
Sekitar pukul 20:02 Azka baru tersadar dari pengaruh obat tidur yang dimasukkan Edwin kedalam minumannya. Dia menoleh kesekeliling ruangan, dan terkejut saat mendapati Viona yang terbaring disampingnya dalam keadaan telan-jang bu-lat. Dengan cepat dia segera bangkit dari tempat tidur.
"Sayang, kamu sudah bangun." Ucap Viona seraya tersenyum.
"Apa yang terjadi?" Tanya Azka panik.
"Tenang saja! aku tidak akan memberi tahu kejadian ini, termasuk kepada Edwin." Ucap Viona. "Ini hanya akan menjadi rahasia kita berdua." Lanjutnya berbohong.
"Edwin mana?" Tanya Azka.
"Tadi sore dia pergi ke hotel, karena Papa memintanya untuk kesana." Jawab Viona berbohong. Padahal Edwin baru saja pergi setelah puas Uwik-uwik dengannya π€βοΈπ
"Kamu pasti sudah menjebakku." Ucap Azka menatap tajam kepada Viona.
"Jebak? aku gak mengerti, apa maksud kamu?" Tanyanya yang berpura-pura polos.
"Aku tahu, ini hanya akal-akalan kamu saja. Kita tidak mungkin melakukannya." Desah Azka.
"Kok kamu gitu sikh? apa perlu aku buktikan sama kamu, apa yang sudah kita lakukan tadi?" Tanya Viona. Namun Azka hanya diam saja. Dia tampak sangat kebingungan.
"Arrgghhh..." Azka mengacak-acak rambutnya, tampaknya dia depresi dengan apa yang terjadi kepadanya. "Ini tidak mungkin! ini tidak mungkin..." Teriaknya seraya melemparkan bantal kearah cermin yang ada dikamar itu.
"Sudahlah Ka! lagi pula aku rela kok, memberikan tubuhku pada laki-laki yang aku cintai, yaitu kamu." Ucap Viona tersenyum penuh kemenangan.
Azka menatap wajah Viona dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Azka menelisik tubuhnya, apakah benar dia memang telah melakukan perbuatan itu dengan Viona. Dia pun menoleh kearah tempat sampah yang banyak tersisa buangan tisu, bekas Viona dan Edwin tadi bermain beberapa ronde. Dia pun mengusap wajahnya secara kasar. "Aku harus pergi." Ucapnya kemudian.
"Tunggu Azka." Viona beranjak dari tempat tidur. "Kamu mau kemana?" Tanyanya.
"Aku akan menemui Edwin, dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi." Sahut Azka.
__ADS_1
"Azka please! apa kamu ingin mempermalukan aku, dengan menanyakan ini kepada Edwin? Edwin itu tidak tahu apa-apa! ini real kesalahan kita berdua." Ujar Viona.
"Kesalahan kita? aku yakin, kalau aku telah dijebak!" Desis Azka. Tanpa memperdulikan Viona yang terus memanggilnya, Azka segera pergi meninggalkan rumah Edwin.
**
Club.
Edwin sedang bergulat dengan hati dan pikirannya ditempat hiburan malam, dengan beberapa botol minuman yang ada dihadapannya. Di tempat yang sama, Sindi juga tampak menenggak minumannya seraya berjoget-joget mengikuti alunan musik. Namun tiba-tiba seorang pria menghampirinya.
"Hai Sin... Sudah lama sekali kita tidak bertemu? kamu makin cantik saja." Goda Riko saat melihat Sindi. Namun Sindi malah mendelekinya dan tidak memperdulikan kehadirannya. Dia terus berjoget-joget menggeleng-gelengkan kepalanya menikmati suara musik yang bergema digendang ditelinganya.
"Sin, apa kita bisa bicara sebentar?" Tanya Riko, seraya memegangi pergelangan tangan Sindi. Namun Sindi menepisnya.
"Jangan pegang-pegang." Ketus Sindi.
"Gak usah sok jual mahal!" Ujar Riko. "Aku tahu kamu itu perempuan seperti apa." Lanjutnya.
"Apa kamu pikir kamu bisa menamparku?" Desis Riko. "Sudahlah Sin, aku tahu kamu itu kesepian semenjak putus sama aku." Lanjutnya.
Sindi mendorong tubuh Riko. "Dasar brengsek! jangan pernah ganggu hidupku lagi." Sentaknya.
Riko mencengkram kuat pergelangan tangan Sindi. "Ayolah, kamu gak usah sok jual mahal seperti itu! aku tahu kalau kamu juga sangat merindukan belaian ku." Ucap Riko kepada Sindi dengan tatapan merendahkan.
byuaarrr...
Tiba-tiba seorang pria menghampiri Riko, lalu menyiramnya dengan minuman di seloki yang dia bawa.
"Edwin..." Tutur Sindi.
__ADS_1
"Lepaskan dia." Sentak Edwin.
"Dia!" Batin Riko setelah melihat wajah laki-laki yang ada dihadapannya. Yang Riko tahu, Edwin itu asistennya Azka, karena dia belum tahu kalau Azka itu sudah risign dari hotel.
Sindi menggigit tangan Riko, sehingga Riko pun melepaskannya. Kini Sindi berlindung dipunggung Edwin.
"Ini bukan urusanmu, jadi jangan ikut campur!" Gertak Riko kepada Edwin.
"Tentu saja ini urusanku, karena yang kamu ganggu itu pacarku." Ucap Edwin secara spontan, sehingga membuat Sindi dan Riko Menohok.
Namun kemudian Riko menyunggingkan senyumannya. "Kamu pikir aku percaya dengan bualan mu? asal kamu tahu, Sindi tidak mungkin mau dengan asisten seperti mu. Karena dia itu perempuan matre!" Decah Riko.
"Gak! itu gak benar." Sahut Sindi. "Edwin kamu jangan dengerin ucapannya." Lanjut Sindi.
"Sudahlah Sin, sebaiknya kita tinggalkan saja orang ini! gak guna juga meladeni orang yang hobinya mengganggu kebahagiaan orang lain." Sindir Edwin seraya menggenggam tangan Sindi, dan membawanya pergi.
"Sial!" Umpat Riko seraya mengusap-usap jas nya yang basah karena Edwin.
_
"Kamu gak apa-apa?" Tanya Edwin.
"Gak!" Jawabnya. "Terima kasih ya, untung kamu datang lalu bantuin aku." Lanjut Sindi.
Edwin mengangguk dan tersenyum. "Laki-laki itu memang brengsek! setelah dia gak berhasil untuk dapatin Mbak Dwi, sekarang dia malah berusaha untuk menggoda kamu." Tutur Edwin, yang gak tahu kalau Riko itu sebenarnya mantan tunangan Sindi.
Sindi pun tersenyum masam mendengar ucapan Edwin. Namun dia memilih untuk bungkam, dan tak mau memberitahu masa lalunya dengan Riko kepada Edwin.
"Aku minta maaf, karena sudah lancang mengaku-ngaku pacar kamu di depan Riko." Tutur Edwin.
__ADS_1
"Gak apa-apa." Sahutnya. "Soal omongan Riko tadi, aku harap kamu tidak terpengaruh oleh ucapannya yang mengatakan kalau aku itu perempuan matre." Pinta Sindi.
"Aku juga tidak percaya kalau kamu wanita yang seperti itu." Sahut Edwin. Sehingga membuat Sindi mengigit ujung bibirnya dan senyum-senyum sendiri.