
Acara pernikahan Dwi akan dilaksanakan minggu depan, dengan acara yang sederhana atas permintaan Dwi sendiri. Pak Mukti dan Pak Ardi pun hanya mengundang keluarga besar serta sahabat terdekat mereka.
Hari ini Dwi datang ke butik untuk feeteng baju pengantin bersama Azka. "Wi, yang ini sepertinya cocok untuk kamu?" Azka merekomendasikan gaun berwarna putih berbalut kain sutra.
"Jangan yang itu, aku mau yang biasa saja! gak perlu yang waw banget." Sahut Dwi seraya memilah beberapa gaun pengantin modern yang ada di manekin. "Lagi pula kita sudah mau menikah yang kedua kali." Lanjutnya seraya pokus memilih.
Azka tersenyum. "Memangnya kenapa? toh pernikahan yang pertama kita tidak memiliki kesan apapun! karena saat itu kita tidak saling mencintai, sehingga kita tidak punya waktu untuk mempersiapkan pernikahan kita kala itu."
Dwi tersenyum masam. Ya tentu saja! karena pernikahan pertama mereka yang sibuk mencari gaun pengantin adalah Bu Patma dan Bu Asmi. Bahkan saat itu, gaun yang dikenakan Dwi sedikit kekecilan karena Dwi tidak mau melakukan feeteng sebelum pernikahan dilaksanakan. "Azka, kalau gaun yang ini bagaimana menurutmu?"
Azka mendekati Dwi, seketika pandangannya terkunci kearah belahan dada gaun itu. "Jangan yang ini!" Seru Azka. "Yang ini terlalu terlalu terbuka." Lanjutnya. Azka pun menunjukkan gaun lain, yang sederhana namun terlihat elegan. "Kamu coba yang ini saja." Pinta Azka.
Dwi meminta pelayan yang ada disana untuk membantunya. Selang beberapa menit kemudian, Dwi keluar dari ruang ganti dengan mengenakan gaun itu. Betapa cantiknya dia, sehingga membuat Azka terpaku karena kecantikannya.
"Bagaimana Ka?"
"Cantik sekali!" Azka masih terpaku. "Aku ingin kamu mengenakan gaun itu di-acara pernikahan kita." Ucap Azka.
"Tapi Ka, ini kayaknya kegedean deh." Seru Dwi menarik gaun itu yang memang sedikit longgar. Pasalnya Dwi lagi menyusui, jadi berat badannya sedikit menurun.
__ADS_1
"Kalau Mbak mau, kami bisa menunjukan gaun yang sama persis dengan gaun ini, dan tentunya akan lebih pas untuk badan Mbak yang ramping."
"Iya Mbak." Ujar Dwi.
**
Sindi duduk sendirian di pantry dengan keringat membasahi wajahnya. Pasalnya, dia baru saja membersihkan ruangan HRD. Merasa sangat lelah dan sedikit mengantuk dia pun meletakan kedua tangannya diatas meja, lalu menenggelamkan wajahnya dibawah Kungkungan.
Nina dan Cika masuk dengan cara mengendap-endap. Sepertinya mereka berniat untuk mengerjai Sindi, seperti apa yang sering mereka lakukan sebelumnya.
Nina mengambil sebuah kertas putih polos lalu dia tulisi dengan spidol dengan bertuliskan 'AKU PE-LA-CUR! YANG MAU PUAS BISA NEGO'. Setelah itu Nina menempelkan tulisan itu di punggung Sindi dengan menggunakan lem.
"Ck." Nina dan Cika mendelekinya.
"Nina tolong buatkan kopi untuk Pak Erick, setelah itu kamu langsung antar keruangannya." Teriak Indra dari ambang pintu masuk.
"Iy-iya Pak." Sahut Nina. Sudah lama Nina memendam perasaan kepada Indra, yang tak lain ialah sekretaris pribadi Erick.
"Sudah kali... Orangnya juga sudah pergi." Goda Cika, saat melihat sahabatnya senyum-senyum sendiri.
__ADS_1
"Apaan si Cik..." Nina tersenyum malu-malu.
Sindi mengangkat kedua alisnya. "Teman mu kayaknya ke-sambet! ruqyah gih." Ledeknya.
"Sembarangan! justru kamu yang harus di ruqyah." Sentak Nina yang tidak terima dengan ucapan Sindi. "Siapa coba? yang berani melawan sama atasan, kecuali kamu." Sinis Nina seraya mendeleki Sindi.
"Kalau aku merasa tidak bersalah, ya aku lawan!" Cercah Sindi. "Lagi pula seorang atasan juga sama-sama makan nasi." Lanjutnya.
"Tapi sepertinya orang sepertimu tidak pernah makan bangku sekolahan." Sindir Cika.
Sindi tertawa mendengar ucapan Cika. "Ya memang gak pernah!" Seru Sindi. "Lagi pula kamu aneh ya, mana ada orang yang mau makan bangku sekolahan, kan keras. Gila lu ya!" Ledeknya, kemudian berjalan keluar meninggalkan dua perempuan yang tampak planga-plongo mendengar jawabannya.
Tiba-tiba Nina pun menoyor kepala Cika.
"Aww... Kok aku di toyor sikh."
"Dasar be-go." Maki Nina. " Apa yang dikatakan si lon-te itu benar! memangnya siapa yang pernah makan bangku sekolahan coba? yang ada juga duduk dibangku sekolahan." Desisnya.
"Ya maaf, salah dikit doang juga." Rengek Cika.
__ADS_1