Duda Tampan Haus Belaian

Duda Tampan Haus Belaian
kawin kontrak?


__ADS_3

...club malam...


jep ajep-ajep ajep-ajep.


"ka, kamu lihat cewek itu, dari tadi dia lihatin kamu terus." ucap geri seraya menunjuk kearah dwi.


sekilas azka menoleh, tapi tak merespon ucapan geri. azka kembali menenggak minuman yang ada di tangannya.


"ka, menurutku cewek itu mungkin tertarik kepadamu." ujarnya.


"tidak mungkin!"


"kenapa tidak mungkin? orang dari tadi dia kelihatan lihatin wajahmu terus." ucap geri.


"kalau dia memang tertarik denganku, dia tidak mungkin menatapku seperti itu. coba kamu lihat tatapannya baik-baik, sudah seperti macan betina yang ingin menerkam mangsanya saja." ucap azka.


mendengar ucapan azka geri pun terkekeh. "kalau kamu memang tidak tertarik dengan gadis itu, biar aku saja yang akan mendekatinya." ucap geri, dia segera menghampiri dwi di mejanya.


"sendirian aja?" tanya geri tengah berbasa-basi.


"lagi nunggu pacar." jawabnya berbohong.


"aku boleh menemanimu sampai pacarmu datang?" tanya geri yang menatap wajah dwi penuh ketertarikan.


dwi menatap lekat wajah laki-laki yang ada di hadapannya. "cowok ini, sepertinya dia bisa aku manfaatin." batinnya. lalu kemudian dwi mengangguk.


"oya, namaku geri. siapa namamu?"


"dwi."


"aku perhatikan, dari tadi kenapa kamu terus melihat kesana?" tanyanya seraya menoleh kearah azka yang duduk tidak jauh dari meja mereka.


"apa dia temanmu?"


"ya, dia sahabat baikku. apa kamu menyukainya?"


"tidak! aku lebih suka dengan pria sepertimu." ucap dwi seraya menatap lekat wajah geri seperti sedang menggodanya.


geri tampak tersipu malu.


"ayah pernah bilang, kalau aku tidak boleh menolak perjodohanku dengan laki-laki itu. karena yang bisa memutuskan mau atau tidak nya ada di tangan lelaki itu. aku harus membuatnya ilfil kepadaku, sehingga dia tidak akan mau menerima perjodohan ini." batinnya.


"apa kamu ingin tambah?" tanya geri.


"em, boleh."


geri pun menyodorkan botol minuman yang ada di tangannya, dan menuangkannya ke sloki yang di pegang oleh dwi.


"sepertinya meminum sedikit saja tidak akan membuatku mabuk." batin dwi, dia pun menenggaknya.


"aku ke toilet dulu ya." ujar geri.


dwi mengangguk kecil. seketika dia menoleh kearah azka yang sedang menikmati minumannya. dia pun menghampirinya. "sedang apa?"


"apa kamu tidak melihatnya?" jawab azka dengan ketus tanpa menoleh kearah dwi.


"aishhh, dasar berandal!" umpat dwi.


"mau apa?" tanya azka, kemudian menoleh.


"aku ingin bertanya sesuatu, tapi tidak disini." ucap dwi.

__ADS_1


"soal apa?"


"perjodohan kita." jawabnya.


"baik! ikut aku."


dwi pun mengekori azka dari belakang.


"masuklah." titah azka, seraya membukakan pintu mobilnya.


"kita mau kemana?" tanyanya.


"masuklah dulu. nanti kamu juga akan tahu."


dwi menuruti permintaannya dan masuk kedalam mobilnya.


...Restoran...


"untuk apa kita kesini?" tanya dwi menatap heran kepada laki-laki yang ada di hadapannya.


"aku lapar. kita bisa membahas perihal perjodohan sembari makan." ucapnya.


mereka memesan makanan yang sama.


"bagaimana dengan perjodohan kita? apa kamu akan menerimanya?" tanya dwi.


"aku tidak ingin menikahi wanita sepertimu!"


"aishhh..." umpat dwi.


"lalu bagaimana denganmu?" azka balik bertanya.


"lalu kenapa kamu tidak menolak perjodohan ini?"


"aku tidak bisa."


"kenapa?" azka menaruh sendok dan garpu yang ada di tangannya. pandangannya pokus mengarah kepada dwi.


"ayah tidak memberikanku kuasa untuk menolaknya. jadi tolong cepat beri tahu ayah kalau kamu menolak perjodohan ini." pinta dwi.


"sungguh?" azka tampak memicingkan senyumannya.


"ya."


"baik. minggu depan aku akan pergi ke kota B dan memberi tahu ayahmu kalau aku menolak perjodohan ini." ujarnya.


"bagus, lebih cepat akan lebih baik." ucap dwi.


seminggu kemudian.


azka menepati janjinya untuk datang ke rumah orangtua dwi bersama dengan kedua orangtuanya.


"apapun keputusan nak azka, kami akan menerimanya. kami sadar kalau anak gadis kami memang banyak kekurangannya." ucap pak mukti.


seketika dwi langsung mengernyitkan dahinya.


azka memicingkan senyumannya mendengar ucapan pak mukti. "aku sudah memutuskan...kalau aku akan menikahi anak om dan tante." ujarnya.


"serius nak? kamu sungguh-sungguh ingin menikahi dwi?" tanya bu patma tak percaya.


"iya tante." azka tersenyum.

__ADS_1


"tunggu! ini pasti ada yang salah." ucap dwi seraya menarik tangan azka lalu mengajaknya untuk berdiskusi ke tempat yang agak jauh dari orangtua mereka.


"apa-apaan ini? kenapa kamu malah menyetujui perjodohan ini? apa kamu sudah gila."


"tidak! aku tidak gila. aku punya alasan sendiri kenapa aku mau menerima perjodohan ini." ucap azka.


"apa? dan kenapa?" tanya dwi.


"nak azka, dwi..." panggil pak mukti. "apa yang sedang kalian bicarakan?" tanyanya.


dwi dan azka menoleh secara bersamaan. "tidak a..." dwi menggantung ucapannya karena azka menyerobotnya.


"dwi menolak perjodohan ini om." ucap azka.


"apa?" bu patma mendekati dwi lalu mencubit pinggangnya.


"aww..." pekiknya.


"apa kamu pikir kamu itu orang yang hebat? berani sekali kamu menolaknya." ucap bu patma.


"baik bu. aku menerima perjodohan ini." ucap dwi dengan sangat terpaksa.


"sebaiknya kita kasih waktu keduanya untuk saling mengenal dulu, sebelum melangsungkan ke jenjang yang lebih serius." ucap bu asmi mulai angkat suara. "melihat ekspresi dari wajah keduanya, sepertinya mereka belum siap dengan pernikahan ini." lanjutnya.


"iya. apa yang dikatakan istri saya benar adanya! bagaimana kalau kita memberinya waktu sebulan agar mereka bisa saling mengenal?" tanya pak ardi.


"itu ide yang bagus." ucap pak mukti.


***


...caffe....


"dasar pembohong!" maki dwi kepada laki-laki yang ada di hadapannya.


"berhenti mengoceh, dan makan makanan mu keburu dingin." ucap azka.


"kenapa kamu malah menyetujui perjodohan ini bodoh!" sentaknya.


"berhenti memakiku dan menyebutku bodoh! karena soal apapun jelas aku lebih unggul dari mu." ucap azka.


"aiisshh sialan!" umpatnya.


"aku ingin membuat kesepakatan dengan mu, bagaimana kalau kita bekerja sama?"


"bekerja sama?" tanya dwi.


"ya."


"coba kamu jelaskan secara rinci. aku masih belum mengerti arah pembicaraanmu itu." pinta dwi.


"aku ingin kita melakukan pernikahan kontrak." ucap azka.


"pernikahan kontrak? lalu keuntungan nya buat aku apa?" tanya dwi.


"tentu saja kamu akan mendapatkan keuntungan yang sangat besar dari pernikahan kontrak kita nanti. karena setiap bulannya aku akan memberimu uang sebesar 20 juta. tapi ada syaratnya..."


"syaratnya apa?" tanya dwi yang mulai penasaran.


"pertama, kamu tidak boleh menyentuhku. dan aku juga tidak akan menyentuhmu. kalau salah satu dari kita melanggarnya, maka akan dikenakan denda sebesar 50 juta kepada pihak yang sudah di rugikan." jelasnya. "dan kedua, kita tidak boleh saling mencampuri urusan pribadi masing-masing. dan ketiga, jika salah satu dari kita ada yang berniat untuk mengakhiri pernikahan sebelum kontrak berakhir, maka harus dikenakan denda sebesar 100 juta. apa kamu sanggup?" tanya azka.


"oke deal." ucap dwi dengan gegabah, tanpa bertanya berapa lama kah kontrak pernikahannya itu akan berakhir.

__ADS_1


__ADS_2