
Dikursi pelaminan, banyak orang yang memperhatikan bentuk tubuh Viona yang sedikit buncit. Sehingga kini dia menjadi perbincangan para tamu yang hadir disana.
Pak Mukti menghampiri Pak Ardi untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan pernikahan Azka. Pak Ardi pun menceritakan semuanya.
"Maaf karena saya belum sempat memberitahu kalian, karena Azka juga mendadak baru tadi pagi memberi tahu kami." Ucap Pak Ardi seraya menoleh kepada istrinya.
"Jadi perempuan itu sudah memfitnah Azka! ini tidak bisa dibiarkan." Dengan tergesa-gesa Bu Patma menghampiri Viona lalu menamparnya.
Plaaaakkk...
Sebuah tamparan keras mendarat tepat dipipi mulus Viona. Pak Bagas yang tak terima langsung mendorong Bu Patma agar menjauhi Viona.
"Apa-apaan ini! apa yang anda lakukan kepada putri saya?" Sentak Pak Bagas.
""Tanyakan pada anak kesayangan Bapak ini, kenapa saya berani menamparnya." Decak Bu Patma menatap sinis kepada Viona.
"Tante, tolong jangan buat keributan disini." Pinta Edwin secara baik-baik.
"Diam Edwin. Ini urusan Tante dengan wanita pelakor ini!" Decak Bu Patma seraya menunjuk wajah Viona. "Pertama-tama, kamu sudah berani menghancurkan rumah tangga anak saya! yang kedua, kamu sudah berani menggoda Azka! dan ketiga, kamu sudah berani memfitnah Azka dan memaksanya untuk menikahi kamu, padahal anak yang ada didalam kandunganmu itu bukan anak Azka! dasar perempuan tidak tahu malu. Gara-gara kamu anak saya jadi menderita." Decaknya.
"Ternyata anaknya Pak Bagas seorang pelakor, dan parahnya lagi dia hamil diluar nikah!"
"Iya. Saya tidak menyangka, padahal Pak Bagas itu orang yang terpandang! kok bisa-bisanya putrinya melakukan hal yang memalukan seperti itu." Desas-desus para tamu undangan yang nyinyir.
Pak Bagas menatap kesekeliling, tak sedikit dari sebagian orang yang sedang menggunjingi putrinya. Karena Bu Patma cukup keras mengatai Viona wanita pelakor yang merusak rumah tangga anaknya.
"Satpam... Tolong usir wanita ini." Teriak Pak Bagas, meminta penjaga keamanan untuk segera mengusir Bu Patma.
"Jangan sentuh saya!" Teriak Bu Patma, ketika tangan Pak satpam ingin mengusirnya. "Saya bisa pergi sendiri." Lanjutnya. Kepergian Bu Patma diikuti oleh Suaminya dan juga orangtua Azka.
__ADS_1
Keadaan pesta kini terasa berbeda saat Bu Patma menghampiri Viona dan mempermalukannya dihadapan banyaknya tamu undangan. Bahkan tadi Bu Patma sudah menampar pipi Viona. Sebagian dari ibu-ibu pun tiba-tiba pergi meninggalkan acara tersebut, padahal acaranya baru saja dimulai. Acara yang digelar besar-besaran kini seakan hancur berantakan, akibat ulah Bu Patma.
Disepanjang perjalanan. Bu Patma terus menggerutu merutuki Viona dan keluarganya.
"Sudahlah Bu. Seharusnya Ibu senang, kebusukan Viona sudah terbongkar! dengan begitu Azka tidak perlu menikahinya." Ucap Pak Mukti.
"Tetep saja. Ibu tu masih gedek sama tu perempuan! bisa-bisanya dia mengarang cerita seolah-olah Azka yang telah menodai nya sehingga dia hamil. Apa dia tidak pernah memikirkan bagaimana perasaan Dwi? " Geram Bu Patma.
Sementara Pak Ardi yang sedang pokus mengemudi, sesekali menoleh kepada istrinya yang ada dijok samping. Bukannya tidak marah, sebagai orangtua dari Azka tentu saja Pak Mukti dan Bu Asmi marah kepada Viona. Namun mengingat akan kebaikan yang pernah dilakukan Pak Bagas terhadap Azka, saat Azka masih bekerja dihotelnya. Membuatnya harus meredam amarahnya karena masih sangat menghargai Pak Bagas.
"Azka sudah terbukti jika dia tidak bersalah! apa Pak Mukti dan Bu Patma akan menerima Azka kembali menjadi menantu kalian?" Tanya Pak Ardi mulai angkat suara.
"Kalau soal itu, biarkan dari masing-masing anak kita yang memutuskan! karena jujur saja, semenjak pernikahan Dwi yang pertama gagal, saya sudah memutuskan untuk tidak ikut campur lagi soal siapa yang pantas menjadi suaminya. Karena biarkan Dwi sendiri yang memutuskan." Sahut Pak Mukti.
"Ya. Pak Mukti benar! kita hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk putra-putri kita." Ujar Pak Ardi.
Sesampainya dirumah. Pak Mukti menohok saat melihat Azka yang sedang duduk seraya menggendong putri kecilnya.
Azka mendongak, menatap satu persatu dari mereka. "Iya Ma." Jawabnya kemudian.
"Pantas Papa gak melihat kamu dipesta pernikahan Edwin." Ungkap Pak Ardi kepada putranya. Namun Azka hanya diam, sebenarnya dia masih marah kepada Edwin karena telah menutupi semuanya. Meskipun akhirnya Edwin mau mengakuinya.
"Dwi mana?" Tanya Bu Patma.
"Dwi lagi didalam, dia lagi mandi." Sahut Azka.
"Kamu pasti pegal, sini nak... Mama juga ingin menggendong cucu Mama yang paling cantik." Ujar Bu Asmi. Azka pun memberikannya.
"Kalau gitu mari masuk... Akan saya buatkan minuman dingin." Ujar Nek Eva kepada semuanya.
__ADS_1
"Gak usah Bu, biar aku saja." Ucap Bu Patma lalu bergegas pergi ke dapur.
"Azka, coba lihat... Mata dan hidung baby Wika mirip sekali denganmu." Celoteh Bu Asmi.
"Iya Ma." Sahut Azka tersenyum.
Setelah Dwi selesai mandi, Azka mengajaknya ke taman untuk bicara hal yang serius. Dwi duduk dikursi taman dan diikuti oleh Azka yang duduk disampingnya.
"Ngapain ngajak aku kesini?" Tanya Dwi.
"Aku sadar, selama kita menikah aku belum bisa bahagiakan kamu. Bahkan aku tidak memiliki waktu yang cukup untukmu karena kesibukan ku selama bekerja dihotel. Tapi sekarang aku sudah risign, dan aku akan memiliki banyak waktu untuk kamu dan baby Wika, jika kamu mau kembali sama aku untuk memulai semuanya dari awal." Ungkap Azka dari lubuk hati yang terdalam.
"Semuanya terlalu cepat untuk aku memutuskan, apakah aku mau atau tidak." Sahut Dwi.
"Apa kamu masih meragukan aku? katakan apa yang salah dariku sehingga membuatmu begitu sulit untuk menerima ku lagi?" Tanya Azka.
"Bukan sulit!" Ucap Dwi. "Tapi aku hanya belum siap untuk membina rumah tangga dengan kamu lagi." Lanjutnya.
"Kenapa? apa diam-diam kamu sudah mempunyai laki-laki lain untuk menggantikan aku?" Tanya Azka. "Apa laki-laki yang bernama Erick itu, sehingga membuatmu begitu sulit untuk mengambil keputusan? apa kamu mencintainya?" Lanjut Azka memborong pertanyaan.
"Ini gak ada hubungannya dengan Pak Erick! aku tidak ada hubungan apa-apa sama dia, kenapa kamu malah menyangkut pautkan permasalahan kita dengannya?" Cercah Dwi. "Asal kamu tahu, Pak Erick itu terkenal sebagai sosok laki-laki yang tidak menyukai wanita." Jelas Dwi.
"Tidak menyukai wanita? maksud kamu dia h*mo?" Tanya Azka yang terkejut mendengar ucapan dari Dwi.
"Aku juga tidak tahu! yang jelas, dikantor itu banyak sekali perempuan yang tergila-gila pada Pak Erick. Namun Pak Erick sama sekali seperti tidak tertarik sama salah satu pun dari mereka. Padahal mereka semua cantik." Jelas Dwi.
"Lalu kamu sendiri, apa kamu juga menyukai laki-laki bernama Erick itu?" Tanya Azka menelisik.
"Harus berapa kali aku katakan?! kalau aku tidak pernah mencintainya meskipun dia itu sangat baik." Sahut Dwi.
__ADS_1
"Kamu puji laki-laki lain dihadapan ku?" Tanya Azka dengan sorot mata yang tajam. "Ini yang membuat aku merasa tidak nyaman dengan status kita saat ini. Karena untuk cemburu pun aku tak berhak!" Ungkap Azka.