
Dwi mengajak Sindi masuk kedalam kamarnya. Sindi pun terkejut saat melihat beberapa dus cemilan yang terpampang dikamarnya. "Cemilan kamu kok makin banyak? bukannya aku sudah bilang, kalau kamu itu harus diet biar gak gendut."
Dwi diam tak merespon ucapan Sindi.
"Wi, bantuin aku untuk bisa dapetin hatinya Edwin dong?" Pinta Sindi.
"Gak mau akh! berjuang aja sendiri." Tolak Dwi.
"Yaelah, gitu doang masa kamu gak mau bantuin aku sikh." Rengeknya.
"Kamu kan tahu, mengurus percintaan diri sendiri aja aku gak bisa! apalagi ngurusin percintaan orang lain." Desus Dwi.
Sindi berdecak kesal. "Besok genap satu bulan kamu bekerja di PT.Prima grup. Berarti besok kamu harus nepati janji kamu untuk masukin aku kerja disana." Ujar Sindi.
"Sorry Sin, kayaknya aku gak bisa nepatin janji aku. Soalnya untuk saat ini disana tidak ada lowongan kerja." Ucap Dwi merasa bersalah.
"Yah... Kok gitu sikh? padahal aku ingin banget bekerja di perusahaan itu. Malah tadi aku sudah mutusin Robby, plus mengundurkan diri juga dari perusahaannya." Desah Sindi.
"Terus gimana dong? saat ini memang lagi gak ada lowongan yang cocok untuk kamu." Ujar Dwi.
"Aku gak mungkin jadi pengangguran Wi! tolong kamu cariin lowongan apa aja deh buat aku, asal aku punya pekerjaan." Pinta Sindi.
"Kamu serius? kamu mau kerja apa aja?" Tanya Dwi.
Sindi mengangguk seraya memanyunkan bibirnya.
"Ya udah, besok pagi-pagi sekali kamu datang kesini. Biar besok kita bisa berangkat bareng."
"Siap bos." Sahut Sindi antusias. "Kalau gitu aku pulang dulu ya, mau nyiapin dulu pakaian yang paling bagus, untuk aku kenakan besok." Lanjutnya seraya berlalu pergi.
"Dikh, itu anak! orang masih lama juga. Belum juga tidur, udah mau siap-siap aja." Desis Dwi, menatap kepergian Sindi dengan sinis.
Dwi pergi kekamar Neneknya, dan memberi tahu tentang kondisinya yang sekarang tengah berbadan dua. Awalnya Nenek terkejut, namun kemudian bisa memaklumi setelah Dwi memberi tahu usia kehamilannya.
__ADS_1
"Apa kamu sudah memberi tahu Azka tentang kehamilan kamu?"
"Sudah Nek." Jawab Dwi.
"Apa reaksinya?"
"Azka terlihat sangat senang." Jawab Dwi seadanya.
"Lalu, apa yang ingin kamu lakukan kedepannya? apa kamu tidak ingin memberi satu kesempatan buat Azka untuk memperbaiki semuanya?"
"Aku tidak tahu Nek! biarkan saja semuanya mengalir seperti air." Sahut Dwi.
**
keesokan harinya.
"Dwi... Dwi..." Teriak Sindi dari dalam mobil.
"Kalau aku gak teriak kamu gak bakalan dengar." Desusnya. "Cepetan naik, kalau gak kita nanti kesiangan." Lanjutnya.
Dengan cepat Dwi masuk kedalam mobil yang dikemudikan Sindi. Namun dia sangat terkejut saat menelisik penampilan Sindi. "Sin, kamu serius mau pake baju itu ke kantor?" Tanya Dwi.
"Serius lah!" Sahutnya.
"Mendingan kamu ganti dulu gih sana..."
"Yee... Memangnya kenapa?" Tanya Sindi.
"Kamu gak nyadar apa? kamu lihat deh kedua gunung kembarmu yang terlihat berdesak-desakan hampir keluar dari tempatnya! bra nya kekecilan sikh." Umpatnya.
"Aishh sialan! pake nyela lagi. Bilang aja kalau kamu itu syirik sama aku, karena aku lebih seksi dan menggoda dari pada kamu." Tuturnya.
"Nih anak, dibilangin juga!" Desis Dwi.
__ADS_1
...Sesampainya di PT. Prima gruop....
"Wah gila! ini beneran kantor tempat kamu bekerja?" Tanya Sindi, menatap gedung pencakar langit yang ada dihadapannya dengan penuh kekaguman.
"Iya. Makanya pas pertama kali aku menginjakkan kaki dikantor ini aku insecure. Gak percaya kalau aku bakal diterima di perusahaan ini, padahal perusahaan lain pada nolak lamaran aku mentah-mentah." Sahut Dwi, ketika membayangkan kembali pengalaman pahitnya saat beberapa kali ditolak saat melamar pekerjaan di perusahaan lain.
"Tapi kok bisa, kamu diterima di perusahaan ini?" Tanya Sindi.
"Aku juga gak tahu! padahal waktu itu perusahaan ini juga sudah nolak lamaran kerjaku. Tapi ketika aku sudah sampai rumah, tiba-tiba HRD menelepon aku dan mengatakan kalau aku keterima bekerja di perusahaan ini." Jelasnya.
"Aneh! kok bisa gitu?" Sindi sedikit heran.
"Entahlah." Dwi mengangkat kedua pundaknya keatas.
Sindi menjadi pusat perhatian saat pertama kali memasuki perusahaan. Bagaimana tidak! pakaian yang dia kenakan begitu berani. Tak tanggung-tanggung, rok span yang dia kenakannya pun begitu pendek dengan belahan yang hampir memperlihatkan bagian dalam*annya.
"Sin, aku antar kamu sampai sini saja ya..." Ujar Dwi. "Dari sini kamu lurus saja, setelah itu kamu belok kiri. Nah disitu deh ruangannya." Lanjutnya.
"Loh, kamu gak nganterin aku keruangannya sekalian?"
"Sorry ya Sin, tapi aku harus segera masuk kedalam ruanganku." Ucap Dwi.
"Tapi Wi...?"
"Sorry ya Sin." Dwi langsung pergi meninggalkannya.
"Akh rese nih si Dwi." Gerutunya. Akhirnya dia pun berjalan sendiri menuju ruangan tersebut. "Lurus, terus belok!" Gumamnya. "Ekh tadi si Dwi bilang belok mana ya? yang kiri atau yang kanan?" Gumamnya. "Akh yang kanan aja dekh." Lanjutnya kemudian.
Tok tok tok...
"Masuk..."
Sindi masuk, dan perlahan berjalan menghampiri laki-laki yang tampak pokus dengan proposal yang ada ditangannya. Sindi pun kemudian duduk di kursi depannya, dan memperhatikan wajah tampan pria itu.
__ADS_1