
Kabar pernikahan Azka dan Sindi sudah terdengar ketelinga Riko. Dia merasa senang karena rencananya untuk menyatukan Azka dengan Viona hampir berhasil. "Setelah Azka menikah dengan wanita bernama Viona. Aku yakin, tidak ada alasan lagi untuk Dwi menolakku." Gumam Riko, tersenyum penuh kemenangan. Sampai saat ini dia belum tahu, kalau rencananya waktu itu gagal! ketika dia menyuruh orang untuk menculik Azka, dan menempatkannya satu ruangan dihotel bersama Viona. Dan anak buah Riko pun tidak sadar ketika mereka salah menculik orang, karena saat itu wajah Edwin langsung mereka tutupi dengan kain.
Riko datang kerumah Nek Eva dengan alasan ingin menengok bayi Dwi. Riko memicingkan senyumannya, ketika melihat Sindi yang baru keluar dari rumah Nek Eva. Sekilas dia juga menoleh kearah mobil disamping mobilnya terparkir. "Kamu masih mengendarai mobil yang aku beri, apa kamu belum bisa move-on dari aku?" Tanyanya penuh percaya diri.
"Ck." Sinis Sindi mendelekinya. Dia pun hendak membuka pintu mobilnya, namun dihalangi oleh Riko.
"Kenapa terburu-buru? kamu bahkan belum menjawab pertanyaanku?" Desak Riko.
"Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa! jadi berhentilah mengganggu ku." Sentak Sindi.
"Sttt..." Riko meletakkan tangan dibibir Sindi. "Mulutmu ini tidak cocok kamu gunakan untuk membentakku. Dari pada kamu marah-marah gak jelas seperti ini, mending sekarang kamu ikut aku, kita senang-senang bareng." Ajaknya.
"Cih. Gak sudi!" Cecar Sindi. "Minggir!" Sungut Sindi.
"Ayolah! kamu itu gak usah jual mahal sama aku." Riko menarik tangan Sindi dan memintanya untuk masuk kedalam mobilnya.
"Sudah aku bilang, aku gak sudi!" Teriak Sindi, sehingga teriakannya terdengar oleh Dwi.
__ADS_1
"Ada apa ini?" Tanya Dwi. Dia melihat kearah tangan Riko yang sedang mencengkram pergelangan tangan Sindi.
Dengan cepat Riko pun melepaskannya. Lantas Sindi pun segera pergi meninggalkannya.
Dwi menatap sinis kepada Riko. "Mau apa kamu?" Ketusnya.
Riko tersenyum. "Aku dengar kamu sudah melahirkan." Ucapnya berbasa-basi. "Apa aku boleh melihat anak kamu?" Tanyanya.
"Anak aku lagi tidur, dan tidak bisa diganggu." Sinisnya.
"Kalau begitu, aku ingin bertemu dengan kamu." Lanjutnya.
"Aku dengar Azka akan menikah dengan wanita yang bernama Viona! lalu bagaimana dengan mu?" Riko mendekati Dwi, lalu berdiri tepat dihadapannya.
""Bagaimana apanya?! aku sanggup, untuk hidup berdua bersama anakku tanpa adanya sosok laki-laki." Sahut Dwi.
"Kalau kamu mau, aku bisa menggantikan Azka untuk menjadi sosok Ayah bagi anakmu." Ujar Riko.
__ADS_1
"Tidak perlu! lebih baik sekarang kamu pergi dari sini, dan jangan pernah datang lagi." Ucap Dwi mengusirnya.
"Sial! Dwi tetap bersikap dingin meskipun Azka sudah mau menikah dengan Viona." Batin Riko. Dengan kesal Riko pun pergi meninggalkan Dwi.
*
Sindi masuk kedalam ruang kerjanya. Saat ini Nina sedang membersihkan ruangan, seketika Sindi teringat kembali akan perlakuan Nina ketika dia masih menjadi OG. Nina selalu bersikap semena-mena terhadap Sindi. Akhirnya Sindi pun memikirkan cara agar dia bisa membalas perlakuan Nina saat itu terhadapnya.
Sindi menyuruh Nina untuk mengambilkannya secangkir kopi. Awalnya Nina sempat menolak namun karena Sindi mengancam akan mengadukannya kepada Pak Farhan, akhirnya Nina membawakannya. Namun setelah dibawakan, Sindi malah malah dengan sengaja menumpahkan kopi tersebut dilantai yang sudah di pel oleh Nina, sehingga membuatnya marah.
"Apa yang kamu lakukan? aku sudah membersihkan semua ruangan ini, kenapa kamu malah menumpahkan kopi itu." Geram Nina kepada Sindi.
"Ups. Sorry..." Tutur Sindi seraya menutup mulutnya, kemudian mentertawakannya.
"Sial! kamu pasti memang sengaja ingin mengerjai ku." Decak Nina.
"Aku kan sudah bilang, kalau aku tidak sengaja! masa gitu aja marah." Ucap Sindi seperti sedang meledeknya.
__ADS_1
"Kalau gitu, kamu bersihkan saja sendiri. Bye!!!" Ucap Nina kemudian pergi.
"Ekh, kok gitu si?! Woy..." Teriak Sindi. Namun Nina tidak mempedulikannya. "Aishh... Sial!" Umpatnya. "Lihat saja, aku akan mengadukan sikapnya kepada Pak Farhan." Gumamnya.