
Diruang VVIP.
Dwi, Azka dan Sindi masih terjaga menjaga baby Wika. Sementara Nek Eva dan Pak Mukti sudah pamit pulang bersama Pak Ardi dan Istrinya. Kalau Bu Patma, Ica dan Dio tampak sudah tertidur lelap disofa rumah sakit.
"Sin, kamu tidur gih. Besok kan kamu harus kerja!" Dwi meminta Sindi beristirahat, karena wajahnya terlihat sangat kelelahan setelah seharian bekerja.
"Gak apa-apa Wi, lagi pula aku belum mengantuk." Sindi duduk disamping Dwi yang sedang duduk di-hospital bed. "Oya Wi, menurut kamu mungkin gak jika Riko terlibat dalam kasus penculikan ini?" Tanya Sindi dengan hati-hati.
Dwi dan Azka saling melemparkan pandangan. Dwi pun kemudian tertunduk seraya menelan saliva nya. "Mungkin saja." Mengangkat kembali kepalanya, menatap Sindi.
"Aku juga tadi sempat menemuinya, dan menuduhnya." Sindi berdiri dari duduknya.
"Lalu, apa dia mengakuinya?" Dwi menatap intens sepupunya.
Sindi mengangkat kedua bahu keatas seraya mengerucutkan bibirnya.
"Percuma juga kamu datang kesana dan memintanya untuk mengaku! karena sudah pasti dia akan mengelaknya." Tutur Azka yang mulai angkat bicara.
__ADS_1
"Ya. Kamu benar!" Sindi tiba-tiba murung. "Bukannya sebuah pengakuan yang aku dapat! malah perlakuan buruk darinya yang aku dapatkan." Lanjutnya, namun dalam hati.
"Tapi Sin, Riko gak menyakiti kamu kan?" Dwi mulai mencari tahu, pasalnya raut wajah Sindi tiba-tiba berubah. Dwi tahu betul, Riko itu orang yang seperti apa! dia itu sangat licik dan menghalalkan segala cara agar semua keinginannya terpenuhi.
"Kamu tenang saja Wi. Riko tidak akan bisa menyakiti ku!" Sindi pura-pura tersenyum untuk menutupi kekecewaannya terhadap ucapan Riko yang membuat hatinya terluka.
Waktu telah menunjukkan pukul 00:57. Merasa sudah mengantuk, Sindi ijin untuk beristirahat disofa, tepatnya disamping Bu Patma dengan adik-adik Dwi.
"Setelah kita menikah, aku mau kita tinggal bersama Mama supaya lebih aman." Azka mengutarakan keinginannya kepada Dwi. Namun tampaknya Dwi belum kepikiran tentang dimana nantinya mereka akan tinggal. "Itu juga, kalau kamu tidak keberatan." Lanjutnya.
"Maaf Ka, soal itu! kita bahas lagi nanti ya." Ujarnya. "Ini sudah tengah malam, sebaiknya kamu beristirahat." Ucap Dwi penuh perhatian.
"Sabar!" Dwi meletakkan telunjuk tangan dibibir Azka. "Dua hari lagi kita akan syah menjadi sepasang suami istri seperti dulu."
Azka tersenyum seraya menggaruk-garuk tengkuknya, karena malu dengan ucapan Dwi. Dua hari mengapa terasa begitu lama baginya.
Dwi mendekati baby Wika menyentuh suhu tubuhnya yang sudah mulai normal. Pasalnya tadi dia kedinginan sehingga membuat suhu tubuhnya teramat dingin, karena kedua penculik itu membawa baby Wika naik motor dimalam hari, apalagi dengan cuaca yang teramat dingin. Untungnya baby Wika tidak kenapa-napa, tadi Wika hanya pingsan makanya tidak sadarkan diri saat Sindi membawanya kerumah sakit.
__ADS_1
**
"Sialan! brengsek si Sindi." Umpat Riko tak henti-hentinya. "Berani sekali dia menggigit aset ku yang paling berharga! rupanya dia ingin bermain-main dengan ku." Geram Riko terus merutuki perbuatan Sindi.
"Lapor bos! kami gagal menjalankan misi, karena tadi ada wanita dan dua orang pria mengambil bayi itu bos."
"Dasar T-O-L-O-L!" Maki Riko. "Kalian benar-benar tidak berguna. Masa mengurus satu bayi saja tidak becus." Geramnya.
"Sesuai dengan apa yang sudah kami katakan tadi bos. Kalau ada perempuan dan dua laki-laki yang mengambil bayi itu, padahal kami sudah berhasil membawa bayi itu ke-markas."
"Apa wanita yang kalian maksud itu orang ini?!" Riko menunjukkan Poto Sindi kepada anak buahnya.
"Betul bos." Ujar salah satu dari mereka.
"Tugas kalian sekarang bawa perempuan itu kehadapan ku, karena aku ingin memberinya pelajaran, yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidup."
"Baik bos."
__ADS_1
Riko menatap kepergian anak buahnya. "Sindi, Sindi! apa kau pikir kau akan bisa lolos dariku." Gumamnya dengan tatapan mematikan.