Duda Tampan Haus Belaian

Duda Tampan Haus Belaian
DTHB 63


__ADS_3

*


"Pak Erick kemana ya? sudah siang gini kok dia belum datang juga." Gumam Yola, rekan kerja yang biasanya akrab dengan Dwi.


"Padahal biasanya Pak Erick itu orang yang sangat disiplin dan paling menghargai waktu, meskipun perusahaan ini miliknya sendiri." Sahut Debby. Mereka berdua berdiri didepan pintu ruangan Erick untuk meminta tanda tangan Erick, diberkas yang mereka pegangi.


Sindi melewati keduanya begitu saja, menyelonong masuk kedalam ruangan milik Erick. Sehingga membuat Yola dan Debby menohok, karena menurut mereka Sindi tidak sopan.


"Parah banget sepupunya di Dwi. Perempuan itu gak punya etika apa? maen masuk begitu saja! permisi dulu ke, sama kita! bukannya malah nyelonong begitu saja." Gerutu Debby kepada rekan kerjanya.


"Sudahlah Deb. Kita maklumi saja dia! lagian waktu itu kamu dengar sendiri kan, cerita Dwi tentang sepupunya itu." Jelas Yola, mengingatkan.


"Iya si. Dari dia aku sadar! kalau yang diatas itu gak selamanya akan diatas. Ada masanya ketika dimana mereka akan tejatuh." Tutur Debby.


"Menurut kamu, mungkin gak si. Kalau dia dipecat dari perusahaan dulu tempatnya bekerja, karena sikap sok nya itu?" Tanya Yola, seraya menyandarkan punggungnya didepan dinding ruangan CEO.


"Mungkin saja! perusahaan mana yang mau mempekerjakan wanita yang gak punya attitude sepertinya." Cela Debby.


"By the way. Dua hari gak masuk kerja, aku kangen juga sama si Dwi." Ujar Yola.


"Iya, sebenarnya dia itu sakit apaan ya? tiap hari kerjanya kok mual-mual mulu. Kayak orang hamil, tau gak?!" Desisnya.


"Sembarangan kamu Deb. Kita semua tahu, kalau Dwi itu seorang janda! jadi gak mungkin dia hamil!" Decak Yola.


"Tapi Yol, kamu ngerasa gak? kalau akhir-akhir ini Dwi itu terlihat dekat sekali dengan Pak Erick?" Tanya Debby.


Yola tertegun, mencerna kembali setiap ucapan Debby. "Gak mungkin Dwi hamil anaknya Pak Erick." Batin Yola.


Tak lama kemudian Merry sekretarisnya Erick tiba. "Ngapain kalian berdiri disini?" Tanyanya.


"Kita sedang menunggu Pak Erick untuk meminta tanda tangannya." Jawab Debby.

__ADS_1


"Tadi Pak Erick bilang, kalau dia hari ini lagi ada urusan mendadak. Jadi kemungkinan dia akan masuk telat." Ujar Merry. "Mana berkasnya? aku akan menaruhnya didalam ruangan Pak Erick." Pinta Merry. Mereka berdua pun memberikannya.


Merry segera masuk kedalam ruangan CEO. Dan disana juga ada Sindi yang sedang membersihkan meja kerja Erick.


"Office girl baru ya?" Tanya Merry dengan raut wajah yang datar.


Sindi menoleh. "Hmm." Gumamnya. Dia pun kembali pokus mengelap meja.


"Jadi dia yang sedang menjadi perbincangan seisi kantor! ternyata sikapnya memang sedikit kurang sopan. Pantas saja banyak staf wanita yang tidak suka kepadanya." Batin Merry, menatap sinis kepada Sindi. Merry pun duduk diatas meja kerja Erick, dan mengamati bentuk tubuh Sindi secara rinci.


Sindi menoleh. Dan saat sadar kalau dirinya sedang ditatap oleh Merry, dia pun bertanya. "Kenapa anda menatap saya seperti itu?" Tanyanya.


"Tidak apa-apa! aku hanya ingin memastikan, kalau kamu tidak lebih cantik dan lebih seksi dari pada aku." Sahutnya.


Ucapan Merry membuat Sindi mengernyitkan dahinya.


"Oya, aku peringatkan ya sama kamu! jangan pernah coba-coba untuk mendekati Pak Erick. Karena dia itu milikku!" Ujar Merry, seraya mengangkat tangan, lalu menatap ujung kuku jari jemarinya yang runcing.


"Aishh..." Umpat Merry seraya mengepalkan kedua tangannya, menatap kepergian Sindi.


Sindi keluar dari ruangan Erick. "Ck. Ngapain dia pake bilang segala kalau Erick itu miliknya! memangnya dia pikir aku tertarik apa sama pria miliknya itu." Desisnya. Tiba-tiba Sindi teringat akan sosok Edwin. "Edwin, sedang apa ya dia sekarang?" Gumamnya. Seketika moodnya pun kini kembali. Dia mengambil handphone lalu menghubungi nomer Edwin.


***


Beberapa minggu kemudian.


Disaat waktu senggang, Edwin menyempatkan diri untuk datang ke restoran Azka. Keduanya masih menjalin komunikasi dengan baik. Bu Asmi pun terlihat akrab dengan Edwin dan sudah menganggapnya seperti anak sendiri.


"Kalau gitu Tante tinggal dulu ya." Ucap Bu Asmi kepada Edwin.


"Iya Tante." Sahut Edwin seraya tersenyum menatap kepergiannya. Edwin pun menoleh kepada Azka lalu bertanya. "Apa benar kalau Dwi sedang hamil?"

__ADS_1


Azka yang sedari tadi menghisap rokok yang ada ditangannya pun mematikan rokok tersebut. "Iya." Jawabnya.


"Berapa usia kandungannya?" Tanyanya lagi.


"Mungkin sudah memasuki tiga bulan." Sahut Azka.


"Apa ada kemungkinan untuk kalian rujuk lagi?" Tanya Edwin, menelisik.


"Tentu saja! aku yakin, dengan kehadiran anak yang sedang dikandungnya itu, dia pasti akan mempertimbangkan kembali keputusannya, untuk tidak kembali rujuk denganku." Ujar Azka.


"Aku dengar, Dwi dan keluarganya sedang berada di kota J." Tutur Edwin.


"Benarkah? kamu tahu dari mana?" Tanya Azka.


"Aku tahu dari Sindi."


"Sindi?! Sindi sepupunya Dwi?" Tanya Azka.


"Iya."


"Memangnya kalian kenal?" Tanya Azka lagi.


"Beberapa bulan yang lalu aku berkenalan dengannya, dan dia itu orangnya lumayan asyik." Jelas Edwin.


"Lalu, bagaimana hubungan kamu dengan Viona?"


"Masih sama seperti dulu! dia hanya menganggapku sebatas teman." Jawab Edwin apa adanya. "Teman ranjang." Lanjutnya, tapi dalam hati.


"Kenapa Viona begitu keras kepala! jelas-jelas ada laki-laki yang sudah sangat tulus mencintainya. Kenapa dia membuang-buang waktu untuk mengejar laki-laki sepertiku!" Desah Azka.


"Ya. Dia itu sama seperti mu!" Sahut Edwin.

__ADS_1


__ADS_2