
Didalam mobil Azka dan Dwi tampak berdiam-diaman. Dwi yang tahu kalau saat ini Azka sedang jealous kepadanya pun mencoba untuk mencairkan suasana.
"Ekhm-ekhm..." Dwi berdehem untuk mencuri perhatian Azka. "Uhuk-uhuk." Berpura-pura batuk. Tak mendapatkan respon apapun, akhirnya Dwi mencoba untuk berbicara. "Kenapa diam saja?"
"Menurutmu aku harus apa? apa aku harus lari-lari? kamu tahu kan, kalau aku sedang mengemudi." Sahut Azka dengan datar.
Dwi tersenyum masam mendengar ucapan Azka. "Aku sudah mau memberimu kesempatan kedua, dan aku harap kedepannya tidak akan ada lagi kesalah pahaman diantara kita."
Azka menghentikan laju mobilnya. "Kamu benar-benar baru tahu, kalau Erick sudah kembali?" Dia mengeluarkan unek-unek yang ada dihatinya.
"Iya." Jawab Dwi. "Seperti apa yang tadi kamu lihat, kalau aku memang baru tahu jika Pak Erick sudah kembali." Dwi berkata apa adanya.
"Lalu bagaimana dengan perasaanmu sekarang? apa kamu tidak akan berubah pikiran untuk menikah denganku?" Azka mencari sebuah kejujuran dari mata Dwi.
"Maksud kamu? kenapa kamu bertanya seperti itu?" Dwi mengangkat kedua alisnya.
"Aku hanya ingin memastikan jika perasaan kamu sedikitpun tidak berubah, walaupun Erick telah kembali."
"Kamu masih gak percaya kalau aku dan Pak Erick tidak memiliki hubungan apapun?" Desah Dwi. "Aku gak habis pikir, apa sih yang ada didalam hati kamu! apa kamu memang masih meragukan aku?"
"Aku tidak meragukan kamu! aku hanya ingin memastikan kalau kamu mau menerima aku lagi bukan hanya karena baby Wika saja, tapi juga karena kamu memang masih mencintaiku."
"Meskipun telah terbukti jika bukan kamu yang menghamili Viona, tapi itu bukan berarti jika kamu tidak menyentuhnya! iya kan?" Cetus Dwi penuh penekanan.
__ADS_1
"Kamu gak percaya sama aku?" Azka sedikit meninggikan nada bicaranya.
"Ya kamu pikir saja! kucing mana yang akan menolak jika diberi ikan." Ujar Dwi. "Sama halnya dengan kamu, tidak mungkin kamu tidak tergoda disaat Viona bertelanjang dihadapan muka mu." Sinisnya.
"Aku tidak menyangka kamu akan berpikiran seperti itu tentang ku!" Azka membasuh mukanya secara kasar.
"Sama halnya seperti mu. Kamu marah kan, ketika aku menuduh mu yang tidak-tidak?! dan itu juga yang tadi aku rasakan ketika kamu menuduh ku memiliki hubungan khusus dengan Pak Erick."
Azka merenung mendengar ucapan Dwi, dia pun kemudian meminta maaf kepadanya.
_
"Sialan! dasar brengsek..." Umpat Sindi yang baru saja datang.
"Sin, kamu baik-baik saja kan?" Dwi pun mengajaknya untuk duduk dikursi depan.
"Aku kesal sama si Erick! mentang-mentang dia atasan, dia seenaknya memperlakukan aku dikantor." Decak Sindi seraya terus merutuki-nya.
"Oya Sin, memangnya sejak kapan bos mu itu kembali ke Indonesia?" Sela Azka mencari tahu.
"Aku tidak tahu, dan tidak ingin tahu juga!" Jawabnya. "Tapi yang jelas laki-laki yang memiliki kelainan sek*sual itu baru datang kekantor tadi pagi." Lanjutnya.
"Apa kalian yakin jika Erick itu benar-benar seorang pria penyuka sesama jenis?" Tanya Azka. "Kalau dilihat dari sudut pandang ku sepertinya dia laki-laki yang normal." Lanjutnya seraya menoleh kepada Dwi dan Sindi bergantian.
__ADS_1
"Kalian pasti akan sangat terkejut jika aku memberi tahu soal Erick, tadi pas lagi dikantor." Seru Sindi.
"Paling juga kalian bertengkar lagi." Desis Dwi seraya membelalakkan matanya.
"Gak usah nyela. Diam dulu!" Sentak Sindi. "Asal kamu tahu, aku tadi tidak sengaja melihat Indra dan Erick berciuman."
"Apa?!" Dwi terkejut.
"Indra itu laki-laki kan?" Tanya Azka meyakinkan, sehingga membuat Dwi dan Sindi menghela nafas lalu membuangnya secara kasar.
"Ya ampun nih anak!" Umpat Sindi. "Yang namanya Indra sudah pasti laki-laki! masa perempuan." Desisnya.
"Aku tetap gak percaya jika Erick itu benar-benar laki-laki h*mosek*sual!" Tegas Azka.
"Itu urusan kamu, mau percaya atau tidak!" Sinis Sindi. "Karena tadi aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, jika mereka memang sedang berciuman! keduanya bahkan terlihat begitu mesra." Sindi membesar-besarkan walaupun sebenarnya dia tidak tahu apa yang terjadi saat itu.
"Kalau mendengar dari cerita kamu, aku semakin yakin jika Pak Erick memang benar-benar h*mo." Ujar Dwi. "Soalnya waktu itu kamu juga pernah bilang kan, kalau Pak Erick sama sekali gak bergeming ketika kamu menggodanya." Lanjutnya.
Azka mengangkat kedua alisnya mendengar pembicaraan antara dua sahabat sekaligus sepupu itu.
Sindi mencubit tangan Dwi, sehingga membuat Dwi berteriak. "Aww... Sakit be*go." Sentak Dwi, sehingga membuat Azka terkejut. Pasalnya setelah hamil, Dwi sudah jarang sekali mengeluarkan kata-kata kasarnya.
"Jangan bicara seperti itu didepan Azka." Bisik Sindi ditelinga Dwi. "Aku kan malu." Lanjutnya.
__ADS_1
Azka menoleh jam tangan yang ada ditangannya. Setelah melihat arah jarum jam tersebut, Azka masuk kedalam rumah Nek Eva, untuk berpamitan kepada semua penghuni rumah itu.