
"ayah dengar kalau kamu sedang demam. kenapa kamu tidak mau periksa ke dokter?" tanya pak mukti berusaha mencairkan suasana.
"hanya masuk angin. nanti juga sembuh dengan sendirinya." lagi-lagi azka mengatakan hal yang sama seperti apa yang sudah dia katakan kepada dwi.
kring-kring tiba-tiba handphone azka bunyi, azka pun meminta ijin keluar untuk mengangkatnya.
"*ada apa?" tanya azka, kepada seseorang dari panggilan teleponnya.
"apa benar kamu sedang sakit?" tanyanya.
"ya, aku hanya demam. tapi sekarang sudah jauh lebih baik." jawab azka.
"aku sangat mencemaskan keadaanmu. apa aku boleh menemuimu?" tanyanya.
"tidak perlu! aku tidak apa-apa. lagi pula sekarang aku sedang berada di rumah mertuaku." ucap azka.
"sayang sekali." ucapnya.
"sudah dulu ya." azka hendak menutup sambungannya, namun viona melarangnya.
"tunggu! jangan tutup dulu telponnya, aku masih ingin bicara sama kamu." ucap viona.
"kamu ingin bicara apa?" tanya azka.
"seharian ini aku tidak melihatmu di kantor."
"lalu?" tanya azka.
"entah kenapa, aku begitu sangat merindukanmu. aku ingin sekali menemuimu."
"jangan bicara seperti itu. atau dwi akan datang untuk memarahimu." ujar azka.
"aku tidak takut! aku tidak peduli walaupun dia itu istrimu, karena aku mencintaimu*."
tut. tiba-tiba azka menutup panggilan teleponnya. "godaan apa lagi ini." gumam azka mendengus kesal, saat mendengar viona yang terang-terangan mengutarakan isi hatinya.
"telepon dari siapa?" tanya dwi yang tiba-tiba nongol dari belakangnya.
"em, ini. i-ini telpon dari edwin." jawab azka tengah berbohong. dia tidak ingin dwi marah lagi padanya. pasalnya mereka baru saja berbaikan.
"kenapa bicaramu gelagapan? kamu tidak sedang membohongiku kan?" tanya dwi menatap tajam kearahnya.
"tidak!" jawab azka dengan lantang.
__ADS_1
"hahaha..." dwi pun tertawa. "kenapa ekspresimu seperti itu? santai saja, aku hanya bercanda. lagi pula bukankah kamu sudah berjanji akan menjaga kepercayaanku." ucap dwi lalu tersenyum.
azka tersenyum getir mendengar ucapan dwi. di satu sisi dia juga merasa bersalah karena telah membohonginya.
*
"ini sudah malam, sebaiknya kalian menginap disini saja." ucap pak mukti.
"maaf ayah, kita ingin pulang saja." ucap dwi.
"nak azka itu lagi sakit, lihat wajahnya juga sedikit pucat. apa kamu tidak kasihan padanya?" lanjut pak mukti.
dwi menoleh kearahnya. yang dikatakan pak mukti memang benar adanya, kalau wajah azka memang terlihat sedikit pucat.
azka tersenyum. "tidak apa-apa ayah. aku baik-baik saja."
diperjalanan. azka terlihat beberapa kali menoleh kearah dwi yang sedang menatap keluar jendela.
"tumben kamu tidak ingin menginap di rumah ayah dan ibu?" azka memecah keheningan di dalam mobil.
"entah kenapa rumah itu sekarang terasa asing bagiku, dan aku lebih senang berada di apartemen bersamamu." ucap dwi yang seketika membuat azka tersenyum kecil bahkan tak terlihat olehnya.
sesampainya di lobby. azka meraih tangan dwi lalu menggandengnya menuju apartemen mereka. keduanya tampak tersenyum memancarkan aura kebahagiaan. namun seketika senyum dwi memudar saat mendapati keberadaan viona yang sedang berdiri di pintu.
"azka, apa kamu tidak apa-apa?" tanyanya, seraya memegangi kening azka. viona tampak mengabaikan pertanyaan dwi.
dwi langsung menengahi dan berdiri di tengah-tengah antara keduanya. "suamiku baik-baik saja! kamu tidak perlu mengkhawatirkannya, karena aku sendiri yang akan merawatnya. iya kan sayang?" ucap dwi lalu menoleh kearah azka yang sekarang berdiri tepat di belakangnya.
azka mengangguk dan tersenyum kecil kepada dwi. dia pun menoleh kepada viona. "ini sudah malam, sebaiknya kamu cepat pulang." ujar azka.
"apa kamu mengusirku?" tanyanya.
"aku tidak bermaksud untuk mengusirku, hanya saja-..." ucapannya menggantung.
"good." ucap viona lalu menerobos masuk kedalam apartemen lalu duduk di sofa. dwi tercengang melihat tingkah lakunya.
"ngakunya orang berkelas. tapi kok tidak beretika ketika bertamu ke rumah orang." sindir dwi.
"ada suara, tapi mana orangnya ya?" celoteh viona.
"viona sebaiknya kamu pulang. ini sudah larut malam, tidak enak sama penghuni apartemen yang lainnya jika malam-malam begini aku masih menerima tamu." ujar azka.
"azka, otakmu tidak sekecil istri bodohmu itu. aku yakin, kamu juga tahu kalau tidak akan ada penghuni lain yang akan tahu kedatanganku.
__ADS_1
"apa kamu bilang?" dwi tak terima dengan perkataan yang keluar dari mulut viona. dia tampak mengepalkan tangannya.
viona memicingkan senyumannya.
"ini sudah malam. cepat pergi sana! jika tidak, aku akan meneriakimu sebagai maling." gertak dwi.
"lakukan saja. aku tidak takut, karena aku yakin kalau azka tidak akan sampai hati melakukan itu kepadaku." sahut viona.
tiba-tiba dwi mendorong tubuh azka agar duduk di sofa. dwi pun duduk di pangkuannya. "sayang, kamu dengarkan apa yang tadi ibu katakan tadi? kalau ibu ingin segera memiliki cucu dari kita. oleh karena itu kita harus lebih bersemangat lagi untuk membuatnya." ucap dwi dengan suara yang sangat menggoda seraya mengusap lembut bibir suaminya.
glek. azka menelan ludahnya dengan kasar. dia tercengang melihat tingkah dwi yang menurutnya begitu berani, apa lagi di hadapan viona. viona pun tercengang, dia tidak habis pikir, kenapa dwi melakukan itu di hadapannya. namun saat dwi hendak mencium bibir azka, viona berteriak sehingga menghentikan aksinya.
"cukup! dasar perempuan murahan. bisa-bisanya kamu melakukan hal itu di hadapanku." sentaknya.
dwi bangkit dari pangkuan azka lalu mendekati viona. "sekali lagi coba katakan." bentak dwi.
"kamu wanita murahan!" bentak viona.
plaakkk. satu tamparan mendarat keras di pipi kiri viona.
"sialan!" viona meraih rambut dwi lalu menjambaknya. "beraninya kamu menamparku." decak viona.
"cukup!" sentak azka mencoba memisahkan perkelahian mereka. "viona, bisakah kamu untuk pergi dari sini?" ucapnya menoleh kepada viona.
"tapi ka..."
"please..."
mau tidak mau terpaksa viona pun menuruti permintaannya.
"sebaiknya kamu keluar dari hotel pak bagas, dan mencari pekerjaan lain." ucap dwi.
"kamu terlalu berlebihan. urusanmu dengan viona, kenapa berimbas pada pekerjaanku." tuturnya.
"karena kamu bekerja di hotel milik papanya viona. sebab itu viona merasa memiliki hak atas dirimu." ucap dwi.
"yang menggajiku pak bagas. ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan viona."
"tetap saja. aku ingin kamu keluar dari pekerjaanmu dan mencari pekerjaan lain saja." pinta dwi.
"maaf untuk permintaanmu kali ini aku harus memikirkannya beribu-ribu kali. karena tidak mudah bagi seseorang untuk mendapatkan jabatan itu (general manager hotel). aku sudah sangat bersusah payah untuk mendapatkannya, dan tidak akan mudah bagiku untuk melepaskannya begitu saja."ujar azka.
"baiklah aku mengerti." ucap dwi dengan raut wajah yang tampak sedikit kecewa. namun dia sadar, kalau dia tidak bisa memaksakan kehendaknya.
__ADS_1