Duda Tampan Haus Belaian

Duda Tampan Haus Belaian
tamparan.


__ADS_3

keesokan harinya.


dwi beranjak dari tempat tidur, lalu bergegas ke kamar mandi. tak lama kemudian dia keluar dengan hanya menggunakan handuk yang melingkar di tubuhnya. dwi mengeringkan rambutnya dengan hairdryer. saat mendengar suara pintu kamarnya yang diketuk seseorang dari luar, dwi langsung bergegas membukanya.


"ada apa?" tanya dwi yang belum sadar, kalau dia belum mengenakan pakaiannya.


azka terpaku saat melihat dwi keluar dengan hanya mengenakan handuk serta rambut yang masih basah. diapun menelan ludahnya.


"kurang ajar!"


plaaaakkk.... dwi langsung menampar pipi kiri azka, saat sadar kalau azka sedang memandangi tubuhnya.


bruugh... dwi menutup pintu dengan keras. "sialan! berani sekali dia menatap tubuhku seperti itu. dia pikir dia itu siapa! beraninya." umpat dwi yang terus mengutuknya.


sementara dari balik pintu, azka tampak memegangi pipinya yang sakit, akibat tamparan keras dari dwi. "dasar cewek jadi-jadian! keras sekali pukulannya." batin azka, dia pun bergegas untuk segera pergi ke hotel.


...hotel *****...


azka baru saja tiba, kini semua orang menatap heran kearahnya.


"pak azka kenapa tu? apakah dia habis berkelahi, kenapa pipinya merah seperti itu?" bisik salah seorang pegawai di hotel itu kepada rekannya.


"ya. sepertinya begitu."


"selamat pagi pak..." sapa beberapa pegawai di hotel secara bersamaan.


"ya. pagi juga." sahut azka.


edwin menghampiri azka setengah berlari. "selamat pagi pak."


"ya. pagi win." jawab azka.


edwin tampak memperhatikan pipi Azka yang tampak memar dan kemerahan. "maaf pak, apa ada orang yang mengganggu bapak?" tanyanya.


"tidak."


"lalu kenapa dengan pipi bapak?"


"tidak apa-apa." ucapnya datar.


"kalau tidak apa-apa, kenapa bisa Semerah itu?" batin edwin seraya terus mengekori azka dari belakang.


"edwin, apa kamu mengenal riko?" tanya azka lalu duduk di kursi kerjanya.


"apa riko yang pak azka maksud CEO wijaya group?" tanya edwin meyakinkan.

__ADS_1


"ya."


"tidak pak. tapi saya dengar pak riko itu orang yang sangat baik dan royal." ujar edwin.


"kemarin dia datang kesini, dan menunjukkan ketertarikannya kepada dwi." ucap azka lalu berdiri dari kursi kerjanya kemudian pindah ke sofa. "duduklah." pinta azka kepada assistant nya.


edwin hanya menurutinya.


"aku dengar kalau dia itu seorang pria yang senang bermain-main dengan wanita." ujar azka.


"kalau soal itu saya kurang tahu pak. tapi kemungkinan itu benar, karena saya sendiri sering melihatnya datang ke hotel ini dengan beberapa wanita berbeda." ucap edwin.


"aku ingin kamu mengawasinya." pinta azka.


"baik pak." ucapnya.


***


sindi hendak masuk kedalam ruangan riko, namun niatnya urung saat melihat riko yang keluar dari ruang kerjanya.


"riko..."


riko menoleh. "ada apa?"


"tidak sekarang! aku sedang sibuk." riko hendak pergi, namun dengan cepat sindi menarik pergelangan tangannya.


"sebentar saja."


"apa kamu tidak dengar?" bentaknya. "aku sedang sibuk."


"kenapa kamu menggembok ruangan khusus kita?" sindi menatap dalam wajah riko seraya mencengkram tangannya.


"memangnya kenapa? aku berhak melakukan apa yang mau aku lakukan di kantorku. lagi pula aku sudah tidak tertarik dengan tubuhmu lagi, aku juga akan membatalkan pertunangan kita."


"jahat sekali! aku tidak pernah menyangka kalau kamu akan melakukan ini kepadaku, setelah apa yang sudah aku korbankan untukmu." ucap sindi dengan bola mata yang berkaca-kaca.


"kenapa bicara seperti itu? seolah-olah kamu itu adalah korban. jangan khawatir, meskipun hubungan kita telah berakhir, aku tidak akan meminta semua barang-barang yang sudah pernah aku berikan kepadamu, termasuk apartemen dan juga mobilmu. itu semua masih milikmu. kita impas. kamu dapat semua yang kamu inginkan, dan aku mendapatkan kepuasan." ujar riko.


"aku pikir kamu tulus mencintaiku." kali ini sindi meneteskan air mata yang sudah tidak dapat dibendung lagi.


"cinta? haruskah aku tulus mencintaimu? sementara aku sendiri tidak yakin kalau kamu bakalan tulus mencintaiku seandainya aku tidak punya apa-apa."


"kamu salah! oke ku akui, selama ini aku memang sering memintamu untuk membelikan barang-barang mewah untukku. tapi percayalah, aku benar-benar tulus mencintaimu, tidak perduli apa yang akan terjadi kedepannya terhadapmu."


"omong kosong! menjauhlah dariku, aku sudah muak denganmu." ucap riko seraya mendorong tubuh sindi agar menjauhinya.

__ADS_1


mendapatkan perlakuan seperti itu dari riko, sindi tidak akan tinggal diam. dia pun berencana untuk menghancurkan riko untuk membalas sakit hatinya. sindi kembali ke ruang kerjanya. dia duduk di kursi seraya memikirkan cara apa yang pantas dia lakukan untuk membalas perlakuan riko kepadanya.


**


"kenapa azka belum juga mentransfer uangnya? aku harus menghubunginya." batin dwi. dia mengutak-atik layar ponselnya. "sial! aku lupa, kalau aku belum sempat bertukar nomer dengannya. aku bahkan tidak tahu nomer resepsionis hotelnya." gumam dwi. mau tidak mau, dwi terpaksa harus menemui azka dikantornya.


baru saja dia membuka pintu apartemen, dia sudah dikejutkan dengan sosok seorang laki-laki yang berdiri tepat dihadapannya dengan tersenyum menyeringai. "bagaimana? apa kamu sudah siap?" tanyanya.


"mau apa kamu kesini?" dwi terlihat sedikit gugup.


"pertanyaan macam apa itu? tentu saja aku datang kesini ingin menagih uang yang telah kamu janjikan."


"bukankah waktu itu sudah ku katakan, kalau aku akan mengantarkan uangnya secara langsung kepadamu."


"aku tidak mau menunggu terlalu lama! ayo ikut denganku." riko menarik paksa pergelangan tangan dwi.


"lepasin! apa yang kamu lakukan?" dwi memukuli pundak riko berharap dia akan melepaskannya.


"ada apa ini?" tanya salah seorang pemilik apartemen yang bersebelahan dengan apartemen milik azka. "kenapa kamu menyeret wanita ini."


"wanita ini penipu, dia telah membawa lari uangku, dan aku akan membawanya ke kantor polisi." ucap riko tengah berbohong, sehingga membuat pria itu terkejut, tak terkecuali dwi, dia tidak menyangka kalau riko akan berkata seperti itu.


"jadi wanita ini penipu, ya sudah kamu bawa saja dia ke kantor polisi." ucap pria itu seraya pergi meninggalkan keduanya.


"pak riko, apa yang kamu katakan, aku bukanlah seorang penipu." ucap dwi membela diri.


"ikut saja denganku, atau citramu akan semakin buruk dimata semua para penghuni apartemen ini."


"kamu mau bawa aku kemana?" tanya dwi seraya terus memukulinya.


"ketempat terindah yang belum pernah kamu datangi sebelumnya. aku yakin kamu pasti akan menyukainya." ucap riko dengan senyum liciknya.


setelah sampai di parkiran, riko langsung mendorong tubuh dwi agar masuk kedalam mobilnya.


"sebenarnya kita mau kemana? tolong jawab aku?"


"kita akan pergi ke hotel."


"sungguh? apa kita akan menemui azka untuk meminta uangnya?" tanya dwi antusias.


riko menghela nafas lalu membuangnya secara kasar. dia menatap lekat wajah dwi seraya memegangi dagunya.


"jangan sentuh aku." dwi menepisnya.


"kenapa kamu begitu bodoh! apa kamu pikir aku akan membawamu kepada suamimu? tentu saja tidak! kita akan pergi ke hotel lain." jelasnya. dia pun menyalakan mesin mobil lalu melajukannya.

__ADS_1


__ADS_2