
Hari yang ditunggu-tunggu pun kini tiba. Dwi berjalan dengan anggunnya diiringi oleh Bu Patma dan Sindi menghampiri calon mempelai pria di-meja akad. Seperti apa yang sudah dikatakan sebelumnya, kalau mereka hanya mengundang keluarga besar serta sahabat terdekat saja. Namun kali ini Dwi juga mengundang Erick untuk hadir di-acara pernikahannya, karena Erick juga salah satu orang terdekatnya.
Acara yang digelar dijaga ketat oleh orang-orang suruhan Azka, untuk mengantisipasi kalau sewaktu-waktu Riko atau anak buahnya akan datang untuk membuat kekacauan di-acara pernikahan mereka. Awalnya Dwi sempat menolak ketika Azka berniat menyewa orang untuk menjaga area gedung pernikahan dengan alasan, terlalu berlebihan. Namun demi keamanan bersama, akhirnya Dwi menyetujuinya.
Dwi duduk disamping Azka yang sudah beberapa menit lalu standby dan menunggunya. Saat mata keduanya bertemu mereka pun saling melemparkan senyuman terbaiknya.
Entah kenapa kali ini Azka terlihat tegang, padahal ini bukan kali pertama dia akan melakukan ijab qobul.
" Nak Azka, jangan tegang! rileks saja rileks." Guyonan Pak Mukti mencairkan suasana, sehingga Azka pun kini tersenyum.
Pak penghulu memulai acara ijab qobul tersebut. Azka mengucapkan dengan suara yang lantang tanpa ada kesalahan sedikitpun, sehingga kata 'syah' pun terdengar dari para saksi. "Alhamdulillah." Pak penghulu mengucapkan doa penutupan.
Bu Patma memeluk Dwi dan menciumi pipi serta keningnya. "Semoga ini menjadi pernikahan terakhir kamu dengan nak Azka. Dan semoga kedepannya tidak ada kesalah pahaman lagi diantara kalian berdua."
"Iya Bu, semoga saja." Dwi berkaca-kaca.
Kini giliran Sindi yang memeluk erat Dwi dengan air mata yang sudah menetes di pipinya. "Selamat ya Wi atas pernikahan kalian." Ujarnya. "Aku gak bisa berkata apa-apa lagi! karena yang jelas aku senang banget bisa melihat kalian bersatu kembali." Sindi berlinang air mata. Dia pun menoleh kepada Azka. "Azka, awas ya kalau kamu sampai menyakiti Dwi lagi! karena kalau sampai itu terjadi, aku tidak akan membiarkan kamu hidup dengan tenang." Ancamnya.
Azka mengangkat tangan mengisyaratkan 'Oke!' kepada Sindi seraya mengedipkan sebelah matanya. "Tenang saja Sin, soal kesetiaan kalian tidak perlu meragukan-ku, karena aku laki-laki paling setia versi 0n th3 sp0t." Celotehnya. Namun seketika senyuman Azka memudar saat melihat kehadiran Erick disana.
Dwi langsung menyambutnya. "Terima kasih Pak Erick, karena Bapak sudah menyempatkan diri untuk hadir di-acara pernikahan kami." Dwi tersenyum. Yang dibalas anggukan kecil olehnya.
Sementara Azka, berusaha tersenyum untuk menutupi kecemburuannya. "Terima kasih, karena anda sudah hadir disini." Ucap Azka tersenyum masam, ketika Erick menyalaminya.
Disinggung soal kemana mereka akan berbulan madu, Azka pun menjawab jika dia ingin honeymoon ke LV, sekalian ingin menemui Edwin disana. Namun ternyata Dwi tidak mnyetujui keinginannya, dengan alasan belum bisa meninggalkan baby Wika. Dan kalau dibawa pun belum memungkinkan mengingat usianya yang baru lima bulan.
"Yang dekat-dekat saja, jangan jauh-jauh. Biar baby Wika juga bisa ikut!" Ungkap Dwi.
__ADS_1
"Kalau aku boleh ikut gak Wi?" Seru Sindi menggodanya.
"Jangan, nanti ganggu!" Celoteh Azka seraya melingkarkan tangannya dipinggang Dwi.
_
Dwi memasuki kamar pengantin. Merasa gerah dan lelah dia pun masuk kedalam bathroom. Dwi menyalakan shower dan mengguyur tubuhnya dengan air yang mengalir dan membasahi seluruh tubuhnya mulai dari kepala hingga ujung kakinya.
Beberapa menit kemudian Dwi keluar dengan mengenakan bathrobe. Saat melihat laki-laki yang memakai jaket Hoodie duduk ditepi ranjang mengarah kearah jendela, Dwi pun langsung memeluknya dari belakang.
"Aku sudah mandi, sekarang giliran kamu." Dwi menenggelamkan wajahnya di-punggung laki-laki itu.
Trrrtttt....
Perlahan pintu kamar terbuka. Dwi menoleh kearah sumber suara, dan betapa terkejutnya dia saat melihat Azka berdiri diambang pintu menatap intens kepadanya dan kearah laki-laki yang dipeluknya. Sontak Dwi langsung melepas pelukannya.
"Surprise..." Laki-laki itu membuka tudung kepalanya.
"Riko, turunkan senjata mu!" Sentak Azka. "Jangan macam-macam kepada Dwi, cepat lepaskan dia." Teriaknya. Perlahan Azka melangkahkan kaki untuk mendekat.
"Mendekat selangkah lagi, maka nyawa istri tercinta mu ini akan melayang." Riko menyeret Dwi, agar mau mengikutinya keluar lewat jendela. "Cepat ikut aku."
"Tolong lepaskan aku..." Pekik Dwi yang ketakutan, karena belati yang ada ditangan Riko mengarah persis ke-lehernya.
"Riko jangan gila! cepat lepaskan istriku." Teriak Azka, sehingga penghuni rumah terbangun oleh teriakannya dan melihat apa yang terjadi.
"Jangan ada yang mendekat, jika ingin Dwi selamat." Ancam Riko kepada Semua penghuni dirumah itu, yang tak lain Pak Mukti, Bu Patma, Ica dan Dio. Sementara Nek Eva mengendap pergi untuk menghubungi kantor polisi terdekat.
__ADS_1
"Riko, tolong lepaskan anak saya. Tidak puas kah selama ini kau membuat hidupnya menderita!" Sentak Pak Mukti.
"Seperti apa yang sudah aku katakan sebelumnya, kalau aku tidak akan membiarkan kalian hidup bahagia diatas penderitaan ku." Riko berjalan mundur seraya menyeret paksa tubuh Dwi.
"Penderitaan apa maksudmu? Dwi itu istriku, dan kau tidak memiliki hak apapun atas dirinya." Sentak Azka berjalan perlahan mendekati Riko.
"Mundur!" Sentak Riko yang menyadari pergerakan Azka. "Atau kau ingin aku menebas batang leher istrimu." Ancamnya.
Tiba-tiba terdengar suara sirine mobil polisi.
"Jangan bergerak!"
Beberapa polisi tiba-tiba berdiri tepat dibelakang Riko. Sehingga Riko langsung membuang belati itu kesembarang arah serta mengangkat kedua tangannya keatas. Lalu dengan cepat polisi memborgol kedua tangan Riko dan menggiringnya masuk kedalam mobil polisi.
Dengan wajah yang ketakutan Dwi berlari dan langsung memeluk Azka, Azka pun membalas pelukannya. Namun polisi meminta Azka ikut ke kantor polisi untuk dimintai keterangan, sehingga Dwi dibawa Bu Patma masuk kedalam kamarnya.
"Sekarang kamu istirahat, ini sudah larut malam." Ujar Bu Patma.
"Terima kasih Bu." Dwi menatap kepergian Ibunya. Dia pun melihat baby Wika ditempat tidurnya lalu menggendongnya. Dwi tidak akan bisa tidur sebelum Azka pulang, karena setelah kejadian tadi membuatnya sangat ketakutan.
"Sayang, kamu belum tidur?" Suara Azka tiba-tiba mengejutkan Dwi. Sadar kalau dia telah mengagetkan istrinya, dengan cepat Azka mendekat lalu memeluknya.
"Azka, kamu sudah pulang."
Azka mengangguk. "Ini sudah larut, biarkan baby Wika tidur ditempat tidurnya." Azka mengambil alih menggendong Wika.
"Tapi Ka-..." Dwi menatap kesekeliling.
__ADS_1
Azka yang tahu akan kekhawatiran istrinya, berusaha untuk meyakinkan kalau tidak ada lagi orang yang akan men-jahatinya karena Riko sudah ditahan.
"Tenang saja! keluarga kita sekarang sudah aman. Mulai saat ini gak akan ada orang yang berusaha untuk menyakiti kamu atau pun bayi kita." Tutur Azka.