
"tentang kita?" tanya dwi.
"ya." sahut azka. "sebenarnya aku tidak pernah ada niat-an untuk menceraikan mu." ujarnya.
"kenapa?" tanyanya lagi.
"karena aku..." bel tiba-tiba berbunyi, sehingga azka menggantung ucapannya.
"aku buka pintu dulu." ucap dwi.
setelah pintu di buka.
"hai azka, apa kamu sakit? aku sudah membawakan makanan untuk mu." ujar viona seraya menghampiri azka.
dwi tercengang melihat sikap viona terhadap azka. "uhuk-uhuk." dia berpura-pura batuk.
"ekh, sorry ya, aku terpaksa harus perhatian sama suami kamu, soalnya aku tahu, kamu pasti tidak akan mau merawatnya." ujar viona.
"viona aku tidak sakit, aku baik-baik saja." ucap azka.
"baik-baik saja? lalu kenapa kamu tidak ke kantor hari ini? aku pikir kamu sedang sakit." ucap viona.
"sebenarnya ada urusan pribadi yang harus aku selesaikan dengannya." ucap azka lalu menoleh kepada dwi.
"urusan pribadi? apa azka akan segera menceraikannya?" batin viona seraya menatap sinis kepada dwi. "tapi baguslah! kalau itu memang benar-benar akan terjadi." lanjutnya dalam hati.
"apa kedatangan ku kemari mengganggu kalian?" tanya viona kepada azka.
"tentu saja!" sahut dwi. "untuk apa kamu berkunjung ke apartemen pria yang sudah beristri, apa kamu tahu? kedatangan mu itu sangat-sangat mengganggu." ucap dwi.
"azka apa yang di ucapkan nya itu benar? apa aku mengganggu mu?" tanya viona.
"sebenarnya..." lagi-lagi ucapan azka menggantung.
"sayang, aku ingin sekali melanjutkan yang tadi." ucap dwi secara tiba-tiba seraya menggandeng tangan azka. sehingga membuatnya sedikit tercengang.
viona tampak mengepalkan tangannya saat melihat dwi yang tampak bermanja-manja pada azka di hadapannya. "azka, kalau gitu aku pergi dulu ya, aku senang kalau ternyata kamu memang baik-baik saja." ucap viona seraya menggenggam tangan azka dan mengelusnya. kemudian dia pun bergegas meninggalkan keduanya.
"kalau gitu aku pergi dulu." ucap dwi saat melihat viona sudah pergi.
"tunggu?" pinta azka seraya mencengkram pergelangan tangannya.
"apa?"
__ADS_1
"aku belum selesai bicara sama kamu." ucap azka.
"kita bicara nanti saja."
"tidak! aku ingin sekarang." ujar azka.
"baik, hanya lima menit saja."
"apa kamu menyukai ku?" tanya azka.
dwi mengernyitkan dahinya. "kenapa kamu bertanya seperti itu?" dwi malah balik bertanya.
"karena aku menyukai mu." tutur azka.
seketika dwi langsung tertawa mendengar pernyataan dari azka.
"kenapa tertawa? apa kamu pikir ini lucu?"
seketika dwi langsung terdiam. "aku tidak percaya! aku tahu kalau selama ini kamu itu membenciku." ucap dwi.
azka meraih tangan dwi lalu menggenggamnya. "aku mencintaimu."
deg. dada dwi bergetar hebat mendengar pengakuan dari azka. namun dwi tidak mempercayainya begitu saja.
"hubungan ku dengan viona tidak sedekat apa yang kamu pikirkan. kalau kamu tidak percaya, kamu bisa menanyakannya kepada edwin." ucap azka.
"apa kamu pikir aku ini bodoh? edwin itu assisten mu, bisa saja kamu menyuruhnya untuk membohongiku."
"satu hal yang harus kamu ketahui! kalau aku tidak pernah bermain-main dengan perasaan. benci aku tunjukan, dan suka pun akan aku perlihatkan." ujar azka.
"sejak kapan kamu menyukaiku?" tanya dwi menatap tajam kearah azka.
"aku tidak tahu, karena semuanya mengalir begitu saja."
dwi mengamati tubuh azka dari ujung kaki hingga ujung kepalanya. "aku tidak bisa mempercayaimu begitu saja." ucapnya.
"aku akan membuktikan, kalau aku sungguh-sungguh mencintaimu. aku akan selalu melindungimu dari laki-laki seperti riko." ucap azka.
"baik. ku pegang ucapanmu." pungkas dwi lalu masuk ke dalam kamar.
"aaaa...." di kamarnya dwi senang bukan kepalang, dia guling-guling di ranjangnya karena saking senangnya. tapi di hadapan azka di pura-pura tidak perduli. "azka bilang kalau dia mencintaiku? aaa... senangnya, berarti cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. hm, tapi aku tidak boleh senang dulu! aku harus lihat kesungguhannya." gumam dwi lalu kembali guling-guling.
...****************...
__ADS_1
pagi-pagi sebelum berangkat kerja, seperti biasa azka menyempatkan diri untuk menyeduh kopi dan membaca koran. dwi keluar kamar dengan mengenakan rok span dengan atasan kaos polos berwarna putih yang terlihat sedikit transparan. azka terus mengamatinya.
"apa kamu masih berniat untuk mencari kerjaan?" tanya azka, seraya berdiri lalu berjalan menghampiri dwi yang sedang mengiris sayuran.
"tentu saja! aku bosan di rumah." jawabnya.
"kalau kamu mau, aku bisa menempatkan mu di hotel sebagai supervisor."
"aku tidak mau menjadi bawahan mu."
azka langsung menatap tajam kepadanya. "memangnya kenapa?"
"nanti yang ada kamu malah terus-menerus menindasku." ujar dwi.
"aku sudah memberanikan diri untuk mengutarakan perasaan ku padamu. kenapa kamu masih berpikiran buruk tentangku."
"jangan hanya karena kamu sudah mengatakan kalau kamu mencintaiku, lalu aku bisa memaafkan semua kesalahan mu begitu saja. tidak semudah itu." ucap dwi yang sok-sok'an jual mahal.
azka mendengus kesal. "kalau begitu aku tarik kembali ucapanku." ucap azka.
"ekh, kok gitu?" dwi terkejut.
"untuk apa aku mencintai seseorang yang tidak bisa menghargai perasaanku." lanjut azka.
"tapi mana bisa begitu? semalam kamu sudah mengatakan kalau kamu mencintaiku, dan kamu tidak bisa menariknya kembali." rengek dwi.
"memangnya kenapa? mulut-mulut aku?" ujar azka lalu membuang muka, dan sedikit memicingkan senyumannya. dia ingin tahu, seberapa jauh dwi terus membohonginya kalau dia tidak memiliki perasaan apa-apa terhadap dirinya.
dwi menggigit sendok yang ada di tangannya. "aww keras." rintihnya.
azka terlihat mengulum senyumannya ketika melihat tingkah lucu dwi. dia pun menaruh cangkir kopi dan koran yang baru selesai dia baca di meja makan, lalu pergi begitu saja.
teng... dwi langsung melemparkan sendok itu kearah pintu, saat melihat azka sudah keluar dari apartemen.
"menyebalkan!" teriak dwi. "aku tahu, kalau kamu memang benar-benar mencintaiku brengsek." gerutunya. dia pun duduk di sofa ruang tamu. "ah, sial! kenapa aku harus berpura-pura tidak perduli sikh? bagai mana kalau azka-..." ucapannya menggantung saat dia mencium sesuatu dari arah dapur.
"emh bau apaan nih?" seketika dwi teringat kalau dia tadi lupa mematikan kompor. "makanan ku..." teriaknya seraya berlari ke arah dapur lalu mematikan kompornya.
"yaaa... gosong." gumamnya meratapi makanan yang bahkan belum sempat dia cicipi enak atau tidak nya. "perutku sudah sangat lapar." akhirnya dwi memutuskan untuk sarapan mie instan saja.
terima kasihπ buat pembaca setia ku yang selalu menunggu up dari cerita ini.
maaf karena sudah beberapa hari aku tidak up. yuk bantu semangatin othor nya biar semangat untuk up tiap hariππ
__ADS_1