
Dengan napas yang tak beraturan Edwin mencengkram pergelangan tangan Viona lalu menurunkannya. "Maaf Bu Viona, tidak sepantasnya ibu bersikap seperti ini." Ucap Edwin berupaya mengingatkan.
"Edwin, tolong aku. Tubuhku terasa panas, aku sudah tidak bisa menahannya lagi." Ujar Viona memelas.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Bu Viona?" Tanya Edwin menatap lekat wajah Viona yang sudah tampak tidak berdaya akibat pengaruh obat perang*sang yang dimasukkan seseorang kedalam minumannya.
"Seseorang telah menjebakku." Ujar Viona dengan tangan nakal mengelus-elus bibir Edwin dengan lembutnya.
"Bu Viona ikut aku..." Edwin membawa Viona masuk kedalam bathroom. Edwin menyalakan shower lalu mengguyur kepala Viona, sehingga membuatnya tersentak kaget, tak percaya apa yang dilakukan Edwin terhadapnya.
"Edwin...!" Teriaknya. "Apa yang kamu lakukan?!" Sentak Viona.
"Aku hanya ingin berusaha menghilangkan pengaruh obat yang ada di tubuh Bu Viona." Jelas Edwin seraya terus mengguyurnya.
"Cukup. stop Edwin!" Bentaknya, sehingga membuat Edwin menghentikan aksinya.
Edwin menatap Viona yang tampak menggigil kedinginan akibat ulahnya. "Maaf Bu, aku tidak bermaksud untuk kurang ajar sama Bu Viona." Ucap Edwin merasa sangat bersalah.
Viona merabai tubuhnya yang sudah basah kuyup. Namun pengaruh obat itu masih menjalar ditubuhnya. Orang itu telah memberikan dosis tinggi terhadap Viona, yang kalau tidak segera tersalurkan kemungkinan Viona bisa saja meninggal.
Melihat itu, refleks. Edwin langsung memeluknya.
Viona mendongak keatas menatap wajah Edwin yang sedang menatap seraya memeluknya.
"Edwin, apa kamu mau menolongku?" Tanya Viona menatapnya dengan tatapan kosong.
"Baik. Aku akan membantu Bu Viona." Ucap Edwin. Dia pun menggiring tubuh Viona ketempat tidur dan membaringkan tubuh Viona serta menghimpit tubuhnya.
"Edwin..." Tuturnya.
Edwin meletakkan telunjuknya dibibir Viona. "Maafkan aku Bu Viona." Ucap Edwin lalu menyambar ranum bibirnya. Bibir Edwin disambut hangat oleh Viona yang langsung membalas ciumannya. Tangan Edwin mulai nakal menyusuri bagian sensitif Viona dan dan mengelusnya.
"Aahhh..." Viona mulai mendesah saat tangan Edwin mulai masuk kedalam rok mininya dan mengusap-usap pang*kal pahanya. Diapun menarik tengkuk Edwin dan menenggelamkan wajahnya diantara kedua gunung kembarnya.
__ADS_1
Melihat ekspresi Viona seperti itu membuat Edwin semakin bersemangat untuk menjajal tubuhnya. Edwin melucuti semua pakaian yang dikenakan Viona, sehingga tak tersisa sehelai kain benangpun yang menutupi tubuhnya.
Viona membusungkan dadanya, sadar akan hal itu dengan cepat Edwin langsung menyantap salah satu Puti*ng gunung kembarnya. Tak sampai disitu, tangannya pun mulai aktif bermain-main didalam area inti Viona dan menggerakkannya dengan gerakan maju mundur.
"Aaaahhh... Edwin... Ohh..." Viona semakin tak kuasa mendapatkan perlakuan itu dari Edwin terhadap tubuhnya. Kini tubuhnya semakin meremang bak tersengat aliran listrik.
Edwin semakin menggila saat mendengar suara desah*an yang keluar dari mulut Viona yang terdengar begitu seksi. Juniornya pun semakin menegang keras, meminta untuk segera dimasukkan kedalam lubang inti milik anak dari atasannya. "Maafkan aku Bu Viona." Ucap Edwin lalu menancapkan juniornya tepat di lubang inti Viona.
"Aakhhh..." Viona meringis kesakitan saat benda tumpul itu mencoba menerobos masuk kedalam dinding pertahanannya. "Pelan-pelan win... Aaaahhh...." Antara sakit dan nikmat yang dirasakan oleh Viona saat ini. Selama ini dia belum pernah merasakan kenikmatan yang luar biasa seperti ini. walaupun terasa sakit di area pang*kal pahanya, tapi dia tidak ingin Edwin menghentikan aksinya.
Disela-sela aksinya, Edwin sedikit terkejut saat mengetahui kalau ternyata seorang Viona masih perawan, di balik penampilannya yang selalu berpakaian seksi dan menggoda para lelaki yang melihatnya. "Tak ku sangka! ternyata Bu Viona masih Vir*gin." Batin Edwin yang masih berpacu kuda diatas tubuh Viona.
Viona mengalungkan kedua tangannya dileher Edwin. Dia merasakan sesuatu yang berdesak-desakan akan keluar dari tubuhnya. Tak lama kemudian keduanya mengerang panjang dengan peluh yang mengucur membasahi sekujur tubuh mereka.
Entah beberapa ronde mereka melakukannya, karena yang jelas Viona dan Edwin melakukannya lebih dari satu kali.
***
Nenek Dwi menggosokkan minyak angin ketengkuk Dwi saat melihatnya muntah-muntah di wastafel.
"Sebaiknya kamu jangan keseringan minum sembarang obat. Nenek takut kalau kamu itu bukan hanya sekedar masuk angin." Ujar Nenek.
"Maksud Nenek?" Tanya Dwi dengan raut wajah yang tampak pucat.
"Nenek takut kamu hamil, dan itu bisa membahayakan janin yang ada didalam kandungan kamu." Ujarnya.
"Tidak mungkin Nek! aku ini sudah bercerai dengan Azka, jadi tidak mungkin aku hamil." Ucap Dwi.
"Tapi kalian bercerai baru satu bulan yang lalu. Bisa saja kamu mengandung anak Azka saat rumah tangga kalian masih baik-baik saja." Ujar Neneknya, terlebih saat melihat perubahan postur tubuh Dwi yang sedikit berubah.
Dwi tertegun mendengar ucapan Neneknya. Terlebih dia juga tidak kedatangan tamu bulanan sejak dua bulan terakhir.
"Mudah-mudahan saja itu tidak benar." Ujar Dwi, menepis prasangka nya. "Mungkin aku hanya masuk angin saja, aku tidak mungkin hamil." Lanjutnya.
__ADS_1
"Saran Nenek, sebaiknya kamu periksakan diri ke dokter! kalau perlu Nenek yang akan mengantar kamu ke klinik." Ucap Neneknya.
"Nanti aku pikir-pikir dulu ya Nek." Pungkasnya. Dwi pun masuk kedalam kamarnya.
Dwi duduk ditepi ranjang. Saat merasa mual, dia mengambil obat dilaci lalu hendak meminumnya, tapi tiba-tiba dia mengurungkannya. "Apa iya aku hamil?" Batinnya. Diapun kembali meletakkan obat itu pada tempatnya. "Kalau aku beneran hamil, bagaimana? aku bahkan sudah resmi bercerai dengan Azka." Lanjutnya.
**
Azka berdiam diri diatas balkon rumah orangtuanya. Semenjak bercerai dengan Dwi, dia memutuskan untuk kembali tinggal bersama kedua orangtuanya. Karena kalau dia tinggal di apartemen, bayang-bayang Dwi selalu mengganggunya. "Dwi, sedang apa kamu sekarang?" Gumamnya. Menatap keatas langit yang bertabur bintang kelap-kelip menyinari indahnya malam.
"Azka..." Bu Asmi menghampirinya.
"Iya Ma?" Azka menoleh.
"Kenapa kamu belum tidur?" Tanyanya. Penuh kekhawatiran melihat anaknya yang semakin hari terlihat murung.
Azka tertunduk, tak menjawab pertanyaan Mamanya.
"Apa kamu merindukan Dwi?" Tanya Bu Asmi. "Atau kamu sedang merindukan almarhumah Nadia istri pertama kamu?" Lanjutnya.
"Merindukan seseorang yang sudah tiada, dan ingin bertemu dengannya lagi adalah sesuatu yang mustahil." Ucap Azka.
"Lalu, kenapa kamu belum bisa move on juga dari Nadia?" Tanya Bu Asmi.
"Aku bukan sedang memikirkan Nadia Ma." Ucap Azka.
"Apa kamu sedang memikirkan Dwi?" Tanyanya lagi Bu Asmi.
"Tak ku sangka, berpisah dengan Dwi rasanya akan sesakit ini! padahal aku bisa saja menemuinya jika aku mau." Ujar Azka.
"Lalu kenapa kamu tidak melakukannya?" Tanya Bu Asmi. "Saran Mama, jika kamu memang masih sangat mencintainya, sebaiknya kamu perjuangkan perasaan kamu itu terhadap Dwi." Lanjutnya.
Azka tertegun mendengar ucapan Mama nya.
__ADS_1