di kamar mandi." pintanya. "aku tidak ingin tunanganku melihatmu berpakaian seperti ini. karna itu akan mempermalukanku." ucapnya.


"apa? di sini juga ada kamar mandinya? ajaib, seperti kantong doraemon saja." ucap dwi yang masih tidak percaya, kalau sindi benar-benar memiliki ruangan istimewa di kantornya.


"banyak bacot! cepetan masuk sana." ucap sindi yang mulai emosi. setelah melihat dwi memasuki kamar mandi, sindi pun kembali ke ruang kerjanya.


"ha-akh, perutku sudah keroncongan! riko mana ya? jam segini kok belum muncul juga." batin sindi, seraya memegangi perutnya yang terasa lapar. dia pun memutuskan untuk pergi ke work cafe sendiri.


seorang laki-laki tampan masuk kedalam ruangan khusus, dan duduk di tepi ranjang. dia mendengar suara gemuruh air dari dalam kamar mandi, sehingga dia memutuskan untuk menunggunya.


selang beberapa saat kemudian dwi keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk berwarna putih yang melingkar di tubuhnya. dia menggibas-gibaskan rambutnya yang basah. "dasar sial! ini semua gara-gara pemilik mobil sialan itu." makinya, dia belum sadar kalau seseorang di belakangnya sedang terpaku melihat kemolekan tubuhnya.


tak lama kemudian orang itu menghampiri lalu memeluk dwi. "apa kamu sudah siap?" tanya nya, dia tidak tahu siapa wanita yang di pelukannya. karna yang dia tahu, tempat itu dia persiapkan khusus untuk dia dan kekasihnya.


dwi tersentak kaget. dia pun menoleh kebelakang lalu kemudian berteriak. "aaaah..." dwi memukuli laki-laki itu. "siapa kamu, berani sekali memelukku?" dwi terus memukulinya.


"seharusnya aku yang bertanya, siapa kamu? kenapa kamu bisa ada disini?" tanya laki-laki itu seraya menutupi wajahnya agar tidak kena pukulan dari dwi.


"aku sepupunya sindi, lalu kamu siapa berani-beraninya memelukku." sentaknya.


"aku riko, tunangannya sindi." ucap riko.


seketika dwi langsung berhenti memukulnya. "apa? tunangan sindi berarti kamu CEO di perusahaan ini?" dwi terpaku menatap laki-laki yang ada di hadapannya.


"ya." riko mengangguk kecil, seraya mengusap kasar wajahnya.


"mati aku!" gumamnya seraya menepuk keningnya.


riko menatap dwi dari ujung kepala hingga ujung kakinya. dwi tampak menggaruk punggung kakinya dengan telapak kaki sebelahnya lagi.


"aneh sekali kelakuan gadis ini." batinnya menatap dalam kepada dwi.


merasa tidak nyaman ditatap oleh riko, dwi pun mengambil pakaiannya, lalu bergegas memasuki kamar mandi. dia menatap wajahnya di cermin kamar mandi. "sial! tampan sekali laki-laki itu." gumamnya. "tapi sayang, dia tunangan sindi."


beberapa menit kemudian dwi keluar, dan riko sudah tidak ada di ruangan itu. perutnya kini sudah mulai keroncongan, namun dia harus segera keruangan HRD.


"sabar ya cing? aku harus pergi ke ruangan bu tika dulu, setelah itu kita makan sama-sama." gumamnya seraya mengelus perutnya.

__ADS_1


__ADS_2