Duda Tampan Haus Belaian

Duda Tampan Haus Belaian
DTHB 91


__ADS_3

...PT. Prima grup....


Sindi Memarkirkan mobilnya ditempat parkiran perusahaan. Semua pandangan tertuju padanya saat pertama kali dia keluar dari mobil menggunakan hils warna hitam pekat, dan mengenakan kemeja putih polos dengan belahan dadanya yang sedikit terbuka, serta celana span pendek berwarna hitam atas lutut membuat kaki jenjangnya yang putih mulus terekspos sempurna. Entah kenapa penampilan Sindi memiliki nilai plus tersendiri bagi sebagian laki-laki yang bekerja diperusahaan itu. Terlebih sikap Sindi yang sedikit genit sehingga membuat para lelaki dikantornya seakan diberikan lampu hijau untuk bisa mendapatkannya.


Seperti biasa mulut julid Nina dan Cika pun komat-kamit berkomentar saat Sindi melewati keduanya. Namun apa peduli Sindi! Jangankan untuk merespon, melihat wajah kedua wanita yang sekarang seakan sudah menjadi musuh bebuyutannya pun dia tak sudi.


"Sindi." Panggil Doni, lalu berjalan menghampirinya. "Kamu baru datang?" Tanyanya setelah mendekat.


Sindi mengangguk. "Doni. Ada apa?" Tanyanya, setelah memutar badan melihat wajah Doni yang ada dibelakangnya.


"Sin kamu tahu gak, kalau-..." Ketika Doni ingin mengatakan sesuatu, tiba-tiba dia dipanggil oleh staf wanita dan meminta dia untuk membersihkan ruangannya. "Sin, aku pergi dulu ya." Lanjut Doni, lalu berjalan meninggalkan Sindi.


"Si Doni tadi mau ngomong apa ya?" Gumam Sindi menatap punggung Doni yang pergi meninggalkannya. Dia menangkap kedua pundaknya keatas seraya mengerucutkan bibirnya, lalu berjalan masuk kedalam ruangan Pak Farhan.


Tanpa mengetuk pintu dahulu Sindi langsung menyelonong masuk kedalam ruangan CEO. Indra yang saat itu sedang berdiri dibalik pintu pun terdorong olehnya hingga refleks tak sengaja mencium pipi kiri Erick yang kala itu sedang berdiri didepan Indra.

__ADS_1


Sindi terkejut bukan main melihat pemandangan yang tidak biasa didepan mata kepalanya. "Pak Indra!" Seru Sindi menutup mulutnya.


Erick mendorong tubuh Indra agar menjauhinya. Lalu menatap tajam kearah Sindi yang sedang berdiri diambang pintu dengan wajah yang tampak syok. "Kamu punya etika gak, ketika masuk kedalam ruangan atasan!" Sentak Erick. "Apa kau tidak punya sopan santun?" Bentaknya.


"Ma-maaf Pak." Ucap Sindi. "Kalau begitu, silahkan dilanjutkan!" Lanjutnya lalu keluar dari ruang CEO. Seketika ucapan Sindi membuat Erick dan Indra saling bertatapan, namun sesaat kemudian mereka mengernyitkan dahi masing-masing.


"Maaf Pak, saya tidak sengaja." Ujar Indra sekretarisnya Erick, seraya menundukkan kepala.


Erick menghela nafas lalu membuangnya. "Tunggu!" Ujar Erick. "Tadi itu OG yang selalu bersikap kurang ajar bukan?!" Lanjutnya samar-samar mengingat wajah Sindi yang menurutnya tidak penting untuk diingat.


"Kenapa dia berpakaian seperti itu?" Tanya Erick yang belum mengetahui kalau Pak Farhan sudah menaikkan posisi Sindi menjadi sekretaris pribadinya. Pasalnya, semalam Erick baru saja tiba di Indonesia dan sengaja tidak memberitahukan kedatangannya kepada Pak Farhan, karena ingin melihat cara kinerja Pak Farhan seperti apa selama Erick tidak ada.


"Ada yang tidak beres!" Gumam Indra. "Pak, apa saya boleh keluar untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi disini?" Tanyanya.


"Ya. Pergilah!" Sahut Erick. Dia pun duduk dimeja kerjanya, mengamati satu persatu tumpukan proposal yang ada dimeja nya.

__ADS_1


Sepanjang jalan Sindi terus menggerutu. "Sial! kenapa cepat sekali orang angkuh itu kembali ke Indonesia." Rutuknya. "Kenapa gak tiga sampai empat tahunan lagi dia tinggal di luar negeri." Lanjutnya. Sindi berhenti tepat dipintu ruangannya, kemudian menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal setelah membayangkan kejadian tadi, dimana saat Indra mencium pipi Erick. "tapi mereka tadi?! jangan-jangan mereka h*mo!" Seru Sindi seraya mangap namun dihalangi oleh tangan kanannya.


"H*mo!" Tutur Yola yang tidak sengaja mendengar gumaman Sindi. "Siapa yang h*mo?" Tanyanya seraya mendekati Sindi.


"Yola!" Seru Sindi. "Oya, aku ingin bertanya sejak kapan Pak Erick kembali ke kantor?" Tanyanya mencari tahu.


"Baru hari ini." Jawabnya. "Kamu sudah bertemu dengan beliau?" Tanya Yola, yang dibalas anggukan oleh Sindi. "Kalau Pak Erick sudah kembali, kemungkinan kamu akan kembali keposisi awal, dimana saat kamu menjadi OG." Lanjutnya.


"Pak Farhan tidak mungkin membiarkan aku kembali menjadi OG, karena sekarang dia sudah menjamin posisiku." Sahut Sindi penuh keyakinan.


"Tapi orang yang paling berkuasa disini itu Pak Erick!" Tutur Yola. "Dan aku yakin, kalau Pak Erick itu tidak pernah menyukai kinerja kamu diperusahaannya, ini." Lanjutnya.


"Gak usah sok tahu!" Desis Sindi yang tersinggung dengan ucapan Yola. "Bukan hanya Pak Erick. Aku tahu, dari awal kamu juga tidak pernah menyukaiku! kamu hanya berpura-pura baik didepan Dwi." Desahnya.


"Aku bicara baik-baik, kenapa kamu nyolot!" Cercah Yola yang tak terima dengan tuduhannya.

__ADS_1


"Kamu pikir aku tidak tahu?! aku dapat melihatnya dari sorot mata kamu! ketika kamu mengatakan A tapi terlihat jelas bahwa hati kamu mengatakan B." Ujar Sindi. Tak ingin memperpanjang masalah akhirnya Sindi segera masuk kedalam ruangannya.


__ADS_2