
Penculik yang membawa baby Wika pun berhenti disebuah bangunan kosong yang terletak sangat jauh dari pemukiman warga.
"Mau kemana?" Indra memegangi tangan Sindi ketika dia hendak turun.
"Aku harus menyelamatkan keponakanku." Jawabnya. Sindi melepaskan tangan Indra lalu turun dari mobil.
"Indra, kita tinggalkan saja dia." Titah Erick dengan nada bicaranya yang datar.
"Tapi Pak, apa tidak sebaiknya kita bantuin dia dulu?"
"Tidak perlu! sepertinya dia bisa mengatasi masalahnya sendiri." Ucap Erick.
"Maaf Pak, tapi saya tidak bisa membiarkan Sindi menghadapi para penculik itu sendirian. Apa lagi dia hanya seorang wanita! bagaimana kalau para penculik itu ngapa-ngapain dia."
Erick dan Indra tiba-tiba pokus menatap kedepan. Mereka menohok saat melihat aksi Sindi yang tampak sedang merayu para penculik itu agar mau menyerahkan baby Wika.
"Kalau kalian menginginkan seorang anak, seharusnya kalian tidak menculik bayi orang lain." Ujar Sindi. "Apa kalian tidak bisa membuatnya sendiri?!" Sindi mengedipkan satu matanya dengan genit.
Kedua penculik itu langsung mengeluarkan air liur dan mendekati Sindi.
"Kau urus anak itu! perempuan ini biar menjadi urusanku." Ucap penculik 1 kepada rekannya.
"Tapi bos, aku juga mau."
"Nanti kau juga akan kebagian." Lanjut penculik 1.
Gleek.
Sindi menelan saliva nya. "Tunggu!" Sindi berusaha menyembunyikan ketakutannya. "Sebelum kita mulai, aku ingin kalian memberikan bayi itu dulu." Ujar Sindi.
"Bagaimana ini bos?"
__ADS_1
"Sudah, berikan saja! dia juga tidak akan bisa lari jika menggendong bayi itu."
Pria itu pun memberikan baby Wika kepada Sindi, dengan cepat Sindi menerimanya.
"Mereka benar, aku gak akan bisa lari." Batin Sindi. Dia pun memikirkan cara agar bisa melarikan diri dari kedua algojo itu. Pandangannya terkunci pada mobil Indra yang jaraknya tidak sebegitu jauh. "Itu mobil Pak Indra! jadi mereka masih disini." Lanjutnya dalam hati.
"Ayo manis, kita mulai permainannya." Ucap penculik 1
"Tu-tunggu dulu!" Pekik Sindi gelagapan. "Aku sedang menggendong bayi ini, jadi bagaimana aku bisa memulai percintaan dengan kalian."
"Kalau begitu berikan saja bayi itu pada rekanku, nanti biar dia menunggu giliran." Ujar penculik 1.
"Tidak bisa bos, karena aku juga sudah sangat bernaf-su pada perempuan ini."
"Perempuan yang sangat berani." Erick memicingkan senyumannya.
"Pak, sebaiknya kita turun sekarang. Sebelum preman-preman itu berbuat macam-macam pada Sindi.
"Tapi Pak, Sindi tadi bilang kalau bayi itu keponakannya. Apa mungkin kalau bayi itu anaknya Dwi."
Deg.
Erick pun langsung turun dan membantu Sindi. "Senang-senangnya nanti saja setelah kalian merasakan pukulan ku."
Buugh.
Buugh.
Buugh.
Erick langsung menghajar habis-habisan kedua pria itu sehingga mereka kini terkapar di tanah. Indra menatap heran kepada Erick, kenapa pas dia mengatakan kalau kemungkinan bayi itu anak Dwi, Erick langsung tergugah dan langsung menolong Sindi.
__ADS_1
"Cepat bawa bayi itu masuk ke mobil." Titah Erick.
Tanpa banyak bicara Sindi langsung membawa baby Wika kedalam mobil. Namun setelah didalam mobil Sindi panik, karena baby Wika tidak bergerak. "Sayang, bangun nak." Ucap Sindi kepada bayi yang ada di-pangkuannya. "Wika sayang, ini Tante." Lanjutnya.
"Sebaiknya kita kerumah sakit sekarang." Perintah Erick.
Dengan cepat Indra menancap gas menuju rumah sakit terdekat. Disepanjang perjalanan Sindi tak henti-hentinya menangis, karena takut terjadi sesuatu kepada keponakan kesayangannya. Meskipun belum menikah apalagi mempunyai anak, tapi Sindi sudah menganggap baby Wika seperti anaknya sendiri.
Dwi dan keluarganya menyusul kerumah sakit setelah mendapat kabar dari Sindi. Dan betapa terkejut dan paniknya mereka saat mendengar dari Sindi kalau baby Wika tidak bergerak, mereka pun menyangka kalau keadaan Wika cukup parah.
Azka mengusap-usap punggung Dwi untuk menenangkannya. Namun mata dia sedari tadi tertuju kepada Erick dan Indra yang berdiri tak jauh dari mereka.
"Aku gak akan bisa memanfaatkan diriku sendiri, jika sampai terjadi sesuatu kepada Wika. Hiks... Hiks..." Dwi tak henti-hentinya menangis.
Tak lama kemudian dokter THT yang menangani baby Wika keluar, dan memberitahu kalau Wika baik-baik saja.
"Syukurlah."
"Dok, apa saya bisa melihat anak saya?" Dwi antusias.
"Tentu Bu." Ujar Dokter.
Didalam ruang inap baby Wika, Sindi menceritakan bagaimana bisa dia menyelamatkan Wika. Sindi juga menjelaskan kalau Indra dan Erick turut membantu penyelamatan tersebut, sehingga dia berhasil lolos dari para penculik. Mereka semua mengucapkan terima kasih kepada Erick dan Indra, tak terkecuali Azka. Meskipun dia tidak menyukai Erick, karena menganggap Erick itu mencintai Dwi, namun tidak bisa dipungkiri bahwa baby Wika selamat juga atas pertolongannya.
Azka mengantar Erick dan Indra keparkiran. "Meskipun kau telah menyelamatkan bayi ku! itu bukan berarti kau bisa mendekati Dwi, karena sebentar lagi kita akan menikah." Ucap Azka menegaskan.
"Aku tidak perduli Dwi mau menikah dengan siapa, selama itu bisa membuatnya bahagia." Erick menatap intens wajah Azka. "Karena yang jelas, aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitinya lagi, karena kalau sampai itu terjadi! aku tidak akan tinggal diam." Ucap Erick penuh penekanan.
Diperjalanan pulang. Sesekali Indra menoleh kearah kaca mobilnya yang tampak Erick sedang memainkan ponselnya. Dia pun memberanikan diri untuk bertanya.
"Sepertinya Pak Erick sangat tertarik dengan kehidupan Dwi?!" Suara Indra memecah keheningan.
__ADS_1
"Jalan saja! jangan banyak bicara." Ketus Erick. Sehingga membuat Indra kini bungkam seribu bahasa.