Duda Tampan Haus Belaian

Duda Tampan Haus Belaian
perkenalan Sindi dan Edwin.


__ADS_3

***


Saat Erick memasuki perusahaan, semua staf dan karyawan mengucapkan selamat pagi kepadanya. Pandangan Erick tertuju kepada wanita cantik berkulit putih yang berpakaian sederhana, namun tampak terlihat sangat anggun. Dia pun berbisik kepada sekertaris cantik yang ada disampingnya.


"Hei, kamu karyawan baru kan?"


"Iya mbak." Sahut Dwi.


"Pak Erick meminta kamu untuk masuk kedalam ruangannya."


"Memangnya mau apa Mbak?" Tanya Dwi sedikit heran.


"Turuti saja perintahnya!" Sentak gadis cantik berpakaian seksi itu.


"Baik Mbak." Ucap Dwi. Dengan cepat dia berjalan menuju ruang CEO.


Tok tok tok.


"Masuk..."


"Maaf. Bapak memanggil saya?" Tanya Dwi setelah berada diruangan Erick.


"Ya. Duduklah!"


Dwi pun duduk. Diam-diam dia memperhatikan raut wajah CEO tempat dimana dia bekerja. Karena baru kali ini dia dapat melihatnya dari jarak sedekat itu. "Wajahnya mirip dengan seseorang! tapi siapa ya?" Batin Dwi, saat mengamati raut wajah Erick secara rinci.


"Aku sudah membaca semua data-data pribadi mu. Apa benar kamu seorang janda?" Tanyanya.


Glek. Dwi menelan Saliva nya dengan kasar. "Iya Pak." Jawabnya.


"Apa kamu sudah mempunyai anak?" Tanyanya lagi.


Dwi menggelengkan kepalanya. "Belum pak." Dwi merasa sedikit heran dengan pertanyaan-pertanyaan dari atasannya itu.


"Sudah berapa lama kamu bercerai dengan mantan suami mu?"

__ADS_1


"Sekitar satu bulanan lebih Pak." Jawab Dwi. "Maaf Pak, kenapa bapak menanyakan sesuatu yang sangat pribadi ya?" Dwi memberanikan diri untuk bertanya.


"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin tahu saja!" Sahutnya. Erick mengambil beberapa berkas lalu memberikannya kepada Dwi. "Tolong kamu berikan file ini kepada rekan bisnisku."


"Rekan bisnis bapak?"


"Ya. Nanti aku share lokasinya. Datanglah ke tempatnya setelah pulang kerja."


Dwi tertegun sejenak, lalu kemudian mengiyakan perintah dari atasannya itu. Dwi pun keluar dari ruangan Erick setelah mereka bertukar nomor telepon.


"Kasihan sekali, masih muda sudah menjadi janda! dia bahkan lebih muda dari adikku." Gumam Erick. "Tapi, kenapa Pak Riko meminta dia yang mengantar berkasnya?" Erick pun bertanya-tanya. "Sudahlah, bukan urusanku juga." Lanjutnya.


**


"Aishh sialan!" Umpat Sindi seraya menendang-nendang ban mobilnya yang kempes. "Mana lagi buru-buru! ini nomer montir malah pada gak aktif semua lagi." Sindi terus menggerutu, mengutuk nasibnya yang sial. Namun tiba-tiba sebuah mobil sedan berwarna hitam berhenti tepat didepan mobilnya. Dan tak lama kemudian sang pemilik mobil turun lalu menghampirinya.


"Mobilnya kenapa?"


"Kamu!" Tutur Sindi.


"?"


"Iya, kok mbak tahu?" Tanya Edwin.


"Oya, kenalin namaku Sindi. Aku sepupunya Dwi." Ucap Sindi seraya mengulurkan tangannya, yang di sambut Edwin hingga berjabatan.


"Namaku Edwin." Sahut Edwin tersenyum ramah. "Mobilnya kenapa?" Lanjutnya bertanya.


"Ban nya kempes, aku sudah mencoba menghubungi nomer beberapa montir tapi tidak ada yang aktif." Jawabnya.


"Apa boleh ku bantu?"


"Memangnya kamu bisa?" Tanya Sindi.


"Tentu saja!" Edwin pun mengambil ban cadangan yang ada di bagasi mobil Sindi.

__ADS_1


"Kalau diperhatikan Edwin ganteng juga. Dia juga terlihat telaten dan gesit." Batin Sindi, memperhatikan Edwin yang sedang mengganti ban mobilnya yang kempes.


Beberapa saat kemudian Edwin selesai menggantinya.


"Yah, baju kamu jadi kotor deh." Ucap Sindi, setelah melihat kemeja putih yang dikenakan Edwin sedikit kotor.


"Gak apa-apa, aku akan pulang untuk menggantinya." Ujar Edwin.


"Bukannya tadi kamu bilang akan pergi bekerja?! kalau kamu pulang lagi, nanti yang ada kamu akan telat." Ucap Sindi. "Gini saja, mending kamu ikut aku, aku akan membelikan kamu kemeja baru." Lanjutnya.


"Gak perlu, lagi pula baru jam segini. Aku masih punya waktu untuk mengganti pakaianku." Tolak Edwin secara halus.


"Tidak apa-apa. Anggap saja ini sebagai ucapan terima kasih aku, karena kamu sudah nolongin aku." Ucap Sindi.


"Tidak usah! aku ikhlas kok nolongin kamu. Lagi pula, bukannya kamu tadi bilang lagi buru-buru? mending kamu langsung cabut aja." Ujar Edwin.


Sindi menoleh jam tangan berwarna gold yang ada ditangannya. "Iya juga sikh. Ekh tapi aku beneran gak enak nih... Masa aku langsung cabut gitu aja."


"Sudah aku bilang gak apa-apa. Kamu pergi aja." Ucap Edwin yang lagi-lagi melemparkan senyumannya, sehingga membuat Sindi mabuk kepayang.


"Gila nih si Edwin! senyumannya manis banget..." Tanpa sadar Sindi senyum-senyum sendiri.


Edwin mengernyitkan dahinya melihat kelakuan gadis cantik dan seksi yang ada dihadapannya. "Kamu baik-baik saja kan?"


Suara Edwin membuyarkan lamunannya. "I-iya. Aku baik-baik saja kok! Oya, aku boleh minta nomer ponsel kamu tidak?" Tanya Sindi.


"Nomer handphone aku cuma satu, kalau kamu minta, terus aku pakai apa?" Celotehnya.


Glek. "Hehe..." Sindi cengengesan mendengar ucapan Edwin. "Maksud aku, kita bisa kan tukeran nomer biar bisa saling kontek?"


Edwin tersenyum. "Aku bercanda kok! aku paham maksud kamu." Ucap Edwin. "Mana handphone kamu?" Tanyanya menengadahkan tangan. Sindi pun memberikan ponselnya.


Edwin mencatat nomernya di ponsel Sindi lalu memiscall nya. "Nah, kita sudah saling bertukar nomor! kalau gitu aku duluan ya." Ucap Edwin.


"Thanks. Hati-hati ya Edwin."

__ADS_1


"Ya. Kamu juga!" Ucap Edwin lalu pergi.


"Edwin, Edwin... Kenapa aku gak kenal kamu dari dulu sikh!" Gumam Sindi senyum-senyum sendiri.


__ADS_2