
***
Hari ini Viona datang menemui Azka dan mengajaknya untuk fitting baju pengantin. Namun Azka menolak dengan alasan banyak kerjaan, dan malah menyuruh Viona untuk pergi sendiri. Akhirnya Viona pun datang ke hotel Papanya dan meminta Edwin untuk mengantarkannya.
"Yang mau nikah itu Bu Viona dan Mas Azka, kenapa Bu Viona malah mengajak aku untuk menemani Ibu fitting baju?" Ujar Edwin.
"Azka bilang dia sedang sibuk, jadi dia tidak bisa mengantarku." Jawab Viona, dengan raut wajah penuh kekecewaan.
"Kalau urusan sepenting ini saja Mas Azka gak peduli! bagaimana dengan yang lainnya? aku yakin, Bu Viona tidak akan bahagia bila menikah dengan Mas Azka."
"Tidak perlu menceramahi aku! aku tahu, kalau dari awal kamu memang tidak mau jika aku menikah dengan Azka. Karena apa?! karena kamu mencintai aku! iya kan?" Viona berdiri kemudian duduk dimeja Edwin.
"Awalnya memang seperti itu, tapi Bu Viona tenang saja! seiring dengan berjalannya waktu, perlahan aku mulai bisa mengubur dalam-dalam semua perasaanku terhadap Bu Viona. Karena aku sadar, sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa membuat Bu Viona membalas perasaanku." Ujar Edwin. "Selain itu, aku juga sudah memutuskan! setelah Bu Viona resmi menjadi istri dari Mas Azka, maka aku juga akan segera menikahi Sindi." Lanjutnya.
Viona terdiam ketika Edwin menyebut nama Sindi. "Entah kenapa aku tidak suka, jika Edwin menyebut-nyebut nama Sindi!" Batinnya. Viona kembali berdiri dari duduknya. "Jadi kamu mau mengantar aku atau tidak? kalau tidak, aku akan pergi sendiri." Ucap Viona dengan muka yang judes.
Edwin mengangguk. "Tentu saja, karena aku juga ingin memastikan keselamatanmu dan juga calon anak kita." Sahut Edwin.
_
__ADS_1
Butik.
"Silahkan mbak, ada yang bisa kami bantu?"
"Aku ingin mencari baju pengantin." Sahut Viona.
"Mari Mbak, saya antar." Salah satu pelayan butik pun mengantar Viona untuk melihat-lihat semua model pakaian pengantin yang ada disana. Pandangan Sindi tertuju pada gaun putih yang terlihat sangat mewah nan indah, karena dihiasi oleh beberapa mutiara.
"Mbak, aku mau coba gaun yang ini dong." Ujar Viona.
"Baik Mbak, tunggu sebentar ya." Pelayan itu membuka gaun dari manekin, lalu mengajak Viona masuk keruang ganti.
"Win, menurutmu gaun ini bagaimana?" Tanyanya.
"Kamu terlihat sangat cantik, dan sangat cocok mengenakan gaun itu." Jawab Edwin, yang masih terpukau dengan kecantikannya. "Aku gak kebayang jika Sindi mengenakan gaun itu juga, pasti Sindi juga akan terlihat sangat cantik." Lanjutnya, namun dalam hati.
Viona tersenyum. "Mbak aku ambil gaun yang ini ya." Seru Viona kepada pelayan.
"Baik Mbak. Mbak mau sewa apa mau-..."
__ADS_1
"Aku mau beli saja Mbak. Biar ada kenang-kenangan juga." Sahut Viona, begitu antusias.
"Oke Mbak. Kalau gitu kita mulai fitting baju Mas nya ya." Ucap pelayan, seraya menoleh kepada Edwin.
"Maaf Mbak, tapi dia itu bukan calon suami aku." Sela Viona.
"Oh jadi gitu ya Mbak, maaf saya tidak tahu! karena saya pikir Mas ini calon mempelai laki-laki nya."
Edwin tersenyum. "Tidak apa-apa Mbak."
Viona menelisik bentuk tubuh Edwin. "Win, tapi postur tubuh kamu kayaknya sama dengan Azka." Ujar Viona.
Edwin menelisik tubuhnya. "Masa si?"
"Iya." Jawab Viona. "Bagaimana kalau kamu wakili Azka saja! biar Mbak ini mengukur tubuh kamu." Pinta Viona.
"Memangnya Bu Viona yakin, kalau pakaian ku dengan Mas Azka seukuran?" Tanya Edwin kurang yakin.
"Yakin 100%." Jawab Viona.
__ADS_1
Akhirnya mereka sepakat mengukur tubuh Edwin, untuk pakaian yang nantinya akan dikenakan Azka dipesta pernikahan antara Azka dengan Viona.