
Tak kunjung melihat keberadaan Edwin, Sindi pun berdiri dari tempat duduknya hendak mencari Edwin. Namun seketika langkahnya tiba-tiba terhenti saat dia mendengar nama mempelai pria yang disebutkan penghulu. Sindi pun membalikkan badan menatap mempelai pria yang sedari tadi membelakangi para tamu undangan tersebut.
"Sodara Edwin, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan sodari Viona dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar, tunai!" Ucap penghulu dengan suara lantang.
"Saya terima nikah dan kawinnya sodari Viona dengan mas kawin tersebut dibayar, tunai!" Ucap laki-laki yang mereka kira adalah Azka tersebut.
"Bagaimana para saksi, syah?"
"Syah."
"Syah."
"Syah."
"Alhamdulillah." Penghulu membacakan doa terakhir acara ijab qobul mereka.
Pria itu menoleh kesamping, arah dimana wanita yang baru saja dinikahinya berada. Tampaklah! kali ini Sindi dapat melihat siapa laki-laki yang berada di kursi ijab qobul tersebut, dan betapa hancurnya perasaan Sindi saat ini! dia tidak mampu untuk membendung air matanya, melihat laki-laki yang dicintainya bersanding dikursi pelaminan dengan wanita lain.
Keluarga Dwi tampak kebingungan melihat pemandangan yang terjadi! karena setahu mereka, hari ini adalah hari pernikahan Azka dengan Viona. Kenapa bisa Edwin yang menikahi Viona? batin mereka.
Sindi menyeka air matanya. "Aku tidak menyangka, Edwin akan melakukan ini sama aku. Meskipun selama ini tidak ada kejelasan tentang hubungan aku dengan Edwin, tapi perhatiannya pada aku membuatku beranggapan kalau dia juga mempunyai perasaan yang sama terhadapku." Batinnya. "Kamu tega Win! kamu jahat!" Lanjut Sindi dalam hati.
Edwin menoleh kearah Sindi yang sedang menatap nanar dirinya. Terlihat jelas kesedihan diraut wajah Sindi. "Maafkan aku Sin. Aku tidak tahu apakah sekarang aku bahagia bisa menikah dengan Viona? karena yang aku tahu saat ini adalah hatiku hancur, karena kamu pasti akan menjauhiku." Batin Edwin, yang enggan memalingkan penglihatannya dari wajah Sindi.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun akhirnya Sindi pergi meninggalkan acara resepsi yang baru saja akan dimulai, setelah proses ijab qobul selesai.
Sementara dirumah Nek Eva, Dwi tampak sangat kerepotan mengurusi bayinya yang baru berumur beberapa minggu. Tiba-tiba pintu rumah diketuk, dengan cepat Dwi bergegas membukanya.
"Kamu!" Tutur Dwi. Dia pun celingukan kearah belakang Azka. "Ngapain kamu kesini? bukannya hari ini adalah hari pernikahan kamu dengan Viona! jangan bilang kalau kamu kabur dari acara pernikahan kalian?" Dwi langsung memborong pertanyaan.
Azka malah tersenyum. Sehingga membuat Dwi mengernyitkan keningnya.
"Sebaiknya kamu cepat pergi, atau aku akan disalahkan jika kamu telat datang ke acara pernikahan kalian." Usir Dwi.
__ADS_1
"Kamu tenang saja! mungkin sekarang Viona sudah syah menjadi istri laki-laki yang sudah seharusnya menikahinya." Sahut Azka.
"Maksud kamu?"
"Aku yakin betul kalau aku tidak pernah berbuat macam-macam kepada Viona! dan kini semuanya terbukti, jika aku bukan Ayah dari anak yang ada didalam kandungan Viona."
"Maksud kamu apa? tolong jangan bicara berbelit-belit." Decak Dwi.
"Sebenarnya Edwin yang sudah menghamili Viona." Jelas Azka.
"Apa?!" Dwi sangat terkejut. "Itu tidak mungkin! Edwin itu laki-laki yang baik, dia tidak mungkin melakukan itu kepada Viona." Lanjutnya.
Ucapan Dwi membuat Azka tersinggung. "Lalu kamu lebih mempercayai aku sebagai orang yang sudah menghamili Viona ketimbang Edwin?" Azka sedikit sinis.
"Aku tidak tahu! semuanya begitu membingungkan bagiku." Sahut Dwi. Tiba-tiba suara tangisan bayi mereka terdengar keluar, sehingga Dwi dan Azka segera masuk kedalam untuk melihatnya.
Dwi segera menggendongnya, lalu memberikannya asi. Dia tidak sadar kalau ada Azka disampingnya. Namun sesaat kemudian dia menoleh dan sadar jika diruangan itu dia tidak hanya berdua dengan bayinya, melainkan ada Azka juga. Refleks Dwi langsung menutupi dadanya. "Maaf." Ucap Dwi kemudian. Kini dia terlihat salah tingkah.
Dwi tertegun sejenak. "Lalu bagaimana dengan nasib Sindi? kasihan, padahal dia sudah berharap banyak kepada Edwin." Tutur Dwi, mengiba bagaimana perasaan Sindi saat ini.
"Bukankah ini akan lebih menyakitkan, jika kebohongan Edwin dan Viona terbongkar ketika Sindi dan Edwin sudah menjenjang kearah yang lebih jauh." Sahut Azka.
Dwi terdiam, membenarkan ucapan Azka. "Tapi bagaimana kamu tahu, kalau Edwin yang telah menghamili Viona?"
"Edwin sendiri yang mengatakannya padaku." Sahut Azka. Azka pun menceritakan saat Edwin mendatanginya dan mengakui perbuatannya terhadap Viona yang awalnya karena dijebak seseorang hingga keduanya menjadi candu untuk melakukan perbuatan terlarang itu lagi, dan lagi.
...*Flash Back*...
Edwin mendatangi Azka direstoran.
"Aku ingin membuat sebuah pengakuan, kalau sebenarnya aku-lah yang sudah menghamili Bu Viona." Ujar Edwin.
Azka menatap tajam wajah Edwin. "Aku sedang tidak ingin bercanda!" Sahutnya.
__ADS_1
"Aku memang tidak sedang bercanda!" Sahutnya, dengan wajah yang serius. "Aku serius! kalau aku yang sudah menghamili Bu Viona, sehingga kini dia hamil anakku." Jelasnya.
Bugh...
Tanpa aba-aba Azka langsung melayangkan pukulannya, dan mendarat tepat dihidung Edwin sehingga membuatnya berdarah.
"Aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf! karena aku tidak bermaksud untuk membohongimu." Ungkap Edwin, penuh penyesalan.
"Brengsek! gara-gara kamu, nama-ku menjadi buruk dimata Dwi dan keluarganya." Bentak Azka. "Dan aku hampir mempertanggung jawabkan kesalahan yang tidak pernah aku lakukan." Sentak Azka dengan amarah yang mulai meluap-luap.
"Aku terpaksa melakukan itu, karena Bu Viona mengancam akan menggugurkan kandungannya jika aku memberi tahu kebenaran ini pada Mas Azka. Tolong mengertilah, aku hanya ingin membiarkan janin yang dikandung Bu Viona tetap hidup! hanya itu saja." Jelas Edwin.
"Lantas, kenapa sekarang kamu datang menemuiku dan memberi tahu semuanya? apa sekarang kamu sudah tidak mempedulikan janin yang ada diperut Viona?" Tanyanya, dengan cara membentak.
"Aku sudah menemui Bu Viona, dan memintanya untuk memilih antara aku atau Mas Azka." Jawab Edwin.
"Lalu?" Tanya Azka.
"Dia memilih untuk membatalkan pernikahannya dengan Mas Azka dan melanjutkannya untuk menikah dengan ku." Jawab Edwin.
"Sungguh? kenapa bisa begitu?" Tanya Azka.
"Itu karena Bu Viona tidak ingin aku menikahi Sindi, makanya dia memutuskan untuk menyudahi semua kebohongannya untuk bisa hidup bersamaku." Jelas Edwin. "Besok adalah Hari-H pernikahan kalian, dan aku yang akan menggantikan mu besok." Lanjutnya.
"Baik! aku akan mengurus semua surat-menyuratnya. Aku tidak peduli walaupun aku harus membayar mahal atas ini, yang penting aku tidak jadi menikahi Viona." Ucap Azka.
...*Flash Back Off*...
"Jadi begitu ceritanya." Ujar Azka kepada Dwi.
"Tapi kok bisa, Viona lebih memilih Edwin dari pada kamu? karena setahu aku, dia itu sangat terobsesi ingin memilikimu." Ungkap Dwi.
"Sepertinya Viona sudah mulai menyukai Edwin! karena itu terlihat jelas ketika kita sedang jalan berempat bersama Sindi. Viona seperti cemburu melihat Edwin yang begitu perhatian kepada Sindi." Jelas Azka.
__ADS_1