Duda Tampan Haus Belaian

Duda Tampan Haus Belaian
DTHB 76


__ADS_3

Sindi sedang makan siang di restoran Azka bersama dengan Edwin. Entah apa sekarang status keduanya, karena yang jelas Sindi dan Edwin, masing-masing memiliki rasa peduli dan nyaman terhadap satu sama lain. Edwin pun tak segan menunjukkan perhatiannya kepada Sindi didepan orang lain.


Edwin celingukan mencari keberadaan Azka, namun tidak dapat menemukannya. Tentu saja! karena sekarang Azka sedang pergi bersama Viona.


"Cari siapa?" Tanya Sindi saat menyadari gerak-geriknya.


"Dari tadi aku tidak melihat Mas Azka." Sahutnya.


Sindi tersenyum. "Ada wanita cantik didepan mata mu, kok kamu malah cari Azka sikh..." Goda Sindi, sehingga membuat Edwin pun tersenyum.


Saat asyik-asyiknya ngobrol dengan sang pujaan. Tiba-tiba Pak Farhan menghampiri keduanya, dan meminta Sindi untuk ikut dengannya. Sehingga mau tidak mau Sindi mengindahkan perintah dari sang atasan.


"Padahal ini masih jam makan siang, kenapa Bapak meminta ku untuk segera kembali kekantor?" Tanyanya.


"Aku tidak suka melihat mu dekat dengan siapapun!" Ucap Pak Farhan kepada Sindi.


"Maksud Bapak apa ya? kenapa Bapak bicara seperti itu?" Tanya Sindi mengernyitkan keningnya.

__ADS_1


"Aku sudah menaikkan posisi mu dari OG menjadi sekretaris." Ujarnya.


"Lalu?" Tanya Sindi lagi.


"Dari pertama kali kamu menginjakkan kaki diperusahaan ini, aku sudah tertarik dengan mu, dan aku ingin memiliki mu!" Ucap Pak Farhan seraya menatap wajah cantik Sindi penuh kekaguman.


"Jangan asal bicara Pak! aku tahu kalau Pak Farhan itu sudah berkeluarga." Desah Sindi, tak mengerti apa yang ada dipikiran laki-laki yang sudah berkepala empat itu.


"Kalau kamu mau, aku bisa menjadikan kamu istri simpanan ku! dan aku akan membiayai semua kebutuhan mu." Ucapnya. Namun tampaknya sedikitpun Sindi tidak tertarik dengan tawarannya.


"Maaf Pak, tapi aku sudah memiliki laki-laki tambatan hati." Ujar Sindi.


"Jangan sembarangan! aku tahu, Pak Farhan hanya ingin merusak citranya saja didepan ku." Ucap Sindi bernada tinggi. "Aku tahu kalau Edwin itu laki-laki yang baik! dia tidak mungkin melakukan itu." Lanjutnya.


"Aku hanya mengatakan sesuatu yang benar-benar pernah ku lihat, sebelumnya." Jelas Pak Farhan. "Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa menanyakan secara langsung kepadanya! itu juga kalau dia nya mau menjawab jujur." Lanjutnya.


"Apa iya, kalau Edwin pernah memesan kamar hotel bersama seorang wanita?" Batin Sindi. "Dan melihat dari ekspresi wajah Pak Farhan sepertinya dia berkata jujur. Kalau memang itu benar! siapa wanita itu? dan apa hubungannya dengan Edwin?" Batinnya terus bertanya-tanya.

__ADS_1


"Sebulan yang lalu kamu datang keruangan ku, dan meminta posisi yang bagus diperusahaan ini. Saat itu, kamu bahkan merayuku, apa kamu lupa? aku pikir kamu juga tertarik padaku." Ujar Pak Farhan.


"Tertarik sama Pak Farhan? yang benar saja!" Batin Sindi, yang terlihat ilfil saat melihat wajahnya. "Gantengan juga Edwin kemana-mana." Lanjutnya dalam hati.


"Kenapa diam saja? jangan bilang kalau kamu berubah pikiran semenjak kamu mengenal pemuda itu?" Tanyanya.


"Jangan salahkan Edwin, karena dia tidak tahu apa-apa!" Tegasnya. "Dan asal Pak Farhan tahu, aku telah lebih dulu mengenalnya dari pada Bapak." Lanjutnya.


"Tinggalkan dia, dan menikahlah dengan ku!" Ucap Pak Farhan dengan nada tinggi.


Sindi tertunduk mendengar ucapan Pak Farhan. Bagaimana bisa Sindi meninggalkannya, sementara dia sendiri belum memilikinya. Karena hubungan Sindi dan Edwin tak lebih hanya sekedar teman tapi ngarep.


"Sindi aku berjanji, jika kamu mau menjadi istri kedua ku, aku akan menjadikan mu prioritas utama dihidup ku." Rayunya.


"Maaf Pak, sebelumnya aku minta maaf karena kelakuan ku beberapa bulan lalu. Aku juga tidak menyangka kalau Bapak akan terbawa perasaan." Ucap Sindi.


"Tanpa kamu merayu ku saat itu! aku memang telah lebih dulu tergoda oleh kecantikan mu." Ucap Pak Farhan seraya mengangkat tangan ingin membelai rambut Sindi, namun dengan cepat Sindi menepisnya.

__ADS_1


"Maaf Pak. Sepertinya sudah tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi! dan aku permisi." Pungkas Sindi, keluar dari ruangan atasannya.


__ADS_2