
***
"Azka, apa kita bisa makan siang bersama?" Tanya Pak Bagas.
Sebenarnya Azka ingin menolak ajakan owner hotel. Tapi dia merasa tidak enak, sehingga dengan terpaksa mengiyakannya.
"Azka, aku ingin membicarakan hal yang serius dengan kamu." Ujar Pak Bagas.
"Soal apa Pak?" Tanya Azka.
"Ini soal Viona." Tuturnya. "Kamu tahu kan, kalau sudah lama Viona itu menaruh perasaan terhadap kamu?" Lanjut Pak Bagas.
"Iya Pak. Saya sudah tahu mengenai bagaimana perasaan Viona terhadap saya! tapi maaf, karena saya tidak bisa membalas perasaannya." Tutur Azka.
"Azka, tidak bisakah kamu memberinya satu kesempatan saja untuk bisa bersama kamu? Viona sangat mencintai kamu. Dan aku yakin, kalau kamu satu-satunya laki-laki yang bisa membuatnya bahagia." Ucap Pak Bagas yang mengutarakan keinginannya.
Azka tertegun sejenak. "Viona itu gadis yang cantik dan pintar! aku yakin tidak akan sulit baginya untuk mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dari pada saya." Ucap Azka. "Dan kalau saya memaksakan diri untuk bersama dengan Viona, saya takut nantinya saya malah akan mengecewakannya." Lanjutnya.
"Azka, aku tidak memintamu untuk terburu-buru mengambil keputusan." Ujar Pak Bagas. "Aku akan memberikanmu waktu satu minggu, agar kamu bisa memikirkannya baik-baik. Dan kalau kamu mau memberikan satu kesempatan saja agar Viona bisa hidup bersamamu. Maka aku akan memberikan saham hotel ini 35% kepada kamu." Bujuk Pak Bagas, dengan harapan Azka akan tertarik dengan tawarannya dan mau menikahi Viona.
Azka terdiam mendengar ucapan Pak Bagas. Dia memang sangat menghormatinya, tapi bukan berarti Azka harus mau menuruti keinginannya untuk menikahi anaknya. Karena dari dulu sampai saat ini Azka tidak pernah memiliki perasaan lebih terhadap Viona, selain hanya sekedar menganggapnya teman.
Setelah selesai makan, Azka kembali ke ruangannya. Dia mengusap-usap pelipisnya memikirkan kembali perkataan Pak Bagas.
Tok tok tok.
"Masuk..."
"Maaf, Pak Azka memanggil saya?" Tanya Edwin.
__ADS_1
"Iya." Azka mengangguk, lalu meminta Edwin untuk duduk disofa yang ada diruangan itu.
"Pak Azka ada masalah?" Tanya Edwin, saat melihat raut wajah Azka yang sedikit kusyut.
"Aku bingung, Pak Bagas memintaku untuk menikahi Viona. Padahal kamu tahu betul kan, kalau aku tidak pernah memiliki perasaan apapun terhadapnya, kecuali menganggapnya hanya sebatas teman." Ujar Azka.
"Pak Bagas meminta Pak Azka untuk menikahi Bu Viona?!" Batin Edwin. Seketika diapun membayangkan kejadian saat dihotel bersama Viona.
"Win?"
"Ekh iya Pak?" Tanya Edwin, dia terkejut saat mendengar suara Azka yang membuyarkan lamunannya.
"Sepertinya aku ingin risign saja dari sini. Bagaimana menurutmu?"
"Jangan Pak! sebaiknya Pak Azka berterus terang saja, jika Bapak memang tidak bisa menikahi Bu Viona." Ujar Edwin. "Bapak tidak perlu risign segala dari sini. Aku yakin, Pak Bagas pasti mau memahami perasaan Pak Azka." Lanjutnya.
"Aku pasti tidak akan nyaman bekerja disini, setelah terang-terangan menolak permintaan dari Pak Bagas. Maka dari itu, mungkin akan lebih baik jika aku mengundurkan diri dari sini." Ucap Azka.
"Ya. Mungkin besok aku akan mulai mengurus surat-surat pengunduran diriku." Ucap Azka.
"Lalu, bagaimana dengan saya Pak?" Tanya Edwin.
"Kamu bisa tetap bekerja disini." Ujar Azka, seraya menepuk pundak Edwin.
Tak lama kemudian Viona masuk kedalam ruangan Azka. "Edwin, kamu disini juga!" Ujarnya sedikit terkejut. Semenjak kejadian dihotel keduanya tampak terlihat kikuk. Viona menoleh kepada Azka yang sedang memandangnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. "Kenapa Azka menatap aku seperti itu? apa jangan-jangan Edwin sudah memberi tahu Azka tentang kejadian saat dihotel?" Batinnya mulai bertanya.
"Kalau begitu saya permisi Pak, Bu." Ucap Edwin, kemudian pergi meninggalkan keduanya.
"Ada apa Vi?" Tanya Azka.
__ADS_1
"Azka, apa Edwin mengatakan sesuatu sama kamu? em, maksud aku, dia tidak bicara yang aneh-aneh kan sama kamu?" Tanyanya.
"Aneh-aneh gimana maksud kamu?" Azka balik bertanya.
"Sepertinya Edwin memang tidak mengatakan apapun pada Azka." Batin Viona merasa lega.
"Kenapa bengong?" Tanya Azka.
"Em, sudah! lupakan saja pertanyaan dariku tadi." Ujar Viona, yang membuat Azka sedikit heran.
"Ka, nanti malam dugem yuk?" Ajak Viona.
"Maaf Viona. Aku tidak bisa!" Tolaknya.
"Kenapa? sudah lama kan kamu tidak pergi ketempat hiburan malam?" Tanyanya. "Lagi pula sekarang kamu sudah tidak memiliki istri, jadi kamu bebas melakukan apapun yang kamu mau." Lanjutnya.
"Aku sudah tidak berniat untuk pergi ketempat itu lagi."
"Ayolah Ka. Kamu mau ya temani aku pergi kesana? aku akan merasa sangat aman jika aku pergi kesana bersamamu." Rengeknya seraya memeluk tangan Azka.
"Sikap Viona semakin lama semakin agresif saja." Batin Azka, menatap kearah kedua tangan Viona yang melingkar di tangannya. Perlahan dia pun melepas pegangan tangan Viona.
"Aku sedang banyak pekerjaan. Bisakah kamu keluar dari ruanganku?" Pinta Azka.
"Kamu ngusir aku?"
"Viona, aku minta pengertian kamu. Aku harus segera menyelesaikan pekerjaanku." Ucap Azka.
"Kalau gitu, kamu kerja saja. Aku janji, aku tidak akan menggangu pekerjaan kamu! aku akan menunggu disini." Ucap Viona sembari duduk disofa.
__ADS_1
Azka pun duduk di kursinya dan mulai melakukan pekerjaannya.
Sementara Viona tampak memperhatikan dari sofa. Seketika Viona pun terbayangkan kembali akan peristiwa indah dihotel malam itu. "Seandainya saja waktu itu aku melakukannya dengan kamu Azka. Aku pasti akan sangat senang dan memintamu mempertanggung jawabkan atas perbuatanmu untuk segera menikahi aku. Tapi sayangnya orang itu adalah Edwin." Batinnya.