
Selesai makan Sindi mengajak Dwi berkeliling di mall.
"Sindi, bukanya tadi kamu bilang keuangan kamu sedang menipis ya? ngapain kamu ngajak aku kesini?" Tanya Dwi.
"Gak apa-apalah wi, lagian hanya lihat-lihat doang, kan gak bayar." Ujarnya.
Sindi kembali meraba-raba beberapa pakaian yang ada di manekin dan mengamatinya. Sementara Dwi lebih memilih untuk menunggunya di kursi depan pintu, dan memainkan ponselnya.
"Wi, kayaknya aku suka deh sama baju ini." Ucap Sindi tiba-tiba, seraya menunjukkan baju tersebut kepada Dwi.
"Lalu?" Tanya Dwi, terlihat acuh tak acuh.
"Aku mau menghubungi Robby dan memintanya untuk membelikan baju ini." Ujarnya.
"Janganlah Sin, memangnya kamu gak malu apa?" Ucap Dwi.
"Malu? kenapa aku harus malu? Robby itu kan pacar aku."
"Masih pacar kan? belum jadi suami!" Ujar Dwi. "Mendingan kamu kurang-kurangin deh, meminta ini dan itu pada lelaki yang belum menjadi suami kamu." Lanjutnya.
"Selama Robby bisa aku manfaatkan, kenapa enggak!"
"Nanti yang ada malah kamu lagi, yang dimanfaatkan sama dia." Tutur Dwi. " Seharusnya kamu itu mau belajar dari kesalahan kamu yang sebelumnya! jangan sampai bang Robby itu melakukan hal yang sama dengan apa yang Riko lakukan sama kamu." Lanjutnya.
"Gak wi, kamu salah! Robby itu tidak se-brengsek Riko. Dia gak mungkin mencampakkan aku begitu saja! aku yakin, Robby itu tulus mencintaiku."
"Lalu kamu sendiri? apa kamu tulus mencintainya?"
Sindi terdiam mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Dwi.
"Kalau kamu memang tidak sungguh-sungguh mencintainya, jangan pernah kamu mempermainkan perasaannya! apa lagi sampai memanfaatkan kebaikannya." Ucap Dwi.
Sindi tertegun, karena selama ini dia memang tidak sungguh-sungguh menerima Robby. Dia hanya menjadikan Robby sebagai pelarian, karena Riko telah mencampakkannya.
"Azka..." Tutur Dwi secara tiba-tiba, saat melihat Azka memasuki butik itu dengan Mamanya.
"Kok Azka?! kita lagi ngebahas Robby, kenapa kamu jadi ngomongin dia sikh? jangan bilang kalau kamu kangen sama di-..." Saat Sindi sedang nyeroscos, tiba-tiba Dwi langsung membungkam mulutnya.
"Diam!" Pinta Dwi. "Sekarang kamu lihat seseorang disana." Dwi menunjuk kearah Azka dan Mamanya.
"Ekh, Azka tuh..." Ujarnya. "Ekh, tapi sepertinya mereka sedang memilih gaun pengantin. Siapa yang mau nikah?" Tanya Sindi.
"Kalau kamu nanya sama aku, lalu aku nanya siapa?" Ketus Dwi.
"Kamu kan bisa nanya langsung sama Mama Azka."
"Enak saja! ngapain aku nanya Mamanya." Sinisnya.
__ADS_1
"Ya kan biar gak penasaran. Hehe..." Sindi cengengesan. "Wi, kamu gak mau nyamperin Tante Asmi?" Tanya Sindi.
"Nanti saja, setelah Azka pergi." Ucap Dwi, yang tak mau mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Iya kalau pergi! kalau enggak?!" Ucap Sindi. "meskipun hubungan kamu dan Azka sudah berakhir, seharusnya kamu tetap menjalin silaturahmi dengan baik sama Mamanya. Karena walau bagaimanapun Tante Asmi itu kan gak salah apa-apa." Lanjutnya.
"Aku gak bisa menghampiri Mama Asmi kalau ada Azka." Ujar Dwi.
"Kenapa? takut baper ya?" Goda Sindi.
"Apaan sikh Sin..."
"Mungkin gak sikh, kalau Tante Asmi sedang memilih gaun pengantin untuk calon menantunya?" Ucap Sindi berprasangka.
"Calon menantunya? siapa?" Tanya Dwi dengan polos.
"Ya si pelakor itulah! siapa lagi."
"Viona maksud kamu?" Dwi meyakinkan.
"Hm, eukh..." Gumam Sindi seraya mengangguk.
"Gak mungkin akh." Tutur Dwi. Dia pun mengambil botol air mineral yang ada di tasnya lalu meminumnya.
"Kok gak mungkin? bukankah mereka saling mencintai, jadi wajar dong jika keduanya memutuskan untuk saling menikah." Ucapan Sindi membuat Dwi terbatuk-batuk dan menyemburkan minuman yang baru saja masuk kedalam mulutnya.
"Dwi, jorok ikh..."
"Sin, minta tisu dong."
Sindi pun memberikannya.
"Dwi, kamu sedang apa?" Ucap Bu Asmi setelah menghampirinya.
"Ma-..." Dwi meralat ucapannya. "Em, maksud aku Tante disini juga?" Lanjutnya berbasa-basi. Padahal dia telah lebih dulu melihat keberadaan Azka dan Mamanya.
Sepertinya Bu Asmi sedikit kecewa, ketika Dwi meralat kembali panggilannya. "Panggil Mama saja. Mama tidak nyaman ketika kamu memanggil Tante." Pinta nya.
"Ma-maaf Ma." Ucap Dwi merasa bersalah. Dia pun menoleh kepada Azka yang ternyata sedang menatapnya.
"Hai Wi, bagaimana kabar kamu?" Ucap Azka seraya tersenyum ramah kepadanya.
"Baik." Jawab Dwi yang sedikit canggung.
"Ini sudah waktunya jam makan siang. Bagaimana kalau kita makan siang sama-sama?" Ajak Bu Asmi kepada Dwi dan Sindi.
"Boleh tu Tante!" Jawab Sindi antusias.
__ADS_1
"Sindi." Desus Dwi berbisik ditelinganya. "Apa-apaan si?"
"Udahlah Wi, lagian aku juga udah laper seharian memilah baju." Bisiknya lagi di telinga Dwi.
"Em, maaf banget Ma. Tapi kayaknya kita gak bisa deh." Tolak Dwi. "Lagi pula Sindi itu masih memilah pakaian yang dia inginkan dan belum menemukannya! iya kan Sin?" Lanjutnya, seraya menoleh kepada Sindi.
"Udahlah Wi, kita terima saja ajakan dari Tante Asmi! gak enak juga kan kalau kita menolaknya. Lagi pula tadi kan aku sudah bilang, kalau aku lagi gak ada duit, jadi gak bisa beli barang yang aku mau. Nelpon Robby tapi gak diangkat-angkat." Ucap Sindi, tanpa rasa malu. Walaupun didepan Azka dan Mamanya.
Azka dan Mamanya saling bertatapan.
"Memangnya kamui ingin beli apa?" Tanya Bu Asmi.
"Baju itu!" Sindi menunjuk kearah manekin yang dipakaikan baju incarannya.
"Ya sudah, kamu ambil saja. Biar sekalian Tante yang bayarin." Ucap Bu Asmi.
"Tante serius?" Sindi kegirangan.
"Iya." Bu Asmi tersenyum.
"Jangan Sin!" Pinta Dwi.
"Sudah Dwi, gak apa-apa." Ucap Bu Asmi.
Bu Asmi pun membayar gaun serta dress seksi yang diinginkan oleh Sindi. Setelah itu mereka berjalan menuju restoran seafood.
"Kita makan disini saja." Ucap Azka.
"Restoran seafood." Batin Dwi.
Azka tahu, kalau Dwi sangat menyukai menu makanan di restoran itu. Makanya dia sengaja mengajaknya makan disana.
"Wi, kamu mau pesan apa?" Tanya Bu Asmi.
"Em, apa aja deh Ma." Jawabnya.
"Tante gak usah heran mendengar jawaban dari Dwi, karena makanan apapun dia pasti suka. Bahkan sendal jepit di kasih bumbu pun dia pasti makan. Iya kan Wi?" Celotehnya, seraya menoleh kearah Dwi yang sedang menatap tajam kepadanya.
"Mbak, tolong hidangkan saja semua menu terbaik yang ada disini." Ucap Azka kepada pelayan resto.
"Baik mas."
"Ka, kayaknya kamu gak perlu deh, meminta mbaknya untuk menyiapkan semua makanan disini." Ucap Dwi.
"Gak apa-apa! aku tahu kok, kalau kamu sangat menyukai makanan yang ada di resto ini." Ucap Azka secara spontan. Sepertinya dia keceplosan menunjukkan perasaannya terhadap Dwi.
"Udahlah Wi, gak usah malu-malu gitu! biasanya juga malu-maluin." Celetuk Sindi, sehingga membuat Dwi merasa malu dihadapan Azka dan Mamanya.
__ADS_1