
***
Sindi berjalan menyusuri koridor kantor dengan ciri khas berpakaiannya yang tampak elegan dan seksi. Dia menjadi pusat perhatian karena penampilannya yang berbeda dengan yang lain, padahal dia hanya seorang OG.
"Ck." Umpat Nina, saat melihat Sindi yang baru saja tiba.
"Sin, kamu gak lihat, sudah jam berapa sekarang? kenapa kamu baru datang." Tanya Cika, seorang OG juga.
"Cuma telat dikit doang." Jawab Sindi dengan entengnya.
"Hampir setengah jam, dan kamu bilang sedikit?!" Decak Nina. "Gara-gara kamu datang terlambat, jadi kita yang harus membantu pekerjaan kamu." Desah Nina bernada tinggi.
"Sudahlah Nin, kita maklumi saja dia." Ujar Doni, yang sekilas menoleh kepada Sindi. "Lagi pula, dia juga sudah meminta maaf." Bela Doni, yang membuat Nina semakin geram karena lagi-lagi Doni membelanya.
"Ya gak bisa gitu dong Don! jangan mentang-mentang dia itu sepupunya Mbak Dwi, terus dia bisa seenaknya bertingkah dikantor ini. Lagi pula Mbak Dwi itu hanya sekedar karyawan biasa, apa sikh hebatnya." Ujar Nina.
"Ekh, jaga mulut kamu! jangan bawa-bawa Dwi segala dalam urusan kita." Decak Sindi.
"Sudah cukup!" Sentak Doni, yang membuat Nina dan Cika terkejut, karena tidak biasanya Doni kasar seperti itu.
"Sekarang kalian cepat pergi, dan kerjakan tugas kalian." Ucap Doni kepada Cika dan Nina. Sehingga dengan cepat mereka keluar meninggalkan Doni dan Sindi diruangan itu.
Saat Sindi ingin keluar juga, dengan cepat Doni menghentikannya. "Kamu mau kemana?" Tanya Doni.
"Mengerjakan tugasku." Sahut Sindi.
"Kamu belum mengganti pakaian mu!" Ucap Doni, seraya menelisik penampilan Sindi.
"Oya, aku lupa." Tutur Sindi. "Kalau gitu kamu pergi duluan, nanti aku akan menyusul." Ucap Sindi.
_
Nina dan Cika berjalan memasuki pantry, membuat minuman untuk para staf kantor.
"Ada yang aneh sama sikapnya Doni! menurut kamu mungkin gak sikh, kalau dia itu suka sama Sindi?" Tanya Nina.
"Kok kamu bisa berpikiran seperti itu?" Tanya Cika, lalu duduk dikursi depan Nina.
__ADS_1
"Tadi kamu lihat kan, bagaimana Doni membelanya? dan itu bukan hanya sekali saja! tapi kemarin dia juga belain perempuan l0nte itu." Desis Nina, dengan amarah yang tampak meluap-luap.
"Hati-hati kalau ngomong! kalau wanita itu dengar ucapan kamu, dia bisa ngamuk." Ujar Cika.
"Biarin saja! aku gak takut sama dia. Hanya saja aku kesal, kenapa Doni selalu membelanya." Desah Nina.
"Tapi dia memang cantik sikh..." Gumam Cika.
Nina langsung membelalakkan matanya mendengar ucapan Cika. "Cika please deh... Jangan bilang kalau kamu insecure sama dia?" Tanyanya.
"Tapi, bukankah tadi kamu sendiri yang bilang kalau Doni kayak yang suka sama Sindi!"
Nina tertegun sejenak. "Aku punya ide!" Serunya.
"Ide apa?" Tanya Cika.
"Kita buat, supaya dia gak betah kerja disini! bagaimana menurut kamu?"
"Caranya?" Tanya Cika mengerutkan keningnya.
Nina pun terlihat membisikkan sesuatu kepadanya.
_
Tanpa sepengetahuannya, seorang laki-laki yang usianya sekitar 40 tahunan, sedang berdiri tepat dibelakang, dan mendengarkan keluhannya. Ketika memutar balik badan, Dwi terkejut saat melihat kehadiran pria itu.
"Apa kamu lelah?" Tanya pria itu seraya tersenyum kepada Sindi.
Dwi menelisik penampilan pria itu. "Apa Bapak pemilik ruangan ini?" Tanyanya, yang dibalas oleh anggukkan kecil olehnya. "Mejanya sudah aku bersihkan! kalau Bapak mau bekerja, silahkan!" Lanjut Sindi. Namun saat dia ingin keluar dari ruangan itu, pria itu tiba-tiba memanggilnya.
"Tunggu!"
Sindi menoleh. "Iya Pak?"
"Kamu wanita cantik yang kemarin aku temui didepan kantor kan?" Tanyanya.
Sindi pun samar-samar mengingatnya. "Bapak yang waktu itu keluar dari mobil, lalu tersenyum sama aku kan?"
__ADS_1
"Tepat sekali!" Serunya. "Tapi kenapa kamu mau bekerja sebagai OG? Padahal kamu itu cantik! bahkan sangat cantik." Puji pria itu.
"Aku juga tidak mengerti, kenapa aku ditempatkan sebagai OG." Keluh Sindi.
"Kalau kamu mau, aku bisa menyuruh HRD agar dia menempatkan kamu diposisi yang lebih bagus." Ujarnya.
"Benarkah?" Sindi antusias.
"Tentu saja! tapi dengan syarat, kamu harus memberikan nomer ponselmu padaku." Pintanya.
Sindi tertegun sejenak. "Kalau hanya itu, aku akan memberikannya! tapi kapan Bapak akan meminta HRD untuk memindahkan posisi ku?"
"Secepatnya!" Pria itu pun memberikan ponselnya, dan meminta Sindi untuk mencatat nomernya di ponsel pria itu.
**
Setelah risign dari hotel, Azka mulai berbisnis kuliner. Dan menamakan restorannya 'Dwi Rindu'. Bukan tanpa alasan! dia sengaja mengambil nama itu untuk mengenang sosok perempuan yang selalu dirindukannya. Setelah acara peresmian restoran itu berakhir, semua pengunjung berhak mencicipi semua menu makanan diresto itu dengan cuma-cuma alias gratis.
"Azka, kamu serius ingin memberikan semua menu secara cuma-cuma kepada setiap pengunjung?" Tanya Bu Asmi, seraya menatap kesekeliling resto.
"Aku serius Ma! Lagi pula ini hanya berlaku hari ini saja kok. Setelah mencicipi menu masakan Mama, aku yakin, besok dan seterusnya akan banyak pengunjung yang berdatangan, karena penasaran ingin mencoba resep masakan Mama." Sahut Azka.
Bu Asmi tersenyum mendengar ucapan anak tunggalnya.
"Mama harus ingat! tugas Mama disini hanya mengaping dan mengajarkan kesemua karyawan resep handalan Mama. Mama tidak perlu repot-repot ikut memasak." Tutur Azka menekankan.
"Iya, Mama ingat." Sahut Bu Asmi.
"Azka..." Panggil seseorang dari arah belakangnya.
Azka pun menoleh kebelakang. "Viona." Gumamnya.
Viona berjalan menghampiri Azka dan Mamanya. Tak lupa Viona memberi salam kepada Bu Asmi dan berbasa-basi dengannya.
"Mau apa kamu kemari?" Tanya Azka sedikit ketus.
"Azka, apa kita bisa bicara diluar sebentar?" Tanya Viona.
__ADS_1
Azka menoleh kepada Mamanya.
"Pergilah! urusan resto, biar Mama yang handle." Ujar Bu Asmi.